Yang Tidak Bisa Kubagi
semenjak perjumpaan itu
kita senantiasa membagi
waktu dan kesempatan
mengulang tanya dan jawaban
kemudian saling mengenal
pada perjumpaan kali ini
secawan kopi telah mengajarkan
cara membagi pahit manis
perjalanan yang dilalui
namun
ada yang tidak bisa kubagi
antara cinta dan kasih sayang (25.05.2024)
Mendalam
tertatih
puisi ini adalah cara
menyarakan diam memendam
beragam ingatan dan luapan
menyerahkan segala makna
menemukan rasa dari perasaan
terpilih
rasa telah mendera diri
sakit mendalam meredam
angan-angan serupa capaian
merangkul semua keinginan
membalut kata dari goresan
30.09.2024
Pelukan Ibu
Semenjak hujan di pelukan ibu
dingin basah menguap
lantas menguar rasa kebimbangan
ada beragam kenangan
mencoba berteduh di bawahnya
namun — tiada air mata
tiada tangisan juga tiada keharuan
Sementara diam
mencoba mencari jawaban
menanggung gerimis menghiris
Ada yang lesap dari ingatan
kadang menghilang dari pandangan
ibu membuhul jemarinya
agar doa-doa tak berhamburan
inilah kehangatan itu
penghalang dingin gigil yang menghujam
29.09.2024
BIODATA PENULIS: DE EKA PUTRAKHA berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Perjalanan kepenulisannya pernah dimuat media negeri jiran yaitu jurnal DoeaJiwa Bil.11—November 2023. Tulisannya termuat dalam beberapa buku antologi bersama serta media cetak dan online (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura). Terpilih sebagai Pemenang 10 Resensi Terbaik – Resensi Buku peringkat ASEAN anjuran Persatuan Penyair Malaysia 2020. Buku tunggalnya antara lain; novel “Djiwa” (2022) dan kumpulan puisi “Hikayat Sendiri” (cetakan kedua, 2023). Dapat disapa melalui facebook De Eka Putrakha dan instagram @deekaputrakha.
Editor : Nur Wachid