Jawa Pos Radar Lawu - Kasus dugaan perundungan kembali mencoreng dunia pendidikan Indonesia.
Kali ini menimpa MH (13), siswa SMP Negeri 19 Kota Tangerang Selatan, Banten, yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami tindakan kekerasan dari teman sebangkunya.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada 20 Oktober 2025 saat jam istirahat sekolah. Menurut keterangan Rizky Fauzi (29), kakak sepupu korban, MH dipukul menggunakan kursi besi oleh temannya sendiri.
Pukulan keras di kepala membuat MH mengalami gangguan penglihatan hingga kelumpuhan sebagian tubuh.
“Sejak tanggal 21 Oktober matanya mulai rabun, lalu badannya lemas dan sulit digerakkan,” ungkap Fauzi saat ditemui di kediaman korban, Senin (10/11/2025).
Keluarga korban sempat melakukan mediasi dengan pihak keluarga pelaku sehari setelah kejadian.
Dalam pertemuan yang difasilitasi sekolah itu, keluarga pelaku berjanji akan menanggung seluruh biaya pengobatan MH.
Namun, janji itu tak bertahan lama. Saat korban dirujuk ke RSUP Fatmawati, pihak pelaku disebut lepas tangan dan tidak lagi membantu biaya perawatan.
“Mereka malah menyarankan kami mencari pinjaman uang sendiri,” keluh Fauzi.
Ibu korban, Ny (36), mengaku anaknya sudah menjadi korban perundungan sejak masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
MH disebut sering dipukul dan dirundung oleh pelaku yang sama, namun tidak pernah berani bercerita.
“Baru setelah saya tanya, dia bilang kepalanya dipukul pakai kursi. Saya curiga karena dia jalan nabrak-nabrak terus,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ny berharap pihak pelaku bertanggung jawab penuh atas kondisi anaknya yang kini harus menjalani perawatan lanjutan.
Ia juga menyesalkan sikap sekolah yang dinilai tidak memberikan perhatian cukup terhadap kasus ini.
“Sekolah seolah lepas tangan, malah nyuruh kami yang mengurus semuanya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Deden Deni, mengatakan pihaknya telah memfasilitasi mediasi antara kedua pihak.
Ia menegaskan bahwa penanganan utama saat ini difokuskan pada pemulihan kondisi MH.
“Kami masih menelusuri kronologi lengkapnya. Ada kemungkinan kejadian ini bermula dari candaan, tapi kami belum bisa memastikan,” ujar Deden.
Deden juga menambahkan bahwa baik korban maupun pelaku kini mendapatkan pendampingan psikologis.
"Anak pelaku juga mengalami tekanan psikis setelah kasus ini viral. Jadi dua-duanya kami dampingi agar sama-sama bisa pulih,” jelasnya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Pemerintah dan pihak sekolah diharapkan tidak menyepelekan tindakan kekerasan sekecil apa pun agar tragedi serupa tidak kembali terulang. (*)
Editor : Riana M.