Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Puluhan Jemaah Tarekat Syattariyah di Magetan Salat Idul Fitri 2025 Hari Selasa, Ini Penjelasannya

Aprilita Sari • Rabu, 2 April 2025 | 03:39 WIB

 

Jemaah Tarekat Syattariyah di Kabupaten Magetan merayakan Idul Fitri Selasa, 1 April 2025.
Jemaah Tarekat Syattariyah di Kabupaten Magetan merayakan Idul Fitri Selasa, 1 April 2025.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Puluhan jemaah Tarekat Syattariyah di Kabupaten Magetan menggelar salat Idul Fitri 1446 Hijriah lebih dulu, tepatnya pada Selasa pagi, 1 April 2025.

Pelaksanaan salat Ied itu berlangsung khusyuk di Masjid Al Muttaqin, Dukuh Bendo, Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, sejak pukul 06.45 WIB.

Seperti biasa, lantunan takbir menggema selepas salat Subuh sebagai tanda tibanya 1 Syawal versi kalender hisab khas Tarekat Syattariyah.

Di masjid tersebut, sekitar 60 jemaah terdiri dari laki-laki dan perempuan mengikuti salat Ied. Sementara ratusan jemaah lainnya tersebar di sejumlah titik lainnya di Magetan.

Penentuan 1 Syawal Berdasarkan Kalender Windu

Khatib Salat Ied, Darno, menjelaskan bahwa penentuan hari raya Idul Fitri oleh Tarekat Syattariyah mengacu pada sistem penanggalan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sistem tersebut berbasis perhitungan windu, yakni delapan tahun dalam satu siklus, dengan pembagian tahun Alif, Ha, Jim Awal, Za/Je, Dal, Ba/Be, Wawu, dan Jim Akhir.

“Setiap tahun punya pasaran dan hari pertama berbeda. Tahun ini masuk tahun Za atau Je, dan 1 Muharram-nya jatuh pada Selasa Pahing. Berdasarkan hitungan kami, maka Idul Fitri jatuh pada Selasa Pon,” jelasnya.

Ia menyebut bahwa metode ini sudah digunakan secara konsisten sejak dulu oleh para pengikut Tarekat Syattariyah.

Perbedaan dengan Pemerintah Dianggap Lumrah

Meski berbeda sehari dengan pemerintah yang menetapkan Idul Fitri pada Senin (31/3/2025), para jemaah tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut.

“Ini bukan hal baru bagi kami. Yang penting tetap menjaga hubungan baik dengan Allah (habluminallah) dan sesama manusia (hablumminannas),” ujarnya.

Suasana Hangat di Musala Al-Muslimun, Tapen

Selain di Masjid Al Muttaqin, perayaan Idul Fitri juga berlangsung di Musala Al-Muslimun, Desa Tapen, Kecamatan Lembeyan.

Di sana, puluhan jemaah turut melaksanakan salat Ied.

Usai ibadah, mereka menyantap hidangan khas Lebaran bersama-sama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Tokoh Tarekat Syattariyah di Tapen, Jarkasi, mengatakan perbedaan penetapan hari raya dengan pemerintah pusat sudah menjadi hal biasa dalam komunitas mereka.

“Seumur hidup saya, belum pernah merayakan Idul Fitri bersamaan dengan pemerintah. Tapi itu bukan masalah besar. Yang penting tetap menjaga persaudaraan antar sesama muslim,” tegasnya. (kid)

 

 

Editor : Nur Wachid
#tarekat syattariah #salat ied #magetan #salat idul fitri