Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kronologi Kebakaran Kendari Tewaskan 3 Balita: Rumah Dilalap Api Saat Ibu Pergi, Warga Berduka

Indi Wardani • Kamis, 8 Mei 2025 | 16:45 WIB
Kebakaran di Kendari, petugas damkar lakukan peyisiran
Kebakaran di Kendari, petugas damkar lakukan peyisiran

Jawa Pos Radar Lawu — Suasana duka menyelimuti warga Jalan Raden Suprapto, Kelurahan Punggolaka, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, setelah kebakaran hebat menewaskan tiga balita kakak beradik.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada Selasa siang (6/5/2025) dan menjadi perbincangan luas di media sosial serta masyarakat luas karena menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam.

Kronologi Kebakaran

Kebakaran terjadi sekitar pukul 14.21 WITA. Saat kejadian, keempat balita yang berusia antara 1 hingga 4 tahun berada sendirian di rumah semi permanen milik orang tua mereka.

Ibu mereka, seorang perempuan muda berusia 23 tahun, saat itu sedang pergi keluar rumah.

Dari informasi yang beredar, ia pergi bersama seorang pria yang disebut sebagai kekasihnya dengan alasan membeli makanan.

Mereka meninggalkan rumah sekitar pukul 11.00 WITA dan kembali beberapa jam kemudian saat rumah sudah terbakar habis.

Api melahap rumah dengan cepat, diduga karena material bangunan yang mudah terbakar dan cuaca panas yang mendukung penyebaran api.

Warga yang melihat kepulan asap dari kejauhan berusaha memadamkan api dengan alat seadanya sambil mencoba menyelamatkan anak-anak yang masih terperangkap di dalam.

ZK (1 tahun) dan NJ (2 tahun) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lokasi.

NW (2 tahun) dan SN (4 tahun) berhasil dikeluarkan dari rumah yang terbakar, namun NW kemudian meninggal dunia pada Rabu (7/5) sore akibat luka bakar serius di tubuhnya.

Sementara itu, SN masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Dugaan Penyebab dan Penyelidikan Polisi

Penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian dan tim pemadam kebakaran.

Namun dari keterangan awal warga, rumah tersebut sudah beberapa kali mengalami masalah pada jaringan listriknya, terutama di bagian meteran yang sering mengeluarkan percikan api.

Tidak menutup kemungkinan korsleting listrik menjadi penyebab utama, meskipun semua temuan masih harus dikonfirmasi melalui uji laboratorium forensik.

Kapolsek Mandonga menyatakan bahwa pihaknya telah memintai keterangan dari ibu korban, kekasihnya, serta sejumlah saksi mata di sekitar lokasi. Polisi juga telah memasang garis polisi di area rumah untuk keperluan penyelidikan lanjutan.

Duka Mendalam dan Realita Sosial

Lebih dari sekadar bencana rumah tangga, peristiwa ini membuka mata banyak pihak tentang realita yang dihadapi oleh keluarga muda dengan tekanan ekonomi, sosial, dan psikologis.

Sang ibu diketahui merupakan janda muda dengan empat anak balita yang diasuh seorang diri.

Situasi ini menambah kompleksitas dalam pengambilan keputusan, termasuk saat harus meninggalkan rumah demi mencari kebutuhan sehari-hari.

Namun terlepas dari semua tekanan itu, banyak pihak menyesalkan keputusan meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan orang dewasa, terlebih anak-anak tersebut masih dalam usia sangat rentan.

Ini menjadi pembelajaran bahwa tidak ada alasan yang cukup kuat untuk mengabaikan keselamatan anak, meski dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Tragedi ini pun mengundang reaksi luas dari masyarakat. Banyak netizen menyuarakan keprihatinan atas lemahnya sistem pengawasan terhadap anak-anak di lingkungan padat penduduk.

Beberapa aktivis sosial mendorong agar kasus ini dijadikan momentum untuk memperkuat sistem perlindungan anak berbasis komunitas.

Pentingnya Kesadaran Kolektif

Baca Juga: GTA 6 Kembali Mengguncang! Trailer Kedua Bocorkan Aksi Gila Jason dan Lucia di Vice City

Tragedi di Kendari menyentuh titik kritis bagaimana masyarakat memaknai tanggung jawab terhadap anak-anak.

Perlu ada sinergi antara orang tua, tetangga, tokoh masyarakat, dan pemerintah setempat dalam membangun sistem pengawasan sosial yang lebih baik.

Bila sistem sosial berjalan, tetangga akan lebih cepat sadar dan bertindak saat melihat anak-anak kecil ditinggal sendirian.

Selain itu, edukasi mengenai keamanan rumah tangga, penggunaan listrik yang aman, dan bahaya meninggalkan anak tanpa pendamping harus lebih gencar disosialisasikan, terutama di kawasan padat dan berisiko tinggi.

Tiga nyawa kecil telah hilang. Mereka menjadi korban dari kelalaian dan sistem yang belum cukup kuat melindungi anak-anak di rumah sendiri.

Kendari berduka, Indonesia berduka semoga ini menjadi pelajaran dan langkah awal untuk mencegah tragedi serupa terjadi lagi. (*)

Editor : Riana M.
#kebakaran #kendari #balita