PACITAN, Jawa Pos Radar Lawu - Musim angin baratan terjadi sejak satu bulan terakhir. Akibatnya, tangkapan ikan nelayan di Pacitan mengalami penurunan drastis.
Seperti yang terlihat di Pelabuhan Tamperan, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, misalnya.
Kapal-kapal milik nelayan tampak terparkir di pinggiran dermaga, terutama milik nelayan lokal. Hanya ada beberapa kapal nelayan andon yang nekat melaut di tengah cuaca buruk.
Namun hasilnya juga tidak sesuai harapan.
Suyitno, 50, nelayan lokal asal Kecamatan Pringkuku, mengatakan bahwa sejak terjadi musim baratan hasil tangkapan ikan nelayan menurun hingga 50 persen jika dibandingkan hari biasa.
"Ya ini supaya tidak menganggur saja, bahkan hasil tangkapan ini hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri, tidak sampai dijual," katanya.
Meskipun sepi, namun dia nekat mencari ikan lantaran itu merupakan mata pencahariannya setiap hari.
Baca Juga: Jelang Coblosan Pemilu, Anggota KPPS di Ponorogo Jadi Korban Tewas Laka Lantas, Begini Kronologinya
"Mau tidak mau ya terpaksa, hanya ini mata pencaharian keluarga saya," tambahnya.
Sepinya tangkapan ikan oleh nelayan ini berdampak terhadap kenaikan harga. Di kios-kios pedagang, sejumlah komoditi ikan mengalami kenaikan harga sebesar Rp 5 ribu perkilogramnya.
Ikan tuna yang sebelumnya dihargai Rp 20 ribu menjadi Rp 25 ribu. Ikan cakalang dari Rp 15 ribu menjadi Rp 20 ribu.
"Untuk ikan banyar teropong yang sebelumnya Rp 17 ribu naik menjadi Rp 22 ribu,'' beber Yulida Husni, salah satu pedagang ikan.
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Maret. "Semoga musim baratan cepat selesai. Supaya tangkapan dan harga ikan kembali normal," kata Husni. (hyo/naz)
Editor : Mizan Ahsani