Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

SMPN Satu Atap Gemarang, Sekolah Tertinggal di Madiun yang Minim Murid dan Fasilitas Pendidikan

Dian Rahayu • Kamis, 1 Februari 2024 | 18:25 WIB
TERTINGGAL: Pembelajaran di SMPN Satu Atap yang merupakan sekolah tertinggal di Dusun Tungu, Desa Batok, Kecamatan Gemarang, Selasa (30/1). (R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN)
TERTINGGAL: Pembelajaran di SMPN Satu Atap yang merupakan sekolah tertinggal di Dusun Tungu, Desa Batok, Kecamatan Gemarang, Selasa (30/1). (R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN)

GEMARANG, Jawa Pos Radar Lawu – Di tengah maraknya sekolah berlomba-lomba membangun fasilitas pendidikan. Di pelosok Kabupaten Madiun masih ada sekolah dengan kategori tertinggal.

Salah satunya, SMP Negeri Satu Atap, sekolah di pelosok Madiun, tepatnya berada di Dusun Tungu, Desa Batok, Kecamatan Gemarang.

Tidak hanya memiliki siswa sangat minim, kondisi bangunan sekolah pun serba terbatas bahkan beberapa ruangan memprihatinkan.

“Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak di Desa Batok, karena jika tidak ada Satu Atap mereka harus menempuh jarak cukup jauh untuk melanjutkan pendidikan menengah pertama,'' ujar Kepala SMP Negeri Satu Atap Gemarang, Bambang Sugiharto, Selasa (30/1).

Mirisnya, jumlah murid di SMPN Satu Atap kian turun dari tahun ke tahun. Menurut Bambang, penurunan jumlah murid paling kentara ketika Pemkab setempat tidak mengoperasionalkan lagi fasilitas antar jemput beberapa tahun lalu. 

Kini, SMPN Satu Atap memiliki 23 murid. Perinciannya, kelas 7 empat siswa, 11 siswa di kelas 8, serta kelas 9 delapan siswa.  

Bahkan pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2023/2024 lalu, SMPN Satu Atap hanya mendapatkan empat siswa baru.

''Karena akses menuju sekolah cukup sulit, jalannya banyak yang rusak, sehingga kebanyakan murid lari ke SMP yang aksesnya lebih mudah atau bahkan ada yang memilih tidak meneruskan ke jenjang SMP. Murid kami paling jauh ini dari Jonggol, jaraknya 10 kilometer,” jelasnya.

Selain sulitnya mendapatkan murid, Bambang juga menyebutkan untuk kebutuhan fasilitas bangunan fisik dan tenaga guru juga tidaklah mudah didapat.

Sementara fasilitas pendukung seperti bangunan sekolah, perlengkapan di SMPN Satu Atap jauh dari kata layak. 

''Bangunan sudah banyak yang rusak bahkan lab IPA itu kami tutup karena takut sewaktu-waktu ambrol membahayakan siswa, lapangan dan musala pun kami tidak punya,'' bebernya.

Bambang menambahkan, kebutuhan tenaga pengajar belum terpenuhi seluruhnya. Guru mata pelajaran Seni dan Budaya, Matematika, Bahasa Jawa, dan tenaga administrasi saat ini masih kosong. 

Sementara ini, untuk menambal kekosongan tersebut dirangkap oleh guru yang ada. 

Kendati masih banyak kekurangan dalam segi fasilitas bangunan maupun pengajar, Bambang berharap sekolah ini tetap jalan dan mendapatkan perhatian dari Pemkab setempat.

''Untuk kerusakan bangunan ini sudah sering kami ajukan anggaran perbaikan ke pemerintah, namun hingga sekarang belum ada realisasinya,'' tutupnya. (ryu/kid)

Editor : Nur Wachid
#fasilitas #sekolah #Madiun #gemarang #SMPN Satu atap #tertinggal