KABUPATEN MADIUN, Jawa Pos Radar Lawu - Bayi kembar tiga yang ditinggal mati ibunya usai 10 hari persalinan itu memang sarat kesedihan. Di balik kisah pilunya, Arfina, Alina, dan Alisa, seolah mengajak bercanda kerabat yang kini merawat.
Bingung dan senyum. Dua kata tersebut muncul bersamaan untuk membedakan si kembar triplet asal Desa Lembah, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, itu. ''Bedanya bisa dilihat dari unyeng-unyeng (pusar rambut, Red),'' kata Boinem, Kamis (22/2).
Tiga bayi mungil itu memiliki jumlah pusar rambut berbeda satu sama lain. Banyaknya sesuai urutan persalinan.
Arfina yang lahir pertama memiliki satu pusar rambut. Alina yang lahir kedua punya dua pusar rambut. Kemudian, ada tiga pusar rambut di kepala Alisa yang lahir ketiga.
Kerabat juga memberi tanda untuk membedakan Arfina, Alina, dan Alisa. Yakni, dengan menuliskan nama di balik kasur masing-masing.
Diketahui, bayi triplet yang lahir pada 1 Januari 2024 itu kehilangan ibunya, Eny, 10 hari usai persalinan. Sementara ayahnya, Lusiana, kini harus bekerja ke luar daerah sebagai kuli proyek bangunan.
Arfina, Alina, dan Alisa, punya kakak. Putra sulung pasangan Eny-Lusiana. Saat ini si kakak ikut ayahnya. (odi/aan)
Editor : Deni Kurniawan