Jawa Pos Radar Lawu - Sejak dibukanya Ponorogo Creative Festival rabu lalu, acara ini cukup menarik banyak minat pengunjung baik dari luar Ponorogo maupun masyarakatnya sendiri.
Di depan halaman gedung PEMKAB Ponorogo, belasan remaja tuna netra mementaskan seni Reog Ponorogo dalam acara Ponorogo Creative Festival.
Tak hanya sebagai penari, tapi hampir setiap elemen pementasan termasuk musik dan senggak, semuanya dilakukan dan dipentaskan dalam Ponorogo Creative Festival oleh para remaja tuna netra ini.
Pemandangan unik ini tentunya baru saja didapati di dalam pementasan Reog Ponorogo.
Tentunya banyak dari kita yang bertanya-tanya bagaimana mereka yang tuna netra dan difabel bisa menabuh musik, bisa melakukan gerakan-gerakan tarian mulai dari tari warok, jathil, klana sewandana, bujang ganong, dan barongan dengan keterbatasan mereka?
Juga sampai bagian penyanyi pengiring atau senggak pun dilakukan oleh para remaja penyandang disabilitas ini juga.
Tentunya untuk mengharmonisasikan seluruh bagian dan rangkaian dari pementasan tidaklah mudah.
Terutama bagaimana cara mereka mempelajarinya, Dibutuhkan semangat juang dan daya yang lebih bagi para remaja ini untuk mempelajari seni Reog dibandingkan orang yang normal.
Hebatnya mereka melakukan latian untuk mempersiapkan pentas ini hanya dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan saja setiap hari jumatnya.
Pelatih remaja penyandang disabilitas ini bernama Briptu Luhur Ainul Fikri. Para remaja disabilitas ini telah berlatih dengan Briptu Luhur selama 2,5 tahun untuk bisa menguasai seni Reog.
Saat awal-awal berlatih, Briptu Luhur mengatakan bahwa sempat terjadi kesulitan.
Kendati dengan keterbatasan, semangat para anak didik tuna netra ini sangatlah tinggi sehingga lambat laun mereka benar-benar dapat menguasai seni Reog.
Dari ini kita bisa belajar banyak dengan mereka bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin kita gapai selama kita punya niat dan gigih dalam berlatih.
Tak hanya itu, kesabaran sang pelatih sebagai guru pun wajib kita apresiasi sehinggal melahirkan murid-murid yang meskipun dengan keterbatasan mereka dapat mementaskan seni pertunjukkan Reog dengan baik dan lancar. (*)
Editor : Riana M.