Jawa Pos Radar Lawu - Isu dugaan penggelapan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SMk Avicena Tenjo Bogor, Jawa Barat menjadi viral di media sosial setelah unggahan kunjungan pemilik akun @nenden_ayuuuu pada 31 Januari 2025 yang lalu.
Dalam beberapa unggahan videonya menyebutkan bahwa sejak tahun 2020 hingga 2022, dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah tidak sampai ke siswa.
Terdapat penemuan lain yang mana menyatakan bahwa penerima dana Program Indonesia Pintar (PIP) adalah siswa yatim, sehingga dana tersebut digunakan untuk membiayai SPP para siswa tersebut.
Namun pada kenyataannya, SMK Avicena Bogor membebaskan SPP dan biaya lainnya kepada siswa yang tidak memiliki ayah (gratis SPP untuk anak yatim).
Selain itu terdapat penemuan lain yang menyatakan bahwa jika terdapat 10 siswa yang berhak menerima dana Program Indonesia Pintar (PIP), terdapat satu siwa yang tidak menerima dana bantuan tersebut.
@nenden_ayuuuu mengunggah video tanggapan dari sekolah dalam kunjungannya ke SMK Avicena Tenjo Bogor, yang mana salah seorang guru memberikan pernyataan mengejutkan.
Dalam unggahan terbarunya, Sabtu (1/2), video merekam dua orang guru yang mencoba melakukan pembelaan tidakan dugaan penggelapan dana Program Indonesia Pintar (PIP) tersebut.
Guru menyatakan bahwa di lapangan, banyak wali murid yang tidak memberikan kewajibannya seperti SPP apabila PIP diberikan langsung kepada siswa, sedangkan dari posisinya sebagai seorang guru di sekolah swasta hanya mendapatkan gaji yang tidak seberapa.
“Misal sekolah itu rugi, siapa yang akan menanggung bayaran yang tertunda? ” jelas guru tersebut.
Ia melanjutkan jika sekolah mengalami kerugian besar, hal tersebut akan memberikan dampak kepada guru-guru yaitu pengangguran.
“apakah aktivis seperti mbak bisa menanggung kerugian sekolah?” lanjutnya.
Pernyataan tersebut tentu langsung di geruduk netizen.
Ucapan tersebut dinilai tidak mencerminkan seorang guru yang seharusnya.
Perihal urusan gaji guru yang telat, seharusnya sudah menjadi urusan antara guru dengan yayasan, bukan lagi perihal dengan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang seharusnya diserahkan ke siswa.
Pernyataan tersebut akhirnya memunculkan spekulasi baru di masyarakat, jangan-jangan dana Program Indonesia Pintar (PIP) yang tidak tersalurkan itu malah dimakan guru-guru yang gajinya telat?
Melalui caption, pemilik akun juga menuliskan bahwa pada enam tahun terakhir, total bantuan dana BOS yang tersalurkan ke sekolah mencapai 7,6 Miliar rupiah, sehingga mempertanyakan bagaimana sekolah bisa merugi. (*)
Editor : Riana M.