PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu – Hulu bendungan yang sering disebut Waduk Bendo mulai mengering. Seiring musim kemarau berkepanjangan beberapa bulan belakangan.
Selain mengancam sumber air bersih, kondisi tersebut turut mengganggu sektor wisata yang dikelola warga.
Misenun, pengelola persewaan perahu mengungkapkan bahwa debit sumber air hulu Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Sooko dan Desa Temon, Sawoo menyusut drastis.
Dari belasan meter lebar sungai, hanya sejengkal di bagian tengah yang dialiri air.
Area yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Waduk Bendo tersebut dimanfaatkan sebagian warga setempat membuka jasa persewaan kapal.
‘’Kalau waktu airnya banyak yang nyewa perahu juga banyak, tapi sekarang sepi,’’ keluh Misenun.
Belajar dari kemarau tahun lalu, Misenun memprediksi penyusutan air hulu waduk Bendo berlangsung beberapa bulan ke depan.
Tak hanya pendapatan sewa kapan menurun drastis, dia khawatir mengancam sektor pertanian yang juga menjadi mata pencahariannya.
‘’Bisanya pasrah, perahu kami biarkan terparkir di tengah karena memang kering,’’ ungkapnya.
Hal serupa dirasakan rekan-rekannya. Aan Tri Wibowo yang hanya mengandalkan sewa perahu untuk menafkahi keluarga mengaku pasrah.
Dia harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. ‘’Biasanya dapat sedikit-sedikit dari sewa perahu ke pemancing, tapi karena kering banyak yang gak sewa,’’ jelasnya.
Pada sisi lain, kekeringan dampak kemarau tahun ini semakin meluas. BPBD Ponorogo mencatat dampak kemarau turut dirasakan masyarakat Ponorogo.
Tercatat 619 kepala keluarga (KK) di tujuh desa, empat kecamatan mengalami krisis air bersih.
‘’Setiap hari kami kirim 6 ribu tangki bergantian ke wilayah-wilayah yang mengajukan permohonan bantuan air bersih,’’ kata Kalaksa BPBD Ponorogo Masun. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid