NGAWI, Jawa Pos Radar Lawu – Niat Saljum berburu belut berujung petaka. Pria 41 tahun warga Desa Klitik, Geneng, itu ditemukan tak bernyawa di area persawahan desa setempat, Minggu (19/1).
Diduga, Saljum kena setrum jebakan tikus beraliran listrik di sawah tempatnya mencari belut.
Diketahui, korban manusia akibat jebakan tikus listrik di Ngawi itu bukan yang pertama. Beberapa insiden serupa juga pernah terjadi sebelumnya.
Jasad Saljum ditemukan pertama kali oleh Muh Badrudin, 60, warga Desa Beran, Ngawi.
Semula, Badrudin hendak mengecek bibit padi.
Pun, sekaligus mematikan aliran listrik pada jebakan tikus yang dipasang di sawahnya.
“Korban sudah tergeletak di sawah yang saya garap,” kata Badrudin.
Mata Badrudin mendapati jasad korban telentang.
Beberapa peralatan mencari belut ada di sekitarnya.
"Senter yang masih menempel di kepala. Saya langsung lapor polisi," terang Badrudin.
Polisi yang tiba di lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Jasad korban dievakuasi lantas dibawa ke RSUD Dr. Soeroto Ngawi untuk dilakukan visum.
‘’Penyebab kematian masih kami selidiki,’’ kata Kapolsek Geneng AKP Haris Sunarto.
Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan beberapa barang bukti.
Seperti, kawat sebagai media penghantar listrik di jebakan tikus, peralatan mencari belut, dan senter kepala milik korban.
"Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk menelusuri pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan jebakan listrik tersebut," ungkap kapolsek.
Dia menekankan, kejadian seorang pencari belut yang tewas diduga karena kesetrum jebakan tikus beraliran listrik di Ngawi itu menjadi peringatan serius bagi masyarakat, terutama petani.
Bahwa, penggunaan jebakan tikus beraliran listrik sangat berbahaya.
“Membahayakan diri sendiri dan orang lain," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Deni Kurniawan