Brown Dwarfs, Benda Langit Aneh di Antara Planet dan Bintang

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 13:09 WIB
Brown Dwarfs 
Source : Nasa
Brown Dwarfs
Source : Nasa

Jawa Pos Radar Lawu - Di alam semesta, ada benda langit yang sulit dimasukkan begitu saja ke dalam kategori planet maupun bintang sehingga benda tersebut dikenal sebagai brown dwarfs atau katai cokelat, objek kosmik yang memiliki karakteristik di antara keduanya.

Brown dwarfs terbentuk dengan cara yang mirip bintang, tetapi tidak memiliki massa yang cukup untuk menjalankan fusi hidrogen secara berkelanjutan seperti bintang.

Di sisi lain, ukurannya jauh lebih besar dibandingkan planet raksasa gas seperti Jupiter sehingga keunikan tersebut membuat brown dwarfs menjadi salah satu objek yang menarik perhatian astronom.

Baca Juga: NASA Ajak Publik Amati Bulan dalam International Observe the Moon Night 2026

1. Bukan Planet, tetapi Juga Tidak Sepenuhnya Seperti Bintang

Salah satu hal paling menarik dari brown dwarfs adalah posisinya yang berada di antara planet dan bintang karena apabila bintang terbentuk ketika awan gas dan debu runtuh akibat gravitasi hingga membentuk inti yang sangat padat dan panas.

Jika memiliki massa yang cukup, tekanan dan suhu di bagian inti dapat memungkinkan terjadinya fusi nuklir yang membuat bintang menghasilkan energinya sendiri.

Brown dwarfs juga terbentuk melalui keruntuhan gas akibat gravitasi meskipun massanya tidak cukup besar untuk mempertahankan fusi hidrogen seperti yang terjadi pada bintang.

Karena itulah brown dwarfs terkadang dijuluki “bintang gagal” karena menggambarkan kegagalannya mencapai kondisi yang diperlukan untuk menjadi bintang, bukan berarti objek ini benar-benar merupakan bintang yang gagal terbentuk.

2. Massanya Bisa Puluhan Kali Lebih Besar dari Jupiter

Meski disebut “kerdil”, brown dwarfs bukanlah benda kecil seperti yang mungkin dibayangkan dari namanya karena dapat memiliki massa hingga sekitar 70 kali massa Jupiter sehingga ukurannya jauh melampaui planet raksasa gas.

Baca Juga: Seperti Negeri Ajaib, Begini Pemandangan Musim Dingin di Planet Mars

Namun, memiliki massa besar tidak otomatis membuatnya menjadi bintang karena batas antara planet raksasa dan brown dwarfs berkaitan dengan bagaimana objek tersebut terbentuk dan karakteristik fisiknya.

3. Brown Dwarfs Tidak Menghasilkan Cahaya Seperti Bintang

Bintang seperti Matahari menghasilkan cahaya dan panas melalui proses fusi nuklir di bagian intinya namun berbeda dengan brown dwarfs tidak memiliki massa yang cukup untuk menjalankan proses tersebut seperti bintang.

Meski begitu, brown dwarf bukan berarti benar-benar tidak memancarkan energi namun masih dapat memancarkan radiasi, terutama dalam bentuk cahaya inframerah.

Seiring waktu, brown dwarfs semakin mendingin dan semakin redup sehingga sulit untuk ditemukan jika hanya mengandalkan pengamatan dalam cahaya tampak.

4. Atmosfernya Mirip Planet

Keunikan brown dwarfs tidak hanya terletak pada massanya namun juga memiliki beberapa karakteristik yang mengingatkan astronom pada planet.

Brown dwarfs dapat memiliki atmosfer kompleks dengan awan dan berbagai molekul, termasuk molekul air atau H₂O sehingga tidak terlalu terang seperti bintang dan relatif lebih mudah dipelajari dibandingkan atmosfer banyak eksoplanet. 

Atmosfer eksoplanet biasanya berada sangat dekat dengan bintang induknya sehingga cahaya bintang dapat menyulitkan pengamatan.

5. Warnanya Tidak Selalu Benar-Benar Cokelat

Nama brown dwarfs atau katai cokelat sebenarnya tidak berarti objek tersebut terlihat seperti bola berwarna cokelat di langit.

Brown dwarfs sangat redup dalam cahaya tampak karena sebagian besar radiasi yang dapat dideteksi berasal dari inframerah, sehingga teleskop inframerah menjadi alat penting untuk mempelajarinya.

Teknologi seperti James Webb Space Telescope memungkinkan astronom mengamati atmosfer brown dwarfs dengan lebih detail, termasuk mempelajari suhu dan komposisi kimianya.

6. Ada Brown Dwarfs yang Sangat Tua dan Miskin Logam

Salah satu contoh menarik datang dari penemuan dua brown dwarfs yang disebut sebagai subdwarf tipe T ekstrem dimana kedua objek tersebut diperkirakan memiliki massa sekitar 75 kali massa Jupiter dan berusia sekitar 10 miliar tahun dan memiliki kandungan besi yang sangat rendah dibandingkan brown dwarf pada umumnya.

Salah satu objek bahkan diperkirakan hanya memiliki sekitar 3 persen kandungan besi dibandingkan Matahari sehingga menyebabkan para astronom tertarik dan dapat memberikan gambaran mengenai benda-benda langit yang terbentuk pada masa ketika unsur-unsur berat seperti besi belum sebanyak sekarang.

Mempelajari brown dwarfs bukan hanya tentang memahami objek aneh di luar angkasa namun juga dapat membantu astronom mempelajari eksoplanet, yaitu planet yang berada di luar Tata Surya.

Benda langit ini menjadi semacam jembatan untuk memahami perbedaan antara planet dan bintang sekaligus memperlihatkan bahwa alam semesta tidak selalu memiliki batas yang sederhana.

(Auliya Nur Aisyah, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Nasa
Brown Dwarfs Bukan planet dan bukan bintang Massanya Bisa Puluhan Kali Lebih Besar dari Jupiter Tidak Menghasilkan Cahaya Warnanya Tidak Selalu Cokelat