Jawa Pos Radar Lawu - Setelah lebih dari satu abad tanpa penemuan spesies penguin baru, para ilmuwan kembali mencatat temuan penting dari wilayah terpencil di Samudra Hindia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penguin gentoo yang selama ini dianggap sebagai satu kelompok ternyata terdiri dari empat garis evolusi berbeda. Salah satunya bahkan belum pernah dikenali sebagai spesies tersendiri oleh ilmu pengetahuan.
Spesies baru tersebut diberi nama Pygoscelis kerguelensis. Penguin yang juga dikenal sebagai gentoo tenggara ini ditemukan secara genetik di Kepulauan Kerguelen, kawasan sub-Antarktika yang berada sekitar 1.200 mil atau hampir 1.930 kilometer di sebelah utara Antarktika. Temuan ini menjadi penemuan spesies penguin baru pertama dalam lebih dari 100 tahun. Spesies penguin terakhir yang ditemukan sebelumnya adalah northern rockhopper penguin pada 1921.
Penguin Gentoo Ternyata Terdiri dari Empat Spesies
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Communications Biology menemukan adanya empat garis evolusi pada kelompok penguin gentoo. Keempatnya terdiri dari penguin gentoo utara, selatan, tenggara, dan timur.
Menariknya, Pygoscelis kerguelensis secara kasatmata hampir tidak berbeda dari penguin gentoo lainnya. Perbedaan utama baru terlihat melalui pemeriksaan genetik.
Para peneliti menggunakan data genom untuk melihat hubungan evolusi antarpopulasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan genetik di antara kelompok-kelompok tersebut cukup dalam untuk mendukung pengelompokan sebagai spesies yang berbeda.
Empat garis evolusi memiliki wilayah berbeda
Keempat kelompok gentoo tersebut menempati wilayah yang berbeda.
- Gentoo utara (Pygoscelis papua) ditemukan di Kepulauan Falkland dan Kepulauan Martillo.
- Gentoo timur (Pygoscelis taeniata) hidup di Kepulauan Crozet, Marion, dan Macquarie.
- Gentoo selatan merupakan satu-satunya kelompok dari empat garis tersebut yang hidup di Antarktika.
- Gentoo tenggara (Pygoscelis kerguelensis) menempati Kepulauan Kerguelen.
Perbedaan lingkungan tempat tinggal turut membentuk karakter genetik masing-masing kelompok. Penelitian menemukan bahwa gentoo selatan memiliki lebih banyak gen yang berkaitan dengan pembentukan rambut, penyimpanan lemak dan lipid, serta persepsi cahaya. Sementara itu, gentoo timur memiliki lebih banyak gen yang berkaitan dengan kemampuan menyelam dan metabolisme karbohidrat yang lebih efisien.
Perubahan Iklim Jadi Ancaman bagi Penguin Sub-Antarktika
Penemuan spesies baru tersebut juga membawa perhatian terhadap kondisi habitat penguin gentoo di masa mendatang. Para peneliti memperkirakan tiga kelompok, yakni gentoo tenggara, utara, dan timur, berpotensi mengalami kehilangan habitat yang parah.
Sebaliknya, gentoo selatan diperkirakan dapat memperluas wilayah jelajahnya.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan lokasi habitat masing-masing kelompok. Penguin yang hidup di kawasan sub-Antarktika menghadapi tekanan dari perubahan suhu dan pemanasan laut yang dapat mengubah kondisi lingkungan tempat mereka berkembang biak dan mencari makanan.
Juliana Vianna, salah satu penulis senior penelitian sekaligus profesor di Andrés Bello National University di Santiago, Chile, mengatakan:
“In Antarctica, of course, other species, not the gentoo, are threatened by climate change. But the gentoo is of most concern in the sub-Antarctic region,”
Vianna juga menjelaskan bahwa penguin yang hidup di luar Antarktika diperkirakan menghadapi kehilangan habitat akibat perubahan iklim, pemanasan laut, serta kerusakan habitat.
Penemuan Baru Dorong Upaya Konservasi
Bagi para peneliti, pemisahan gentoo menjadi empat spesies bukan sekadar perubahan dalam klasifikasi satwa. Informasi tersebut juga dapat membantu upaya konservasi karena setiap spesies memiliki wilayah hidup dan karakter genetik yang berbeda.
Jika beberapa populasi yang sebelumnya dianggap sebagai satu spesies ternyata merupakan spesies terpisah dengan wilayah geografis lebih terbatas, ancaman terhadap salah satu kelompok dapat lebih mudah terlewatkan.
Vianna menekankan pentingnya tindakan konservasi untuk melindungi tiga spesies gentoo yang diperkirakan menghadapi ancaman habitat.
Ia mengatakan bahwa para ahli konservasi di berbagai negara perlu mengambil langkah untuk melindungi ketiga spesies tersebut.
Temuan Pygoscelis kerguelensis sekaligus menunjukkan bahwa kawasan terpencil masih menyimpan informasi penting mengenai keanekaragaman hayati. Dengan bantuan analisis genetik modern, hewan yang secara fisik terlihat hampir sama ternyata dapat memiliki sejarah evolusi yang berbeda.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada jumlah satwa, tetapi dapat mengancam habitat spesies yang baru saja berhasil dikenali secara ilmiah.
(Silvi Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : people.com