Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Pelita yang Terabaikan dan Puisi Fiana Winata Lainnya

Nur Wachid • Senin, 22 April 2024 | 18:30 WIB
Photo
Photo

Oleh: Fiana Winata

Elegi Pun Berdiksi

Katakan padaku bagaimana mengobati lara di hati

Jika segenap memori enggan untuk pergi

Cukupkah dengan merapal sumpah dan caci

Lalu dilema itu pamit untuk pergi

Pun dengan menjalani dan mencoba untuk bangkit lagi

Mengumpulkan segenap imaji yang tetap berdiri

Lalu mengurutkan layaknya prajurit yang berani mati

Diri ini terjebak ilusi

Dalam hening pada sujud abadi

Berpaut pada diksi yang sunyi

Lalu diksi mengalir membanjiri narasi

Kuubah elegi menjadi lautan puisi

Kuuntai asa yang tak elok lagi

Lalu membangunnya untuk meyakini

Bahwa diri harus berarti

Pun dengan amanah yang telah diberi

Lukaku berpagar literasi

Menjalani takdir pengumpul diksi

Menyatukan derana menjadi motivasi

Merajut asmaraloka untuk kisah yang abadi

Haruskah terjebak pada emosi

Jika literasi mampu menerima setulus hati

Haruskah memekik lalu meratapi

Jika luka mampu menjadi inspirasi

Bukittinggi, 29 Januari 2024

Pelita yang Terabaikan

 

Pelita yang telah dinyalakan

Menjadi pengawal masa depan

Generasi yang haus sentuhan

Tak lagi bermain teori mereka berkompetisi melawan peradaban

Wahai insan perubahan zaman

Langkahmu  amat dinantikan

Karsamu menjadi panutan

Ikhlas mengarungi lautan pengabdian

Kapan kita layak berkilauan

Baca Juga: Puisi-puisi Damay Ar-Rahman

Terbebas dari jurang perbedaan

Tugas kita untuk meyakinkan

Tapi alurnya tak semanis impian

Duhai penguasa cendekiawan

Haruskah kami lusuh berkalang beban

Atau syahid dirajam deskriminasi peradaban

Kami menjadi garda terdepan walau jauh dari kata mapan

 

Bukittinggi, 17 Januari 2024

 

 

 

 

Nanti

Senandungnya kudengar lagi

Setelah bertarung dalam ilusi

Kukira maknanya adalah surgawi

Tapi liriknya kian menjauh pergi

Mungkin asaku melangit tinggi

Sedangkan waktu masih berkata nanti

 

Bukittinggi, 17 Februari 2024

Gemerlap bintang yang amat menawan

Terang menderang berkilauan

Mentari yang sembunyi di balik awan

Menyinari setiap langkah yang kuinginkan

Aku berlari mengejar bintang

Dan mentari pun terdiam

Hangatnya sinar mentari sulit untuk kuterjemahkan

Sebab kumenunggu malam untuk bertemu bintang-bintang

Bukittinggi, 17 Februari 2024

 

 

 

Bionarasi: Fiana Winata, lahir di Cirebon dan saat ini berdomisili di Bukittinggi, Sumatera Barat. Telah menulis lima puluh tiga buku dalam bentuk puisi, syair, gurindam, cerpen, dan prosais. Beberapa buku antologi telah terbit bersama global writters ASEAN, Costa Rica, Spanyol, Portugal, Inggris, dan Malaysia. Saat ini berprofesi sebagai guru, dosen, pengajar dan penggiat BIPA di Sumatera Barat. Tulisannya bisa dibaca di media cetak dan online baik di daerah, nasional dan Malaysia. Sila sapa penulis melalui Fb. Fiana Winata, ig.Ofiegw atau email. nofieanagw@gmail.com


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#sumatera barat #global writters ASEAN #puisi #sastra #bukittinggi #Fiana Winata