NGAWI, Jawa Pos Radar Lawu - Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang tengah merebak di Ngawi saat ini disebut lebih ganas. Hal itu dirasakan Suparmin, 59, setelah dua ekor sapi miliknya mati pada Jumat, 3 Januari 2024.
Peternak asal Dusun Pencol, Desa Randusongo, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi tersebut meluapkan kesedihan dengan memusnahkan peralatan ternak.
Berbagai peranti dan sebagian kandang yang ditempati dua ekor sapi yang mati karena PMK, dia bakar. ‘’Barang-barang di kandang tempat sapi yang mati, saya bakar,’’ kata Suparmin.
Dua sapi Suparmin mati berurutan sekitar pukul 01.00 dan 04.00, Jumat 3 Januari 2024.
Bangkai kedua sapi seharga Rp 25 juta itu lantas dikubur di kebun belakang kandang. Dia dibantu anaknya.
Bersamaan dengan itu, Suparmin bergegas membakar peralatan kandang yang ditempati dua ekor raja kaya (sebutan Jawa untuk sapi) itu.
‘’Sedih sapi mati. Soal pembakaran barang dan alat kandang itu, supaya mencegah penyebaran PMK,’’ ungkapnya.
Dua sapi Suparmin itu menjadi lembu terakhir di Pencol.
Sejak dua pekan terakhir, PMK menyerang ratusan sapi di dusun tersebut.
Beberapa ekor dijual murah untuk menghindari kerugian lebih besar. Sebagian yang lain mati karena infeksi.
‘’Kandang-kandang di dusun ini kosong semua,’’ tuturnya.
Menurut Suparmin, PMK yang tengah merebak saat ini lebih parah dibanding sebelumnya.
Yakni, saat wabah serupa merebak pada 2022 lalu.
‘’PMK kali ini lebih ganas. Sapi yanh sebelumnya masih tampak sehat, malam sudah mati,’’ ujarnya.
Edi Susilo, kades setempat, mengatakan bahwa kondisi PMK di Dusun Pencol, Desa Randusongo, Gerih, Ngawi, sangat parah.
Banyak sapi dijual murah. Tak sedikit yang mati.
Para peternak kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Seperti aksi bakar kandang yang dilakukan Suparmin.
"Seharusnya segera ada tindakan dari pemerintah pusat atau daerah, hingga saat ini belum ada tindakan yang cukup signifikan," tutur kades. (sae/den)
Editor : Deni Kurniawan