MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Nyata adanya bahwa Ramadan itu penuh berkah. Itu seperti yang dialami produsen cincau hitam atau janggelan di Panekan.
Produksi cincau hitam meningkat drastis selama bulan puasa.
Tentu, kantong produsen semakin tebal. Pun, para pekerja produksi. Kendati, harga bahan baku juga naik.
Skala produksi cincau hitam di Magetan ini naik 12 kali lipat dibanding hari biasa.
Mereka kebanjiran pesanan dari Magetan, Ponorogo, Pacitan, hingga Trenggalek.
‘’Di hari biasa kami produksi hanya 10 kilogram. Saat Ramadan, bisa sampai 120 kilogram per hari,” kata Nur Cholis, produsen janggelan, Jumat (15/3).
Cholis menyampaikan, pihaknya menjual janggelan Rp 25 ribu per loyang kecil dan Rp 50 ribu untuk loyang ukuran besar.
Sedangkan yang seukuran ember besar juga dihargai Rp 50 ribu.
‘’Biasanya permintaan meningkat karena digunakan sebagai bahan aneka takjil berbuka puasa,” terangnya.
Janggelan yang diproduksi Cholis menggunakan daun cincau alami yang direbus, kemudian dicampur tepung tapioka.
Setelah tercampur sampai mendidih, cincau didinginkan dan siap dihidangkan.
Dari berbagai bahan baku yang disebutkan, harga tepung tapioka yang mengalami kenaikan.
Dulu, Cholis biasa membeli tepung tapioka seharga Rp 250 ribu per 25 kilogram.
Baca Juga: Banjir Ngawi, Puluhan Hektare Lahan Padi Diajukan Asuransi Usaha Tani Padi Alias AUTP
Kini, harga telah berubah menjadi tinggi. Bahkan, dia bisa sampai mengeluarkan Rp 350 ribu untuk jumlah tepung yang sama.
Meski biaya produksi naik, Cholis tidak mengurangi ukuran cincau ataupun menaikkan harga. (ril/naz)
Editor : Deni Kurniawan