Tellasan Bhekoh
Puisi Cak Uki (Masuki M. Astro)
Anak-anakku, ini tanah kita
Rahim asal tembakau kita menggeliat tumbuh, dirajang, lalu mengepul asap ditelan zaman
Tanah yang mengolah bibit tembakau mengaroma tambeng**)
Bersama gula dan kopi, semerbaknya menggoda kaum perampas itu datang
Koloni itu datang, bukan hanya mengisap asap tambeng, tapi mengisap darah, daging, dan identitas kebesukian kita.
Mereka membangun jalan pos Anyer-Panarukan untuk mengerek Besuki menjauh dari sejatinya kita yang tambeng ketika melihat ketidakadilan, keserakahan, dan ketidakpedulian.
Ketambengan kita lambat laun memudar bersama waktu
Kalian tidak lagi bangga sebagai Besuki yang gagah dengan birunya dan anggun dengan hijaunya.
Terlalu jauh kita tinggalkan Besuki yang menyimpan kekayaan laut dalam biru, sawah, ladang dan gunung dalam hijau
Baca Juga: Pikirkan Orang Lain: Puisi Mahmoud Darwish yang Dibacakan Richard Gere, Ini Teks Lengkapnya
Kita terlena oleh buaian jargon kekinian yang seolah menjanjikan kemodernan, namun sesungguhnya lebih purba dari ketika sebelum leluhur membabat alas ini
Lalu, Ke Pate Alos***) menapas kembali, datang menjelma Mas Rio, membangunkan Besuki untuk bangkit.
Bersama Ii' Trie dan Redy, kebangkitan dalam "tellasan bhekoh" itu bukan hanya untuk Besuki, apalagi sekadar Situbondo
Ke Pate Alos bangkit ini, akan menjadi dupa semangat untuk wilayah Besuki Raya, menyeruak harum makmur bersama untuk Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan seluruh pantura.
Bondowoso, 27 Januari 2026
Catatan Kaki:
*) Tellasan (hari raya), bhekoh (tembakau)
**) Tambeng (tembakau khas dari Besuki yang harga rajangan keringnya bisa Rp1,5 juta per kg)
Tambeng juga bermakna kenakalan dalam makna positif atau berani
*) Ke Pate Alos adalah tokoh pembabat alas dan pemimpin pertama di Besuki
BIODATA SINGKAT PENULIS:
Masuki M Astro, Redaktur Senior ANTARA aktif menulis puisi dan karya sastra lainnya, tinggal dan menetap di Bondowoso, Jawa Timur.
Editor : Nur Wachid