Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tak Hanya di Korea Selatan, Anomali Cuaca Juga Terjadi di Sejumlah Negara

Indi Wardani • Senin, 14 April 2025 | 14:34 WIB
Ilustrasi anomali cuaca
Ilustrasi anomali cuaca

Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena salju yang turun di Seoul, Korea Selatan, pada pertengahan April 2025 mengejutkan banyak pihak.

Salju yang turun saat bunga sakura mekar bukan hanya menciptakan pemandangan yang tidak biasa, tapi juga menandai adanya anomali cuaca yang lebih luas.

Ternyata, Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang mengalami cuaca ekstrem dan tak terduga belakangan ini.

Sejumlah negara lain di berbagai belahan dunia juga melaporkan kondisi cuaca yang jauh dari normal untuk musimnya.

Jepang: Hujan Salju di Tengah Mekarnya Sakura

Tak jauh dari Korea Selatan, Jepang juga mengalami fenomena serupa.

Di beberapa wilayah seperti Tohoku dan Hokkaido, salju turun meskipun kalender menunjukkan pertengahan musim semi.

Di Tokyo, suhu sempat turun drastis hingga 3 derajat Celsius pada malam hari, padahal minggu sebelumnya suhu sempat mencapai 20 derajat.

Foto-foto bunga sakura yang tertutup salju beredar luas di media sosial, memperkuat kesan betapa ganjilnya musim semi tahun ini.

India: Gelombang Panas Ekstrem dan Badai Debu

Sementara di bagian selatan Asia, India tengah bergulat dengan gelombang panas ekstrem.

Di negara bagian Rajasthan dan Gujarat, suhu udara melonjak hingga 46 derajat Celsius, bahkan sebelum musim panas mencapai puncaknya.

Tidak hanya panas, badai debu besar melanda beberapa wilayah utara India, menyebabkan jarak pandang turun drastis dan gangguan transportasi.

Fenomena ini muncul lebih awal dari biasanya, mengindikasikan pola cuaca yang makin tidak stabil.

Eropa Tengah: Salju Mendadak Setelah Cuaca Hangat

Di Eropa, sejumlah negara seperti Jerman, Polandia, dan Republik Ceko juga mengalami anomali cuaca.

Setelah menikmati suhu hangat di awal April—dengan suhu yang mencapai 22–25 derajat Celsius—tiba-tiba salju kembali turun di beberapa wilayah dataran tinggi dan bahkan kota-kota besar seperti Berlin dan Krakow.

Penurunan suhu drastis dalam waktu kurang dari 24 jam ini memicu peringatan dari otoritas cuaca dan gangguan pada sektor pertanian yang telah bersiap menyambut musim tanam.

Amerika Serikat: Banjir di Timur, Kekeringan di Barat

Di Amerika Serikat, ketidakseimbangan cuaca juga mencolok.

Wilayah timur seperti New York dan Pennsylvania dilanda banjir bandang akibat hujan lebat berkepanjangan.

Sementara itu, bagian barat seperti California dan Nevada justru mengalami kekeringan yang makin parah, dengan cadangan air di bendungan-bendungan utama terus menipis.

Kontras yang mencolok ini memperkuat sinyal bahwa sistem iklim global mengalami tekanan besar.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Para ahli iklim menyebut fenomena ini sebagai bagian dari disrupsi pola iklim global, yang dipengaruhi oleh kombinasi perubahan iklim jangka panjang dan efek jangka pendek seperti fenomena El Niño.

Perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, misalnya, telah menyebabkan ketidakseimbangan sirkulasi udara yang berdampak ke banyak wilayah di dunia.

“Cuaca ekstrem saat ini bukanlah hal yang kebetulan atau insidental.

Kita melihat pola baru yang muncul lebih sering, lebih kuat, dan lebih sulit diprediksi,” ujar Dr. Lena Hofmann, pakar klimatologi dari Jerman, dalam wawancara dengan Deutsche Welle.

Fenomena-fenomena ini menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan sekadar teori, tetapi realitas yang kini kita hadapi bersama.

Cuaca yang dulunya bisa diprediksi dengan musiman, kini semakin sulit ditebak.

Ketidakpastian ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan hidup sehari-hari, tetapi juga berdampak besar pada sektor pertanian, energi, dan kesehatan masyarakat. (*)

Editor : Riana M.
#Negara #seoul #anomali cuaca #korea selatan