Oleh: Thomas Elisa
OBITUARI CINTA
Seperti cinta Joki Tobing*
Aku adalah rumput yang diasuh kemarau
Keras mengering memandang nyiur kelopakmu
Tubuhku kian renta tertiup angin Agustus
Meski akar-akarku masih menjejak mimpi kita
Baca Juga: Palsu
Cinta tak seperti ingatan masa kanak kita
Pertemuan tak melulu jadi almanak kebahagiaan
Kadang pertemuan adalah pertempuran hebat
Antara keberanianku yang terus gugur pada nasib
Tanpa tahu kapan serabut akarku mencapai pelepahmu
Baca Juga: RUNTUHNYA TEATER JURAGAN
Catatlah baik-baik kekasih
Tentang segala riwayat upayaku
Menahan guncangan topan dan gelombang panas
Demi kucapai erat gundukan tanahmu
Dan kubaringkan tubuhku di beranda semimu
Meski upayaku tak ubahnya menjaring kesia-siaan
(Surakarta, 2023)
*joki tobing : nama tokoh dalam Puisi WS Rendra
Baca Juga: HARI-HARI YANG PANJANG
CINTA GENERASI SANDWITCH
Kota telah menjelma layar digital
Yang mengabarkan padaku
Bahwa mencintaimu haruslah bulat utuh
Dengan empat kaki yang kencang berlari
Menjemput sigap setiap rindu dan cemasmu
Tanpa sehelai goresan boleh melukaimu
Baca Juga: Merayu Malam dan Puisi De Eka Putrakha Lainnya
Aku cemas membaca pesan-pesan digital
Cinta haruslah presisi 360 derajat
Padahal buku-buku filsafat mengajarkan
Cinta adalah angin yang melubangi batu
Kecepatan dan waktu hanyalah igau rembulan
Yang sering menjebak pada kabut ketersesatan
Baca Juga: Menjadi Apatis Itu Perlu
Kota makin ketat mempersyaratkan cinta
Telah diukurkan pada tiap lelaki
Mencintaimu haruslah menggengam
Sepasang gedung bernafas Anggun
Halaman yang luas tanpa debu dan cemar
Agar setiap kisah tak dibekuk dimensia
Dan kenangan tak tercecer angin sakal
Baca Juga: Puisi Cak Uki
Namun, kota lupa mencatat
Gedung-gedung tersebut akan runtuh
Menjadi puing-puing tanpa arti
Sebab cinta adalah rumah
Yang tak perlu memerlukan sangkar
Cukup doa-doa untuk mengekalkan rasa sabar
Baca Juga: 2024 Membangun Jembatan Pendidikan Menuju Masa Depan Baik
Pada sajak ini, kukabarkan padamu
Aku akan menepi dari sorot layar kota
Berpulang pada cinta yang lebih sederhana
Dengan rindu yang tak perlu sandi dan enkripsi
Berbaring pada gubuk penuh lesung malam kedamaian
Supaya kota belajar dari kolosal kisah kita
(Surakarta, 2023)
(untuk Yuana Ardias)
Jarak kita hanya lima depa jauhnya
Kau termangu di bibir stasiun
Sedang aku gusar di selasar peron
Mengingat belum kuselesaikan
Jahitan rindu pada kemeja milikmu
Sementara hari-hari esok sudah menunggu
Merayakan sepinya hatimu dengan warna-warni
Baca Juga: Puisi-puisi Damay Ar-Rahman
Kau masih ingin melekatkan sekali lagi
Lentik lidahmu pada langit-langit stalaktitku
Mengapurkan sisa-sisa senja yang jadi benalu
Sebelum malam melahap tulang-tulang lelahku
Bersama suara dengung keberangkatan kereta
Aku tahu segala perpisahan adalah bilur pilu
Hanya para penipu belaka yang berujar
Perpisahan merupakan adegan paling romantis
Kau pun tahu, itu hanya terjadi pada drama sandiwara
Dengan aktor-aktor mahal yang tak mengalaminya
Baca Juga: Hari Bebas Bicara: Mendedah Realitas Bermedia Sosial di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia
MEDIA SOSIAL
Laiknya tempat ibadah
orang-orang berduyun dan tergesa
mengetik segala macam hasrat keinginan
memilih pelbagai rupa warna emoticon
memampang tragedi yang menimpa silih berganti
dengan harapan tuhan yang di atas bumbungan
membaca lebih cepat nasib yang dianggap mengenaskan
“aku perlu uang tambahan” tulis salah seorang
“aku ingin pendamping kaya raya” tulis yang lain
“tuhan aku perlu rumah baru” kata akun tak bernama
“tuhan aku butuh mobil baru” cuit lainnya
mereka berharap tuhan segera menuliskan komentarnya
Baca Juga: Abimanyu Silakan Gugur
Tuhan yang mereka sangka di atas bumbungan
rupanya semakin jauh terasing di dunia maya
wajahnya tersingkir bersama dekil kaum semenjana
dalam media sosial tuhan kian meredup samar
ditimbun keangkuhan yang merajalela di tiap postingan
(Surakarta, 2023)
Baca Juga: Bahasa Jawa, K-pop, dan Gen Z
SAJAK PAGI
Pagi selalu datang dengan caranya
membentangkan spanduk seluas jagat raya
memadamkan gelap yang semalaman menyala
lalu seperti ibu ia menuju ke arah dapur
menyiapkan kita menu bernama nasib
Almanak menandai hari baru buat kita
dengan terpaksa kita kembali ke perlombaan
padahal kita masih ingin memanjangkan mimpi
memulihkan nafas dalam tidur pulas
dan terbangun sesukanya seperti masa kanak-kanak
Namun semuanya urung kita lakukan
pagi memanggil kita seperti suara ibu dulu:
“bangun, malas adalah sakit yang membinasakan”
tapi luka yang membiru pada tubuh diabaikannya
pikirnya hari baru semuanya telah sembuh
Baca Juga: Kelir Cerita di Balik Persembunyian Ilyas Hussein
BIODATA SINGKAT: Thomas Elisa, lahir 21 September 1996 di kota Surakarta. Penulis tinggal di Pucangsawit RT 01/RW 03, Kecamatan Jebres, Surakarta.Menyelesaikan program Strata-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) pada Juni 2018 lalu. Karya terbaru penulis adalah novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017). Penulis mengajar di salah satu sekolah swasta Solo . Kontak Penulis: 085802474575 (WA/ Telefon). Email: thomithomas78@gmail.com, dan No rekening: BTN 00191-01-61-018746-7. Facebook: Thomas Elisa P. Karya terbaru penulis dimuat dalam media Poros Pemalang (2021), Tegas.Id (2021) Opini.Id (2021), Marewai (2021), Suku Sastra (2021), Ruang Jaga (2021), Rembukan.com (2021), Radar Pekalongan (2022), Harian Bhirawa, Jawapos Radar Madiun.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid