Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Dari Tanah Angker, Kini Melahirkan Ribuan Ulama: Kisah KH Abdul Karim di Balik Sejarah Berdirinya Pondok Lirboyo

Oktaviani Sindy • Rabu, 15 Oktober 2025 | 01:13 WIB
Bangunan Masjid Lawang Songo dan kompleks Pondok Lirboyo, saksi sejarah perjuangan KH Abdul Karim membangun peradaban Islam di Kediri.
Bangunan Masjid Lawang Songo dan kompleks Pondok Lirboyo, saksi sejarah perjuangan KH Abdul Karim membangun peradaban Islam di Kediri.

Jawa Pos Radar Lawu – Tak banyak yang tahu, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri yang kini melahirkan ribuan ulama besar, dulu berdiri di tanah yang dianggap “angker” dan terpencil.

Semua berubah berkat tekad seorang ulama bernama KH Abdul Karim, yang datang membawa cahaya ilmu dan keberkahan sejak tahun 1910.

Nama KH Abdul Karim tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Beliau lahir pada tahun 1856 di Magelang, Jawa Tengah, dari keluarga religius pasangan Kyai Abdur Rahim dan Nyai Salamah.

Sejak muda, Abdul Karim dikenal haus ilmu, dimana ia menimba pengetahuan agama dari berbagai pesantren besar: mulai dari Trayang Kertosono, Sono Sidoarjo, hingga Pesantren Bangkalan di bawah bimbingan Syaikhona Kholil, ulama legendaris Madura.

Tak berhenti di situ, ia juga sempat berguru di Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan oleh pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus penjuang kemerdekaan RI yakni KH Hasyim Asy’ari.

Perjalanan panjang itu menempanya menjadi sosok yang alim dan rendah hati.

Usai menikah dengan Siti Khodijah binti KH Sholeh Banjarmelati, Abdul Karim mendapat amanah dari sang mertua untuk menetap dan berdakwah di sebuah desa terpencil bernama Lirboyo, wilayah Mojoroto, Kediri, Jawa Timur.

Namun, langkah Amanah yang diembanya itu tidaklah mudah. Banyak masyarakat kala itu menganggap Lirboyo sebagai desa “angker” dan rawan kejahatan. Tak banyak yang berani menetap di sana.

Dengan keberanian tekad, justru di tempat itulah KH Abdul Karim mendirikan surau kecil yang kelak menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Lirboyo.

Dari surau sederhana, beliau mulai mengajar tafsir, fikih, dan tauhid kepada warga sekitar. Santri pertama yang datang adalah Umar, pemuda asal Madiun.

Tak lama, santri dari berbagai daerah berdatangan hingga jumlahnya terus bertambah. Pada tahun 1913, pondok yang diberi nama Lirboyo resmi berdiri dengan membangun Masjid Lawang Songo.

Sebagai simbol perjuangan spiritual dimana makna dari sembilan pintu sebagai lambang arah dakwah Islam.

Pondok Lirboyo perlahan menjelma menjadi pusat keilmuan salaf yang kuat.

Di masa-masa menjelang kemerdekaan, banyak santri Lirboyo ikut berjuang dalam pertempuran 10 November di Surabaya, membawa semangat jihad fi sabilillah.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, Lirboyo bukan sekadar pesantren, melainkan kawah candradimuka ulama Nusantara. Berbagai lembaga pendidikan berdiri di bawah naungan pondok ini dari Madrasah Hidayatul Mubtadiin hingga cabang-cabang pesantren di berbagai daerah.

Pameran sejarah 115 tahun Pondok Lirboyo baru-baru ini juga memamerkan peninggalan KH Abdul Karim: imamah (sorban) beliau, kitab kuno, beduk pertama pondok, dan catatan absensi santri generasi awal.

Semua menjadi bukti hidup bahwa perjalanan Lirboyo dibangun dengan kesabaran dan keikhlasan.

Selanjutnya, KH Abdul Karim wafat pada tahun 1954 dan dimakamkan tepat di kompleks Masjid Lirboyo.

Namun, warisan perjuangan dan ilmunya terus mengalir melalui ribuan santri dan alumni yang kini tersebar di seluruh Indonesia.

Siapa sangka tanah yang dulu sepi dan dianggap angker, kini Pondok Lirboyo berdiri gagah sebagai mercusuar ilmu Islam klasik.

Sebuah bukti sejarah bahwa ketika niat tulus disertai ilmu dan keberanian, bahkan tanah terpencil pun bisa berubah menjadi pusat peradaban. (okta) 

Editor : Riana M.
#desa angker #ulama #pondok pesantren #tagar #pondok lirboyo #Boikot trans7 #rawan kejahatan #santri #KH Abdul Karim