Jawa Pos Radar Lawu - Pakistan dilaporkan mengerahkan sekitar 8.000 personel militer ke Arab Saudi, lengkap dengan jet tempur, drone, dan sistem pertahanan udara.
Langkah ini memicu perhatian global karena terjadi di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait Iran.
Berdasarkan laporan eksklusif Reuters yang dikonfirmasi sejumlah pejabat keamanan dan sumber pemerintah, pengerahan tersebut mencakup satu skuadron jet tempur JF-17, dua skuadron drone, serta sistem pertahanan udara HQ-9 buatan China.
Seluruh peralatan dioperasikan langsung oleh personel militer Pakistan.
Pengerahan Berdasarkan Pakta Pertahanan Rahasia
Langkah ini disebut sebagai bagian dari implementasi pakta pertahanan bersama antara Pakistan dan Arab Saudi yang ditandatangani pada tahun lalu.
Meski detailnya belum dipublikasikan secara resmi, sumber pemerintah menyebutkan bahwa perjanjian tersebut memungkinkan pengerahan hingga 80.000 pasukan Pakistan untuk membantu menjaga keamanan wilayah Saudi.
Perjanjian itu juga mengatur kewajiban saling membela jika salah satu pihak diserang.
Bahkan, dalam wawancara sebelumnya, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Mohammad Asif mengindikasikan bahwa kemampuan nuklir Pakistan dapat “tersedia” bagi Arab Saudi dalam kondisi tertentu.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp17.658, Benarkah Harga BBM dan LPG 3 Kg Akan Naik? Ini Penjelasan ESDM
Peran Pakistan dalam Konflik Iran
Pengerahan ini terjadi saat Pakistan memainkan peran strategis sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan Iran.
Islamabad sebelumnya berhasil menengahi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama enam minggu, serta menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara kedua pihak.
Langkah terbaru ini juga berkaitan dengan meningkatnya ancaman terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi yang sebelumnya dikaitkan dengan Iran.
Fokus pada Pelatihan dan Dukungan Militer
Meski jumlah pasukan cukup besar, dua pejabat keamanan menyebutkan bahwa sebagian besar personel yang dikerahkan akan menjalankan peran sebagai penasihat dan pelatih militer, bukan untuk operasi tempur langsung.
Pakistan sendiri telah lama menjalin kerja sama militer erat dengan Arab Saudi, termasuk dalam bentuk pelatihan pasukan dan penempatan penasihat militer.
Sebaliknya, Arab Saudi kerap memberikan dukungan finansial kepada Pakistan saat menghadapi tekanan ekonomi.
Baca Juga: Idul Adha 2026 Ditetapkan 27 Mei, Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU Kompak Lebaran Haji Bersamaan
Minim Tanggapan Resmi
Hingga saat ini, pihak militer dan Kementerian Luar Negeri Pakistan belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Hal serupa juga terjadi pada otoritas Arab Saudi yang belum merespons permintaan konfirmasi media.
Situasi ini menambah spekulasi mengenai eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperkuat posisi Pakistan sebagai pemain kunci dalam dinamika konflik regional.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani