Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Obituari Cinta dan Syair Thomas Elisa Lainnya

Nur Wachid • Jumat, 9 Februari 2024 | 16:30 WIB
(ILUSTRASI: DOK. JAWA POS RADAR MADIUN)
(ILUSTRASI: DOK. JAWA POS RADAR MADIUN)

Oleh: Thomas Elisa

OBITUARI CINTA

Seperti cinta Joki Tobing*

Aku adalah rumput yang diasuh kemarau

Keras mengering memandang nyiur kelopakmu

Tubuhku kian renta tertiup angin Agustus

Meski akar-akarku masih menjejak mimpi kita

 Baca Juga: Palsu

Cinta tak seperti ingatan masa kanak kita

Pertemuan tak melulu jadi almanak kebahagiaan

Kadang pertemuan adalah pertempuran hebat

Antara keberanianku yang terus gugur pada nasib

Tanpa tahu kapan serabut akarku mencapai pelepahmu

 Baca Juga: RUNTUHNYA TEATER JURAGAN

Catatlah baik-baik kekasih

Tentang segala  riwayat upayaku

Menahan guncangan topan dan gelombang panas

Demi kucapai erat gundukan tanahmu

Dan kubaringkan tubuhku di beranda  semimu 

Meski upayaku tak ubahnya menjaring kesia-siaan

(Surakarta, 2023)

*joki tobing : nama tokoh dalam Puisi WS Rendra

 Baca Juga: HARI-HARI YANG PANJANG

 

 

 

 

 

 

CINTA GENERASI SANDWITCH

Kota telah menjelma layar digital

Yang  mengabarkan padaku

Bahwa mencintaimu haruslah bulat utuh

Dengan empat kaki yang kencang berlari

Menjemput sigap setiap rindu dan cemasmu

Tanpa sehelai goresan boleh melukaimu

 Baca Juga: Merayu Malam dan Puisi De Eka Putrakha Lainnya

Aku cemas membaca pesan-pesan digital

Cinta haruslah presisi  360 derajat

Padahal buku-buku filsafat mengajarkan

Cinta adalah angin yang melubangi batu

Kecepatan dan waktu hanyalah igau rembulan

Yang sering menjebak pada kabut ketersesatan

 Baca Juga: Menjadi Apatis Itu Perlu

Kota makin ketat mempersyaratkan cinta

Telah diukurkan pada tiap lelaki

Mencintaimu haruslah menggengam

Sepasang gedung  bernafas Anggun

Halaman yang luas tanpa debu dan cemar

Agar setiap kisah tak dibekuk dimensia

Dan kenangan tak tercecer angin sakal

 Baca Juga: Puisi Cak Uki

Namun, kota lupa mencatat

Gedung-gedung tersebut akan runtuh

Menjadi puing-puing tanpa arti

Sebab cinta adalah rumah

Yang tak perlu memerlukan sangkar

Cukup doa-doa untuk mengekalkan rasa sabar

Baca Juga: 2024 Membangun Jembatan Pendidikan Menuju Masa Depan Baik

Pada sajak ini, kukabarkan padamu

Aku akan menepi dari sorot layar kota

Berpulang pada cinta yang lebih sederhana

Dengan rindu yang tak perlu sandi dan enkripsi

Berbaring pada gubuk penuh lesung malam kedamaian

Supaya kota belajar dari  kolosal kisah kita

(Surakarta, 2023)

(untuk Yuana Ardias)

Jarak kita hanya lima depa jauhnya

Kau termangu di bibir stasiun

Sedang aku gusar di selasar peron

Mengingat  belum kuselesaikan

Jahitan rindu pada kemeja milikmu

Sementara hari-hari esok sudah menunggu

Merayakan sepinya hatimu dengan warna-warni

 Baca Juga: Puisi-puisi Damay Ar-Rahman

Kau masih ingin melekatkan sekali lagi

Lentik lidahmu pada langit-langit stalaktitku

Mengapurkan sisa-sisa senja yang jadi benalu

Sebelum malam melahap tulang-tulang lelahku

Bersama suara dengung keberangkatan kereta 

Aku tahu segala perpisahan adalah bilur pilu

Hanya para penipu belaka yang berujar

Perpisahan merupakan adegan paling romantis

Kau pun tahu, itu hanya terjadi pada drama sandiwara

Dengan aktor-aktor mahal yang tak mengalaminya

Baca Juga: Hari Bebas Bicara: Mendedah Realitas Bermedia Sosial di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia

 

MEDIA SOSIAL

Laiknya tempat ibadah

orang-orang berduyun dan tergesa

mengetik segala macam hasrat keinginan

memilih pelbagai rupa warna emoticon 

memampang tragedi yang menimpa silih berganti

dengan harapan tuhan yang di atas bumbungan

membaca lebih cepat  nasib yang dianggap mengenaskan

“aku perlu uang tambahan” tulis salah seorang

“aku ingin pendamping kaya raya” tulis yang lain

“tuhan aku perlu rumah baru” kata akun tak bernama

“tuhan aku butuh mobil baru” cuit lainnya

mereka berharap tuhan segera menuliskan komentarnya

Baca Juga: Abimanyu Silakan Gugur 

Tuhan yang mereka sangka di atas bumbungan

rupanya  semakin jauh terasing di dunia maya

wajahnya tersingkir bersama dekil kaum semenjana

dalam media sosial tuhan kian meredup samar 

ditimbun keangkuhan yang merajalela di tiap postingan

(Surakarta, 2023)

 

Baca Juga: Bahasa Jawa, K-pop, dan Gen Z

 

 

 

 

 

 

 

SAJAK PAGI

Pagi selalu datang dengan caranya

membentangkan spanduk seluas jagat raya

memadamkan gelap yang semalaman menyala

lalu seperti ibu ia menuju ke arah dapur

menyiapkan kita menu bernama  nasib

Almanak menandai hari baru buat kita

dengan terpaksa kita kembali ke perlombaan

padahal kita masih  ingin memanjangkan mimpi

memulihkan nafas dalam tidur  pulas

dan terbangun sesukanya seperti masa kanak-kanak

Namun semuanya urung kita lakukan

pagi memanggil kita seperti suara ibu dulu:

“bangun,  malas adalah sakit yang membinasakan”

tapi luka  yang membiru pada tubuh diabaikannya

pikirnya hari baru semuanya telah sembuh

Baca Juga: Kelir Cerita di Balik Persembunyian Ilyas Hussein

BIODATA SINGKAT: Thomas Elisa, lahir 21 September 1996 di kota Surakarta. Penulis tinggal di Pucangsawit RT 01/RW 03, Kecamatan Jebres, Surakarta.Menyelesaikan program Strata-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) pada Juni 2018 lalu. Karya terbaru penulis adalah novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017). Penulis mengajar di salah satu sekolah swasta Solo . Kontak Penulis: 085802474575 (WA/ Telefon). Email: thomithomas78@gmail.com, dan  No rekening: BTN 00191-01-61-018746-7.  Facebook: Thomas Elisa P. Karya terbaru penulis dimuat dalam media Poros Pemalang (2021), Tegas.Id  (2021)  Opini.Id  (2021), Marewai (2021), Suku Sastra (2021),  Ruang Jaga (2021), Rembukan.com (2021), Radar Pekalongan (2022), Harian Bhirawa, Jawapos Radar Madiun.


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

 

Editor : Nur Wachid
#syair #thomas elisa #obituari cinta #puisi