Oleh: Fiana Winata
Elegi Pun Berdiksi
Katakan padaku bagaimana mengobati lara di hati
Jika segenap memori enggan untuk pergi
Cukupkah dengan merapal sumpah dan caci
Lalu dilema itu pamit untuk pergi
Pun dengan menjalani dan mencoba untuk bangkit lagi
Mengumpulkan segenap imaji yang tetap berdiri
Lalu mengurutkan layaknya prajurit yang berani mati
Diri ini terjebak ilusi
Dalam hening pada sujud abadi
Berpaut pada diksi yang sunyi
Lalu diksi mengalir membanjiri narasi
Kuubah elegi menjadi lautan puisi
Kuuntai asa yang tak elok lagi
Lalu membangunnya untuk meyakini
Bahwa diri harus berarti
Pun dengan amanah yang telah diberi
Lukaku berpagar literasi
Menjalani takdir pengumpul diksi
Menyatukan derana menjadi motivasi
Merajut asmaraloka untuk kisah yang abadi
Haruskah terjebak pada emosi
Jika literasi mampu menerima setulus hati
Haruskah memekik lalu meratapi
Jika luka mampu menjadi inspirasi
Bukittinggi, 29 Januari 2024
Pelita yang Terabaikan
Pelita yang telah dinyalakan
Menjadi pengawal masa depan
Generasi yang haus sentuhan
Tak lagi bermain teori mereka berkompetisi melawan peradaban
Wahai insan perubahan zaman
Langkahmu amat dinantikan
Karsamu menjadi panutan
Ikhlas mengarungi lautan pengabdian
Kapan kita layak berkilauan
Baca Juga: Puisi-puisi Damay Ar-Rahman
Terbebas dari jurang perbedaan
Tugas kita untuk meyakinkan
Tapi alurnya tak semanis impian
Duhai penguasa cendekiawan
Haruskah kami lusuh berkalang beban
Atau syahid dirajam deskriminasi peradaban
Kami menjadi garda terdepan walau jauh dari kata mapan
Bukittinggi, 17 Januari 2024
Nanti
Senandungnya kudengar lagi
Setelah bertarung dalam ilusi
Kukira maknanya adalah surgawi
Tapi liriknya kian menjauh pergi
Mungkin asaku melangit tinggi
Sedangkan waktu masih berkata nanti
Bukittinggi, 17 Februari 2024
Gemerlap bintang yang amat menawan
Terang menderang berkilauan
Mentari yang sembunyi di balik awan
Menyinari setiap langkah yang kuinginkan
Aku berlari mengejar bintang
Dan mentari pun terdiam
Hangatnya sinar mentari sulit untuk kuterjemahkan
Sebab kumenunggu malam untuk bertemu bintang-bintang
Bukittinggi, 17 Februari 2024
Bionarasi: Fiana Winata, lahir di Cirebon dan saat ini berdomisili di Bukittinggi, Sumatera Barat. Telah menulis lima puluh tiga buku dalam bentuk puisi, syair, gurindam, cerpen, dan prosais. Beberapa buku antologi telah terbit bersama global writters ASEAN, Costa Rica, Spanyol, Portugal, Inggris, dan Malaysia. Saat ini berprofesi sebagai guru, dosen, pengajar dan penggiat BIPA di Sumatera Barat. Tulisannya bisa dibaca di media cetak dan online baik di daerah, nasional dan Malaysia. Sila sapa penulis melalui Fb. Fiana Winata, ig.Ofiegw atau email. nofieanagw@gmail.com
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid