PACITAN, Jawa Pos Radar Lawu - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali muncul di Pacitan sejak akhir Desember lalu.
Imbasnya mulai dirasakan oleh peternak sapi dengan penurunan penjualan hingga harga jual anjlok signifikan.
Bonandi peternak asal tulakan menyebut jika turunnya harga bisa mencapai jutaan rupiah. Paling tinggi bisa turun hingga Rp 2 juta per ekornya.
Tak hanya peternak yang mengeluh, tetapi juga pedagang sapi di Pasar Pon Pacitan.
Lardi salah satunya, dia menyebut sejak wabah PMK menyebar belum lama ini kondisi pasar ternak di Pacitan kehilangan pembeli.
Pedagang luar yang biasa datang ke tempatnya juga memilih libur karena takut rugi jika beli ternak di wilayah ini. ''Hari ini hanya ada tujuh ekor sapi dipasar Pon,” katanya.
Lardi menyebut penurunan ini karena adanya kekhawatiran sapi tertular PMK saat di pasar hewan. Selain itu para pembeli juga takut datang ke pasar.
Yanto pedagang lainnya, ia memilih tidak berjualan. Sebab, ia takut pasar hewan menjadi tempat persebaran penyakit menular tersebut.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Drama Korea Menarik, Drakor Terbaru yang Wajib Ditonton di Tahun 2025
Jika dipaksakan dijual pun, harganya murah. Berkaca pada masalah PMK lalu, ternak miliknya banyak yang mati.” dari pada risiko ternak di rumah malah tertular, mending tidak jualan,” tandasnya
Sebelumnya, Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mencatat ada 235 suspek Penyakit mulut dan Kuku (PMK) sejak beberapa pekan terakhir.
Bahkan 11 diataranya mati 15 dipotong paksa dan baru 7 ekor dinyatakan sembuh. Namun Pemkab setempat juga enggan buru- buru tutup pasar. (hyo/kid)
Editor : Nur Wachid