Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Si Mbah

Nur Wachid • Rabu, 7 Mei 2025 - 15:38 WIB
Si Mbah
Si Mbah

Puisi Si Mbah Karya Nur Wachid

Mbah, kaulah goa teduh tempatku bertapa

Tirakat hidup yang tak ada dalam mata pelajaran di sekolah

Kalau datang angin lalu hujan, Si Mbah bawa payung untukku berlindung

Sebab anakmu, yang ibukku, berpulang lebih dulu

Mbah, kaulah tungku yang tak pernah padam

Katamu, mimpi harus dikejar meski peluh bercucur air mata

Sebab, katamu, pasti selalu ada jalan

Tangan keriputmu yang hangat mengelus pundakku

Kalau musim kemarau kerontang datang, Si Mbah bawa baki air untukku

Kau menimba di sumur belakang, muka airnya pun tak tampak mata

Katamu, setetes air pantang tumpah berceceran

Seperti katamu pada anakmu, yang ibukku, tangan kita tak mampu membuat air

Mbah, saat ragamu membungkuk, kau pun tak ingin tongkat

Saat panggilan sebelum fajar, Si Mbah berjalan menggeranyangi tembok

Sujudmu sampai fajar tiba, lalu menyambut mentari hangat

Katamu, tangan dan kaki sendiri yang mencari hidup, pantang berdiri dalam bayangan

Senja Si Mbah telah tiba, kau pun pulang berjalan sendiri

Lalu pada siapa lagi aku... aku berbakti?

Pinjami aku air matamu Si Mbah, mata air yang tak pernah kering

Aku ingin Si Mbah tersenyum, dalam damai.

Ponorogo, 7 Mei 2025

Editor : Nur Wachid
#SI MBAH #Nur Wachid #puisi #sastra #nenek