Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Guru Inspiratif, Perjuangan Dian Widiyawati Belasan Tahun Mengabdi di SMPN Satu Atap Gemarang, Satu Jam Lalui Jalan Pegunungan Setiap Hari

Dian Rahayu • Jumat, 2 Februari 2024 | 17:50 WIB
TULUS MENGADBI: Dian Widiyawati, guru SMPN Satu Atap Gemarang ketika beraktivitas KBM di ruang kelas. (R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN)
TULUS MENGADBI: Dian Widiyawati, guru SMPN Satu Atap Gemarang ketika beraktivitas KBM di ruang kelas. (R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN)

GEMARANG, Jawa Pos Radar Lawu - Naik turun gunung dengan jalan penuh berkelok-kelok yang tak jarang menemui jalanan terjal pun sudah menjadi makanan setiap hari Dian Widiyawati.

Kendati begitu, sosok guru di SMPN Satu Atap Gemarang di Kabupaten Madiun itu tak pernah lelah.

Dian justru semakin bersemangat guna mengajar puluhan siswa yang menunggunya penuh harapan mendapatkan ilmu pendidikan.

“Saya ditempatkan disini sejak 2011 dengan enam teman guru, yang kini sisa empat guru karena selainnya sudah dimutasi,” ujar warga Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk itu.

“Sangking lamanya, saya sampai hafal mana lubang dijalan karena dilewati setiap hari,” imbuhnya.

Dian tak menampik, awal kali melakoni dinamika menjadi guru di Dusun Tungu, Desa Batok, Kecamatan Gemarang yang lintas daerah dengan tempat tinggalnya itu tidaklah mudah.

Bahkan dia kerap mengeluh lantaran lelah harus melewati perjalanan cukup jauh hingga memakan waktu sekitar satu jam lebih setiap harinya.

“Tapi, lama-lama ketika sudah mengenal murid, wali murid dan warga disini, sekarang justru sangat betah dan mungkin ketika ada tawaran untuk mutasi ke daerah lain, saya tidak rela meninggalkannya,” ungkap ibu dua anak tersebut.

Menurut guru IPA yang juga merangkap menjadi waka kesiswaan itu. Meski secara tunjangan dan gaji sebagai guru pegawai negeri sipil di kota dan pegunungan nilainya sama tergantung golongannya.

Namun, dia mendapatkan kebermaknaan tersendiri ketika sudah menjalani hampir 13 tahun mengajar di sekolah terpencil itu.

“Jujur untuk pengeluaran setiap hari dengan pendapatan gaji setiap bulan sangat pas-pasan, namun kami sangat bersyukur masih berkesempatan mengajar untuk anak-anak disini,” terangnya.

“Dari murid, wali murid hingga warga disini saya sudah punya ikatan batin layaknya keluarga sendiri,” lanjut Dian.

Meski perjalanan pulang pergi mengajar cukup banyak beresiko, Dian tak berhenti bersemangat untuk mengajar murid-muridnya.

Itupun yang hendak ia tularkan kepada para pendidik baru dan masih muda-muda yang ditempatkan ditempat terpencil untuk tidak berkecil hati dan terus semangat mengabdi negeri.

Sedangkan teruntuk murid-muridnya dia berharap selalu semangat untuk menjalani pendidikan wajib belajar 12 tahun karena itu penting.

Harapannya dengan perjuangan para bapak ibu guru di SMPN Satu Atap, anak-anak kelak bisa berhasil menjadi anak yang sukses, membanggakan serta bermanfaat bagi orang tua, nusa dan bangsa.

“Saya merasa ini tanggung jawab kami sebagai pendidik untuk memberikan hak pendidikan yang layak kepada anak-anak," harap Dian.

"Terutama mereka yang didaerah terpencil ini yang jauh dari akses mudah mendapatkan fasilitas pendidikan,” tuturnya. (ryu)

Editor : Nur Wachid
#inspiratif #perjuangan #guru #mengabdi #SMPN Satu Atap Gemarang #Dian Widiyawati