Puisi Si Mbah Karya Nur Wachid
Mbah, kaulah goa teduh tempatku bertapa
Tirakat hidup yang tak ada dalam mata pelajaran di sekolah
Kalau datang angin lalu hujan, Si Mbah bawa payung untukku berlindung
Sebab anakmu, yang ibukku, berpulang lebih dulu
Mbah, kaulah tungku yang tak pernah padam
Katamu, mimpi harus dikejar meski peluh bercucur air mata
Sebab, katamu, pasti selalu ada jalan
Tangan keriputmu yang hangat mengelus pundakku
Kalau musim kemarau kerontang datang, Si Mbah bawa baki air untukku
Kau menimba di sumur belakang, muka airnya pun tak tampak mata
Katamu, setetes air pantang tumpah berceceran
Seperti katamu pada anakmu, yang ibukku, tangan kita tak mampu membuat air
Mbah, saat ragamu membungkuk, kau pun tak ingin tongkat
Saat panggilan sebelum fajar, Si Mbah berjalan menggeranyangi tembok
Sujudmu sampai fajar tiba, lalu menyambut mentari hangat
Katamu, tangan dan kaki sendiri yang mencari hidup, pantang berdiri dalam bayangan
Senja Si Mbah telah tiba, kau pun pulang berjalan sendiri
Lalu pada siapa lagi aku... aku berbakti?
Pinjami aku air matamu Si Mbah, mata air yang tak pernah kering
Aku ingin Si Mbah tersenyum, dalam damai.
Ponorogo, 7 Mei 2025
Editor : Nur Wachid