PACITAN, Jawa Pos Radar Lawu - Edi Suryanto akhirnya mengungsi dan membawa perabot yang tersisa dari abrasi di Pantai Pancer Door, Pacitan.
Warga yang berjualan di bibir pantai Pancer Door yang terletak di Kelurahan Ploso, Pacitan itu memutuskan menyerah sebelum warungnya benar-benar hancur dihantam ombak.
Baca Juga: Bibit Badai Siklon Tropis Picu Gelombang Tinggi 3-7 Meter di Laut Pacitan, Begini Penjelasan BPBD
Toilet, dapur, dan satu kamar tidur terancam hancur diterjang banjir rob. Bahkan laut telah menjadi halaman depan warung mereka.
Hanya dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang menjadi benteng terakhir dari abrasi. ”Seluruh perabotan kami pindahkan,” kata dia.
Baca Juga: Uji Coba One Way di Ponorogo Lanjut Tahap Dua, Arus Lalin Kembali Diubah, Simak Rutenya Berikut Ini
Gelombang pasang memperparah abrasi di Pantai Pancer Door. Dampak adanya abrasi, jumlah daratan yang habis tergerus mencapai panjang 500 meter dengan lebar 50 meter.
Selain menggerus tanah abrasi juga mengakibatkan bangunan toilet pengunjung hampir roboh dan mengancam mushola di dekatnya.
Baca Juga: Apa Itu Dengue Shock Syndrome (DSS)? Hilangkan Nyawa Bocah 10 Tahun di Ponorogo, Beda dengan DBD?
Pun juga mengancam lahan parkir yang baru saja dibangun Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora). ''Mulai kejadiannya sekitar tiga hari terakhir,” tuturnya.
Selain itu, abrasi dipicu karena berubahnya aliran Sungai Grindulu sekitar dua bulan lalu.
Baca Juga: Banjir Rendam Kota Semarang, Sejumlah Jadwal Keberangkatan Kereta Api Alami Keterlambatan
Tak hanya merusak fasilitas umum (fasum) tersebut, ratusan cemara udang yang sebelumnya dijadikan tanaman peneduh di objek wisata andalan kawasan itu sebagian tersapu gelombang pasang air laut.
''Aliran sungai berubah juga berpengaruh pada kerusakan pantai,” tuturnya.
Dia berharap secepatnya ada penanganan dampak abrasi dari pemkab.
Sebab gerusan gelombang pasang air laut itu telah hampir merobohkan warungnya. ”Harapannya segera diperbaiki atau dipasang pemecah gelombang (breakwater),” pintanya. (hyo/kid)
Editor : Nur Wachid