PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu – Gelaran tahunan Bumi Reog Berdzikir (BRB) 2024 kembali diselenggarakan di Alun-Alun Ponorogo, Sabtu (29/12/2024).
Mengusung tema Merajut Silaturahmi Membangun Persaudaraan, acara ini diperkirakan akan dihadiri lebih dari 50 ribu pesilat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dari seluruh penjuru Nusantara.
Ketua Cabang PSHT Ponorogo, Moh. Komarudin, menegaskan bahwa BRB adalah momen penting untuk memperkuat rasa persaudaraan dan komitmen menjaga keamanan serta ketertiban.
“Kami berpesan kepada seluruh anggota PSHT untuk menjadikan acara ini sebagai ajang silaturahmi yang damai," ujar Komarudin.
"Semua aturan harus ditaati, termasuk larangan membawa senjata tajam, minuman keras, dan penggunaan knalpot brong. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat Ponorogo,” tambahnya.
Komitmen Ketertiban Selama Acara BRB 2024 di Ponorogo
Komarudin juga menjelaskan bahwa setiap peserta yang hadir sudah mendapatkan arahan jelas dari pengurus PSHT di wilayah masing-masing.
Pengawalan dari aparat kepolisian dan pengamanan internal juga dipastikan berjalan optimal.
“Bendera komunitas hanya diizinkan satu per desa, dan seluruh peserta akan dikawal oleh polsek masing-masing dari titik pemberangkatan hingga lokasi acara. Dengan demikian, acara ini bisa berlangsung tertib dan lancar,” tambahnya.
Acara BRB 2024 akan dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir siang hari.
Komarudin berharap tema tahun ini dapat menggugah seluruh anggota PSHT untuk terus menjaga persatuan.
“Bumi Reog Berdzikir bukan sekadar acara, tetapi sebuah pengingat bahwa PSHT adalah simbol persaudaraan, persatuan, dan kedamaian. Mari kita tunjukkan kepada masyarakat bahwa kita bisa menjadi teladan dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” pungkas Komarudin.
Pesan Khusus dari Kapolres Ponorogo
Kapolres Ponorogo, AKBP Anton Prasetyo, menyampaikan harapan besar agar semua pihak yang terlibat dapat menjaga kondusivitas acara.
Pihaknya juga menerjunkan 215 personel gabungan dari TNI, Polri, Brimob, dan pengamanan internal PSHT untuk memastikan keamanan.
“Kami sudah melakukan penyekatan di perbatasan untuk mengantisipasi massa dari luar daerah. Semua pihak, termasuk Pamter dan koordinator lapangan, harus berperan aktif menjaga marwah perguruan,” tegas Anton. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid