NGAWI, Jawa Pos Radar Lawu – Menunggu itu melelahkan. Tak terkecuali menunggu dalam antrean untuk mendapatkan sesuatu. Berbagai cara dilakukan agar tak melelahkan. Seperti emak-emak di Pasar Besar Ngawi yang antre membeli beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
Warga yang antre membeli beras SPHP di Pasar Besar Ngawi itu memanfaatkan berbagai perkakas untuk antrean. Seperti kardus bekas, keranjang belanja, sampai kursi plastik. Besek bambu dan kaleng roti juga ikut mengantre. Barang-barang itu dibariskan di depan kios. Mengular menunggu giliran mendapatkan beras murah.
Kardus bekas pun digunakan sebagai tanda urutan antre membeli beras murah di salah satu kios sembako Pasar Besar Ngawi, Selasa (28/2). ‘’Karena antrenya sejak subuh,’’ kata Yuliana, salah seorang pengantre.
Penanda antrean beras di Pasar Besar Ngawi bukan hanya kardus bekas, tapi juga keranjang belanja. Para pembutu beras murah menyepakati penggunaannya agar antrean tertib tanpa berdesak-desakan. Namun demikian, syarat membeli beras SPHP tetap menggunakan fotokopi KTP. ''Saya rela antre karena memang lebih murah dibandingkan beras medium dan premium di pasaran,’’ ujar Yuliana.
Menurut Bagus Widiantoro, salah satu pedagang di Pasar Besar Ngawi, harga sejumlah bahan pokok (bapok) naik menjelang Ramadan. Di antaranya, daging ayam yang saat ini Rp 35 ribu dan telur ayam Rp 30 ribu per kilogram. Keduanya sama-sama mengalami kenaikan Rp 2.000. Komoditas cabai juga tidak kalah mahal. ''Cabai rawit dari Rp 48 ribu menjadi Rp 60 ribu dan cabai keriting Rp 70 ribu dari sebelumnya Rp 35 ribu per kilogram,’’ urainya.
Agus Fathoni, pengamat politik di Ngawi, menilai situasi mahalnya bapok rentan mengancam stabilitas politik. Sebab kenaikannya, khususnya beras, terjadi pasca pemilu dan menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada). ''Bahan pokok ini sensitif karena urusannya dengan perut,’’ ucapnya sembari meminta tim pengendali inflasi daerah mengambil tindakan untuk menstabilkan harga. (sae/cor)
Editor : Deni Kurniawan