Oleh: Masuki M Astro
1) Madura, celurit pusakamu itu
Hijau daun emas antara Mei hingga Agustus itu masih tergambar jelas dalam rekening ingatanku
Kulit mengeras di pundak karena memanggul wadah air dari daun siwalan itu, rasanya masih belum hilang
Juga dengan keras dan rekah di telapak kaki karena terlalu sering bertumbuk dengan tanah
Aroma khas dari rajangan daun emas pemantik asa di awal September itu tiba-tiba menyentak-nyentak dada
Madura,
Engkaukah itu yang sedang memangil-manggilku pulang?
Terima kasih telah menjadi ibu, sekaligus ayah
Terima kasih, tanahmu telah mengajarkan aku tentang etos pantang menyerah
Terima kasih air susumu yang keluar dari kerontang ladangmu telah mengaliri darahku, dagingku, dan menguatkan tulang-belulangku
Terima kasih atas semaian dogma tentang harga diri itu
Nilai agung "etembheng pote matah, ango'an pote tolang") yang kau sampirkan di jantungku, aku settek kembali menjadi "lebbhi bhegus pote ateh, bherse bheten"*)
Celurit pusaka yang kau wariskan dengan penuh magis itu, sekarang lebih aku jadikan penyiang gulma-gulma ego
Madura,
Anakmu kini kembali, dan izinkan aku datang untuk sekadar menangis
Biarlah air mata ini menjadi "pamole dhedhe"*) untuk menyejukkan tubuh gersangmu
Izinkan aku menebarkan air mata untuk menjadi embun bagi diri dan jiwa anak-anakmu yang lain
Biarlah air mata ini menjadi peluruh ego yang kini telah mendarah daging dan menulang otot pada anak-anak yang kau lahirkan dan besarkan itu
Madura,
Terima kasih atas buaian dari masa maskumambang, hingga mijil dan sinomku
Lalu kau lempar aku ke seberang untuk menjalani lakon kinanthi hingga asmaradana, gambuh, dhandhanggula, durma, dan pangkur**)
Madura,
Terimalah aku dengan riang bahagia jika kelak harus kembali dalam pelukan rahimmu saat megatruh dan pucungku tiba
Bataan, 2 Desember 2023
*) Dari pada putih mata (menanggung malu) , lebih baik putih tulang (mati dengan kulit dan daging mengelupas karena tebasan senjata)
**) Lebih bagus putih hati dan bersih jiwa
*) balas budi
**) Tembang Maskumambang yang bercerita perjalanan hidup manusia dalam tradisi macapat
2) Bidadariku
Terlalu lama aku terbuai dalam gelombang amuk jiwa, hingga terdampar di ribuan pulau kosong
Engkau selalu datang menjemputku untuk kembali
Tabahmu, bak karang, telah menyelamatkan pilau*) suci rancangan Ilahi ini
Aku tahu sesekali kau menangisi keadaan, tapi karang hatimu tetap kokoh
Karang perihku kini mulai beruntuhan
Kasih, mari kita lanjutkan pendayungan ini menuju diri, tempat semayam sejatinya kita
Terima kasih perempuanku, bidadari surga yang Tuhan hadirkan lebih awal dari kisah-kisah suci yang pernah kita dengar
Bataan, 26 November 2023
*) perahu
3) Lelaki bara (untuk Kang Te)
Aku mengenal lelaki pejaga malam itu sebagai sosok yang lembut
Perawakannya tergolong sedang, cara bicaranya menyejukkan
Tapi jangan disangka bahwa dalam sekedip ia bisa menjelma singa, mengaum, penuh murka
Ya, tidak mudah memahami lelaki bara itu jika tidak dengan hati
Tetaplah membara, wahai lelaki penggerak kehidupan, pemeduli sesama
Bataan, 26 November 2023
BIODATA SINGKAT: Masuki M. Astro adalah wartawan senior LKBN ANTARA, asal Pamekasan, Madura, kini tinggal di Kota Tapai dan Bondowoso Republik Kopi (BRK)
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid