PACITAN, Jawa Pos Radar Lawu – Kabupaten Pacitan kembali menghadapi tantangan besar menjelang akhir tahun 2024.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Pacitan, hingga akhir November tercatat 138 bencana alam, dengan tanah longsor menjadi dominan sebanyak 92 kejadian.
Selain itu, terdapat 16 kejadian pohon tumbang, 7 tanah gerak, 6 erosi, 5 angin kencang, 4 banjir luapan, serta beberapa insiden lainnya seperti kebakaran dan cuaca ekstrem.
Kondisi ini semakin memburuk di bulan Desember, dengan tambahan 56 laporan bencana hingga 9 Desember.
Kalaksa BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dan tingginya curah hujan menjadi faktor utama.
"Daerah rawan longsor di Pacitan terus terancam, terutama dengan intensitas hujan yang masih tinggi. Kami mengimbau masyarakat di zona rawan bencana untuk tetap waspada," ujar Erwin.
Dampak Bencana Meluas Dampak dari bencana alam di Pacitan tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan.
Selama November, tercatat tiga korban meninggal dunia, satu orang luka-luka, dan tiga warga harus mengungsi dari rumah mereka.
"Penanganan korban dan pengungsi menjadi prioritas kami, di samping upaya mempercepat normalisasi infrastruktur yang rusak," tambah Erwin.
Di sisi lain, Pacitan juga menghadapi ancaman gempa bumi yang terus berulang. Selama November saja, tercatat 107 gempa bumi dengan magnitudo antara 1 hingga 4 Skala Richter (SR).
Walaupun sebagian besar gempa tidak terasa, kejadian ini menjadi pengingat akan potensi bencana yang lebih besar di masa mendatang.
Langkah Antisipasi BPBD Sebagai upaya antisipasi, BPBD Pacitan memperkuat koordinasi dengan relawan dan berbagai instansi terkait.
Edukasi masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana juga terus digencarkan.
"Kami siaga 24 jam untuk menerima laporan masyarakat. Jika ada potensi bencana, segera laporkan agar tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cepat," tegas Erwin.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG.
Selain itu, menjaga kelestarian lingkungan seperti tidak menebang pohon sembarangan dan memperbaiki tata kelola lahan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko bencana.
Dengan curah hujan yang diprediksi tetap tinggi hingga akhir tahun, kesiapsiagaan dan kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci utama.
"Kami berharap semua pihak dapat saling bekerja sama untuk mengurangi dampak bencana demi keselamatan bersama," pungkas Erwin. (hyo/kid)
Editor : Nur Wachid