Jawa Pos Radar Lawu – Di tengah persiapan umat Muslim menyambut Idulfitri, tragedi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan.
UNICEF melaporkan bahwa 322 anak telah tewas dalam 10 hari terakhir akibat serangan yang terus berlanjut di wilayah tersebut.
Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya korban jiwa di Gaza, terutama di kalangan anak-anak.
“Setiap hari, semakin banyak nyawa anak-anak yang melayang akibat kekerasan yang tak kunjung usai. Ini adalah tragedi yang tidak bisa diterima,” ujar Russell dalam pernyataan resminya.
Sejak konflik kembali memanas, ribuan warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, kehilangan tempat tinggal dan kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, serta layanan medis.
Serangan terbaru menghancurkan berbagai fasilitas penting, termasuk rumah sakit dan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil.
Badan-badan kemanusiaan terus menyerukan gencatan senjata segera agar bantuan bisa masuk ke Gaza.
Namun, hingga kini, seruan tersebut belum membuahkan hasil.
Sementara itu, umat Muslim di berbagai belahan dunia yang bersiap menyambut Idulfitri turut berduka atas situasi yang dialami saudara-saudara mereka di Palestina.
PBB dan komunitas internasional kembali mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan mencari solusi damai agar tidak semakin banyak nyawa yang melayang, terutama di kalangan anak-anak yang seharusnya dilindungi dari dampak perang.
Baca Juga: 5 Amalan Sunnah di Bulan Syawal yang Dianjurkan untuk Dilaksanakan Bagi Umat Islam
Militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi mendesak untuk kota Rafah dan sekitarnya di Gaza selatan.
Langkah ini diambil menjelang operasi militer besar-besaran guna menargetkan kemampuan organisasi teroris di wilayah tersebut.
Perintah ini mempengaruhi puluhan ribu warga, memaksa mereka mencari perlindungan di area yang sudah padat seperti Al Mawasi, yang meskipun menjadi tempat penampungan, juga sering menjadi sasaran serangan.
Sejak gencatan senjata berakhir pada 18 Maret, lebih dari 1.000 orang tewas, memperburuk krisis kemanusiaan dengan blokade terhadap pasokan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan. (*)
Editor : Nur Wachid