NASA Ingin Mengintip Bawah Permukaan Bulan, Ada Gua Besar Tersembunyi?

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 18:12 WIB
NASA menyelidiki lubang misterius di Bulan yang diduga terhubung gua raksasa (NASA/GSFC/Arizona State University)
NASA menyelidiki lubang misterius di Bulan yang diduga terhubung gua raksasa (NASA/GSFC/Arizona State University)

Jawa Pos Radar Lawu - Dari permukaan Bulan, sebuah lubang besar tampak seperti cekungan biasa. Namun, para ilmuwan menduga ada sesuatu yang jauh lebih besar tersembunyi di bawahnya. Lubang tersebut mungkin menjadi pintu masuk menuju gua atau terowongan lava yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik jutaan tahun lalu.

NASA kini memilih proyek GIMLI (Geophysical Instruments for Marius Lunar pit Investigation) untuk menyelidiki dugaan tersebut secara langsung. Proyek yang dipimpin Planetary Science Institute (PSI) akan memeriksa Marius Hill Pit (MHP), sebuah lubang besar di wilayah Bulan yang memiliki sejarah vulkanik sangat kompleks.

Jika benar terdapat gua atau tabung lava di bawah permukaannya, struktur tersebut tidak hanya penting untuk memahami sejarah Bulan. Ruang bawah tanah itu juga berpotensi menjadi tempat berlindung alami bagi astronaut dari radiasi serta perubahan suhu ekstrem di permukaan Bulan.

Baca Juga: Kini Tak Hanya Mars Saja, Bulan Mars Pun Juga Akan Diteliti Melalui Projek MMX

NASA Akan Mencari Apa yang Ada di Bawah Bulan

Selama ini, keberadaan gua dan tabung lava di bawah permukaan Bulan baru didukung oleh pengamatan dari orbit. GIMLI akan mengambil langkah berbeda dengan membawa instrumen langsung ke permukaan Bulan.

Proyek tersebut akan menggunakan lander dan rover yang disediakan melalui program Commercial Lunar Payload Services (CLPS). PSI bekerja sama dengan Honeybee Robotics untuk membangun berbagai perangkat yang diperlukan dalam misi, sementara Norwegian Space Agency juga menjadi mitra dalam proyek ini.

Pemimpin proyek GIMLI, Than Putzig, mengatakan:

"Sudah lama saya ingin memperkenalkan kembali metode seismik aktif dengan sumber yang disengaja ke dalam ilmu keplanetan, karena metode ini pada dasarnya belum pernah digunakan lagi sejak para astronaut Apollo melakukan survei seismik pertama di Bulan."

Dengan pendekatan tersebut, ilmuwan tidak hanya akan mengandalkan foto dari permukaan. Mereka akan mencoba membaca struktur bawah tanah secara langsung.

Radar dan Sensor Gempa Jadi “Mata” di Bawah Permukaan

GIMLI akan menggabungkan beberapa jenis instrumen untuk mengetahui apakah Marius Hill Pit memiliki ruang kosong besar di bawahnya.

Peralatan yang digunakan mencakup:

•Radar penembus tanah, untuk memeriksa struktur di bawah permukaan.

•Sensor seismik, untuk mempelajari respons material bawah tanah terhadap gelombang seismik.

•Gravimeter, untuk mendeteksi perubahan gravitasi yang dapat memberikan petunjuk mengenai struktur bawah tanah.

•Kamera, untuk mengambil gambar permukaan Bulan serta dinding bagian dalam lubang.

Kombinasi metode tersebut diharapkan dapat membantu peneliti menentukan apakah terdapat rongga atau tabung lava yang memanjang dari Marius Hill Pit. Jika ditemukan, data tersebut juga dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran struktur bawah tanah tersebut.

Putzig menjelaskan:

"Menggabungkan metode tersebut dengan radar penembus tanah dan pengukuran gravitasi membuatnya semakin menarik. Bersama-sama, metode ini akan membantu kita memahami sifat bawah permukaan dengan lebih baik, termasuk mendeteksi tabung lava yang diperkirakan memanjang dari lubang Marius Hills."

Kalau Tidak Ada Gua, Misi Ini Tetap Penting

Menariknya, GIMLI tidak akan dianggap gagal jika ternyata tidak menemukan gua atau tabung lava.

Lubang Marius Hill Pit sendiri menyimpan pertanyaan geologi yang belum terjawab. Para ilmuwan ingin mengetahui bagaimana lubang tersebut terbentuk dan apa yang terjadi di wilayah tersebut pada masa lalu.

Dinding lubang bahkan memperlihatkan lapisan regolit dan aliran lava yang biasanya tertutup di bawah permukaan. Dengan mempelajari lapisan tersebut, peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana lava pernah bergerak di permukaan maupun bawah permukaan Bulan.

Mereka juga dapat menyelidiki apakah aktivitas letusan vulkanik terjadi secara berdekatan atau justru dipisahkan oleh jeda waktu yang sangat panjang.

Baca Juga: NASA Tangkap Objek Mirip Ubur-Ubur di Mars, Ternyata Bukan Makhluk Hidup

Lubang Bulan Bisa Jadi Jendela Sejarah Vulkanik

Wilayah sekitar Marius Hill Pit memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang panjang. Karena itu, lubang tersebut dianggap sebagai lokasi yang menarik untuk mempelajari masa lalu Bulan.

Jika terdapat ruang bawah tanah yang terhubung dengan lubang tersebut, struktur itu mungkin menyimpan petunjuk tambahan mengenai proses vulkanik yang membentuk permukaan Bulan.

Gareth Morgan, ilmuwan senior PSI sekaligus Deputy Principal Investigator program GIMLI, menjelaskan:

"Memastikan keberadaan tabung lava yang besar akan memberi kita wawasan tentang bagaimana aktivitas vulkanik berlangsung di Bulan. Tabung lava merupakan fitur umum dalam aktivitas vulkanik basaltik di Bumi. Jika kita menemukannya di Bulan, pengetahuan tentang gua-gua serupa di Bumi dapat digunakan untuk memahami sejarah Bulan dengan lebih baik."

Mengapa Gua di Bulan Menarik bagi Astronaut?

Selain kepentingan ilmiah, keberadaan gua atau tabung lava dapat memiliki manfaat untuk eksplorasi manusia di masa depan.

Permukaan Bulan menghadapi kondisi yang sangat keras. Astronaut harus berhadapan dengan radiasi dan perubahan temperatur yang ekstrem karena Bulan tidak memiliki atmosfer tebal seperti Bumi.

Ruang bawah tanah yang terbentuk secara alami berpotensi memberikan perlindungan tambahan dari lingkungan tersebut. Karena itu, gua Bulan tidak hanya menarik bagi ahli geologi, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai tempat tinggal atau perlindungan bagi astronaut di masa depan.

Namun, potensi tersebut masih bersifat kemungkinan. GIMLI terlebih dahulu harus memastikan apakah ruang bawah tanah yang diduga itu benar-benar ada dan seberapa besar ukurannya.

Marius Hill Pit Jadi Target Utama

Marius Hill Pit berada di salah satu kawasan Bulan yang memiliki keragaman aktivitas vulkanik tinggi. Lubang tersebut termasuk dalam sejumlah lunar pits yang diduga dapat menjadi akses menuju struktur bawah tanah yang terbentuk dari aktivitas vulkanik kuno.

Selama ini, para ilmuwan telah memperoleh bukti dari pengamatan orbit yang menunjukkan kemungkinan adanya gua dan tabung lava di bawah permukaan Bulan.

GIMLI akan mencoba mengubah dugaan tersebut menjadi bukti langsung dengan melakukan pengukuran dari permukaan.

Dengan membawa radar, sensor seismik, gravimeter, dan kamera, misi ini dapat memberikan gambaran yang jauh lebih jelas mengenai apa yang sebenarnya berada di bawah lubang tersebut.

NASA Mulai Membongkar Misteri Bawah Permukaan Bulan

NASA memilih GIMLI melalui program Payloads and Research Investigations on the Surface of the Moon (PRISM). Program tersebut mengirimkan instrumen ilmiah ke permukaan Bulan menggunakan wahana yang disediakan oleh perusahaan dalam inisiatif CLPS.

Tim GIMLI melibatkan sejumlah peneliti dari berbagai institusi, termasuk Boise State University, Johns Hopkins University, Lunar and Planetary Institute, dan University of Oslo. Norwegian Space Agency juga akan menyediakan radar penembus tanah untuk proyek tersebut.

Pada akhirnya, misi ini bisa memberikan dua kemungkinan menarik. Jika tabung lava ditemukan, ilmuwan akan mendapatkan bukti baru mengenai aktivitas vulkanik Bulan sekaligus kemungkinan ruang alami yang dapat melindungi astronaut.

Namun, jika struktur tersebut ternyata tidak ada, pengukuran GIMLI tetap dapat membantu menjelaskan bagaimana Marius Hill Pit terbentuk dan bagaimana lava pernah membentuk wilayah tersebut.

Satu lubang di permukaan Bulan pun bisa menjadi jalan untuk mengungkap sejarah yang selama ini tersembunyi jauh di bawah tanah.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
gua bulan astronomi luar angkasa nasa bulan