Source : Nasa
Jawa Pos Radar Lawu - Langit malam pada Agustus kembali menghadirkan salah satu fenomena astronomi yang paling ditunggu oleh para pecinta dan penikmat pemandangan langit dan seisinya.
Hujan meteor Perseid 2026 telah aktif sejak awal Juli dan akan berlangsung hingga 24 Agustus yang puncaknya terjadi pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026, ketika meteor-meteor tampak melesat melintasi langit.
Perseid dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling populer karena menghasilkan meteor yang terang dan bergerak cepat.
Dalam kondisi langit yang gelap, pengamat dapat melihat sekitar 25 meteor per jam, meskipun jumlah yang terlihat dapat berbeda bergantung pada kondisi lokasi dan cuaca.
Baca Juga: 9 Fenomena Langit Juni 2026: Jadwal Lengkap Strawberry Moon, Hujan Meteor, hingga Konjungsi Planet
Hujan Meteor Perseid 2026 Capai Puncaknya
Hujan meteor Perseid berasal dari serpihan yang ditinggalkan oleh komet 109P/Swift-Tuttle ketika mengorbit Matahari karena etiap tahun, Bumi melewati jalur puing tersebut sehingga partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dan menghasilkan garis cahaya yang terlihat dari permukaan Bumi.
Pada 2026, Perseid aktif hingga 24 Agustus, dengan malam puncak berlangsung pada 12-13 Agustus.
Fakta Singkat Perseid
Komet asal: 109P/Swift-Tuttle
Titik pancaran: Konstelasi Perseus
Periode aktif: Hingga 24 Agustus 2026
Malam puncak: 12-13 Agustus 2026
Meteor di bawah langit gelap: Sekitar 25 meteor per jam
Kecepatan meteor: Sekitar 59 km per detik
Mengapa Perseid Bisa Menghasilkan Meteor Terang?
Perseid terkenal dengan meteor yang cepat dan terang dan bahkan sebagian meteor bahkan dapat meninggalkan jejak cahaya yang cukup panjang ketika memasuki atmosfer Bumi.
Fenomena yang menarik lainnya adalah bola api, yaitu meteor yang tampak jauh lebih terang dan dapat bertahan lebih lama dibandingkan meteor biasa namun berasal dari material komet yang berukuran lebih besar.
Baca Juga: Hidden Gem di Flores! Bukit Liaga Kotabaru Sajikan Panorama Alam yang Masih Asri
Dari Mana Meteor Perseid Berasal?
Meteor sebenarnya merupakan partikel kecil dari komet atau pecahan asteroid karena ketika sebuah komet bergerak mengelilingi Matahari, benda tersebut meninggalkan debu dan serpihan di sepanjang jalurnya.
Saat Bumi melewati jalur tersebut, serpihan memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi yang menimbulkan gesekan dengan atmosfer kemudian membuatnya berpijar sehingga terlihat seperti garis cahaya yang melintas di langit.
Komet 109P/Swift-Tuttle
Komet 109P/Swift-Tuttle membutuhkan waktu sekitar 133 tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Matahari dan ditemukan pada 1862 oleh Lewis Swift dan Horace Tuttle.
Pada 1865, astronom Giovanni Schiaparelli menyadari bahwa Swift-Tuttle merupakan sumber material yang menghasilkan hujan meteor Perseid sekaligus terakhir kali memasuki bagian dalam tata surya pada 1992.
Mengapa Disebut Perseid?
Nama Perseid berasal dari konstelasi Perseus, tempat titik pancaran meteor tampak berada yang disebut dengan disebut radiant.
Meski demikian, Perseus bukanlah sumber meteor karena konstelasi tersebut hanya membantu pengamat menentukan dari mana meteor Perseid tampak berasal ketika melihatnya di langit malam.
Tips Menyaksikan Hujan Meteor Perseid
Pengamatan Perseid paling baik dilakukan dari lokasi yang minim polusi cahaya sebagian pengamat di Belahan Bumi Utara memiliki kondisi yang lebih ideal untuk menyaksikan fenomena ini.
Waktu terbaik biasanya berada pada jam-jam sebelum fajar, meskipun beberapa meteor terkadang sudah dapat terlihat mulai sekitar pukul 22.00.
Agar pengamatan lebih nyaman, pilih tempat dengan pandangan langit yang luas dan beri waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kondisi gelap karena tidak diperlukan teleskop untuk menikmati hujan meteor karena fenomena ini dapat diamati dengan mata telanjang.
(Auliya Nur Aisyah, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : science.nasa.gov