Jawa Pos Radar Lawu - Dunia penerbangan dikejutkan oleh kecelakaan pesawat Boeing 737-800 milik Jeju Air di Bandara Internasional Muan, Provinsi Jeolla Selatan, pada Minggu, (29/12/2024).
Insiden kecelakaan pesawat ini memunculkan tanda tanya besar, mengingat Boeing 737-800 dikenal memiliki catatan keselamatan nyaris sempurna.
Editor penerbangan Geoffrey Thomas, melalui wawancara dengan awak media, menyatakan bahwa Boeing 737-800 adalah salah satu pesawat paling andal di dunia.
"Pesawat ini telah digunakan selama 20 tahun dengan 4-5 penerbangan setiap hari. Semua orang tahu cara kerjanya," ujarnya.
Bahkan, ia juga menambahkan bahwa perawatan pesawat di Korea Selatan termasuk yang terbaik di dunia.
Namun, penyebab kecelakaan hingga kini belum sepenuhnya jelas.
Dugaan awal menyebutkan bahwa roda pesawat gagal berfungsi saat pendaratan.
Mantan Inspektur Jenderal Departemen Transportasi AS, Mary Schiavo, menduga salah satu mesin mungkin mati, atau terdapat kerusakan pada indikator pesawat.
"Kemungkinan lain adalah pilot mencoba go-around, membatalkan pendaratan untuk memeriksa roda gigi," jelas Schiavo.
Schiavo juga menyoroti pentingnya pemeriksaan roda pesawat sebelum pendaratan.
"Prosedur standar adalah meminta menara kontrol memastikan posisi roda gigi dengan melakukan flyover landasan pacu," tambahnya.
Sedangkan, kondisi cuaca yang cerah saat kejadian menambah kebingungan atas insiden ini.
Sementara itu, Boeing menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga mereka.
"Kami sedang menjalin komunikasi dengan Jeju Air terkait insiden ini dan siap memberikan dukungan," demikian pernyataan resmi Boeing yang dikutip dari Yonhap News Agency.
Hingga kini, investigasi terus dilakukan untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan. Semua pihak berharap insiden ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi dunia penerbangan. (okta)
Editor : Riana M.