Jawa Pos Radar Lawu - Bayangkan memasuki gua yang gelap gulita, dengan lantai dipenuhi kotoran kelelawar. Di tengah kondisi ekstrem tersebut, ternyata ada predator yang menunggu mangsa datang. Bukan ular atau mamalia malam, melainkan buaya kerdil yang diam-diam berburu kelelawar.
Perilaku tidak biasa itu akhirnya terekam kamera dalam gua bawah tanah di Gabon, Afrika Tengah. Rekaman tersebut memperlihatkan buaya kerdil (Osteolaemus tetraspis) menangkap kelelawar, sebuah perilaku berburu yang sebelumnya belum pernah terdokumentasikan secara langsung.
Buaya Kerdil Berburu di Dalam Gua
Buaya kerdil merupakan salah satu spesies buaya berukuran paling kecil di dunia. Hewan ini biasanya memiliki panjang sekitar 1,5 meter dan hidup di wilayah Afrika Barat serta Afrika Tengah, termasuk hutan, sungai, rawa, dan lingkungan permukaan lainnya.
Namun, kelompok yang ditemukan di Abanda Caves, Gabon, memiliki gaya hidup yang jauh berbeda. Buaya-buaya tersebut menghabiskan waktu di lingkungan bawah tanah yang gelap dan terpencil.
Keberadaan populasi buaya di dalam gua sebenarnya telah diketahui sejak 2008. Para peneliti sebelumnya juga sudah mengetahui bahwa buaya tersebut memakan kelelawar dan serangga. Masalahnya, mereka tidak pernah berhasil menyaksikan langsung bagaimana reptil itu menangkap mangsanya.
Buaya justru cenderung tidak menunjukkan perilaku berburu ketika manusia berada di dalam gua.
"Saya telah mempelajari populasi ini selama hampir 15 atau 16 tahun, dan itu adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat. Tidak peduli seberapa dalam saya berada di antara guano kelelawar atau berapa lama saya menghabiskan waktu di dalam gua, setiap kali saya berada di sana, buaya-buaya itu tidak melakukan apa yang biasanya mereka lakukan," kata Matt Shirley, ahli ekologi konservasi dan Rolex National Geographic Perpetual Planet Explorer, kepada Live Science.
Kamera Jarak Jauh Mengungkap Aksi yang Selama Ini Tersembunyi
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti dan pembuat film menggunakan kamera khusus yang dapat bekerja dari jarak jauh. Cara ini memungkinkan mereka mengamati buaya tanpa mengganggu aktivitas alaminya.
Hasilnya, kamera berhasil merekam buaya kerdil melakukan serangan terhadap kelelawar di dalam gua.
Rekaman tersebut menjadi penting karena memberikan gambaran langsung mengenai pola berburu populasi buaya yang hidup di bawah tanah. Para peneliti kini dapat mempelajari bagaimana hewan tersebut mencari makanan dan bertahan di lingkungan yang sangat berbeda dari habitat buaya kerdil pada umumnya.
Hidup di Tengah Lautan Kotoran Kelelawar
Kehidupan di Abanda Caves bukan sesuatu yang mudah. Gua tersebut dipenuhi kelelawar dan tumpukan guano atau kotoran kelelawar.
Kondisinya bahkan bisa berubah drastis tergantung cuaca. Saat musim kering, guano dapat membentuk lapisan tebal yang terasa seperti permukaan empuk. Ketika hujan turun, kondisinya berubah menjadi lumpur guano yang sulit dilewati.
Shirley menggambarkan pengalaman peneliti ketika memasuki gua tersebut:
"Jika sedang musim kemarau, Anda seolah berdiri di atas kasur empuk yang terbuat dari guano kelelawar. Namun, jika turun hujan, Anda akan berada di dalam lumpur guano kelelawar. Terkadang, saat menangkap buaya, saya benar-benar harus berdiri dengan tubuh terendam guano hingga leher atau berbaring untuk merangkak melewati terowongan dan bergerak di dalam lumpur guano dari ujung kepala hingga kaki," ujarnya.
Meski terdengar ekstrem, lingkungan tersebut justru menyediakan sumber makanan yang melimpah bagi buaya.
Baca Juga: Fosil 97 Juta Tahun Ini Ungkap “GPS” Alami, Hewan Purba Ternyata Bisa Menentukan Arah
Tubuhnya Berubah Menjadi Oranye
Adaptasi terhadap lingkungan gua juga terlihat dari perubahan fisik buaya. Paparan terus-menerus terhadap guano kelelawar yang bersifat asam membuat kulit abu-abu buaya mengalami perubahan dan tampak berwarna oranye.
Penelitian sebelumnya yang melibatkan populasi buaya di gua dan buaya yang hidup di hutan menunjukkan bahwa buaya penghuni gua sering kali memiliki kondisi tubuh yang lebih baik.
Salah satu dugaan penyebabnya adalah ketersediaan makanan. Selain kelelawar dan serangga yang melimpah, buaya di dalam gua juga relatif terbebas dari sejumlah predator yang dapat mengancam mereka di habitat luar.
Bisa Jadi Sedang Mengalami Evolusi di Dalam Gua
Para peneliti belum mengetahui secara pasti kapan buaya-buaya tersebut mulai menjalani kehidupan bawah tanah. Namun, ada kemungkinan populasi itu telah tinggal di dalam gua selama ribuan tahun.
Populasi tersebut juga memiliki karakteristik genetik yang berbeda karena hidup relatif terisolasi. Buaya yang terus tinggal dan berkembang biak di lingkungan yang sama berpotensi mengakumulasi perbedaan genetik yang membantu mereka menyesuaikan diri dengan kondisi gua.
Shirley bahkan menggambarkan fenomena tersebut sebagai contoh evolusi yang sedang berlangsung.
"Ini benar-benar seperti dalam film Jurassic Park—sebuah gambaran bahwa kehidupan selalu menemukan jalan," kata Shirley. "Inilah evolusi yang sedang berlangsung."
Populasi Gua Menghadapi Ancaman
Di balik keunikan tersebut, keberadaan buaya kerdil tetap menghadapi ancaman. Spesies ini masuk kategori rentan terhadap kepunahan menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), meskipun penilaian status konservasinya sudah cukup lama dan kondisi terkini belum sepenuhnya diketahui.
Buaya kerdil juga menghadapi tekanan akibat perburuan untuk konsumsi serta kehilangan habitat.
Kondisi populasi yang tinggal di Abanda Caves menjadi perhatian tambahan karena kawasan gua tersebut berada di luar area perlindungan resmi Gabon. Artinya, aktivitas manusia di sekitar kawasan dapat memberikan risiko terhadap kelompok buaya yang sangat khusus ini.
Pemerintah Gabon kini tengah menjalani proses untuk memberikan perlindungan khusus terhadap gua tersebut.
"Saya rasa kita tidak perlu mengkhawatirkan kepunahan spesies ini, tetapi sampai penetapan kawasan lindung tersebut terwujud, populasi buaya di dalam gua jelas berada dalam risiko," ujar Shirley.
Rekaman terbaru ini bukan hanya memperlihatkan cara berburu yang sebelumnya tersembunyi. Lebih jauh, temuan tersebut menunjukkan bagaimana seekor predator kecil mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstrem hingga menjadikan gua gelap sebagai rumah sekaligus tempat mencari makan.
(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Live Science