MADIUN, Jawa Pos Radar Lawu – Warga Desa Nglandung, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, digemparkan temuan jasad mengapung di sungai pada Sabtu (10/2) siang.
Sontak saja, kejadian itu mengundang banyak warga. Mereka lantas berkerumun menyaksikan penampakan tersebut, dari atas Jembatan Desa Nglandung.
Andi Kurniawan, warga setempat, kali pertama menemukan jasad seorang bayi mengapung saat cuci tangan di musala dekat lokasi.
Terlihat kedua telapak tangan jasad bayi tersebut mengambang di permukaan air. Dia reflek mencari bantuan warga lainnya.
''Tahu ada bayi mengapung itu sekitar pukul 14.15, lalu waktu saya habis panggil warga itu di tengah sungai sudah tidak ada bayinya, warga coba selam dan susuri sekitar juga belum ketemu,'' ujarnya.
BPBD Kabupaten Madiun terjun ke lokasi kejadian usai menerima laporan dari warga setempat.
''Kami menerima laporan sekitar pukul 15.45 WIB, bahwa masyarakat melihat ada jenazah mengambang, di sekitar sungai setempat,'' ujar Kalaksa BPBD Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra Lubis.
Dari hasil pencarian data dan memastikan kesamaan ciri-cirii, jasad tersebut merupakan seorang balita usia empat tahun dengan jenis kelamin laki laki, berinisial AHF, putra dari pasutri Supriyanto (52), dan Sriyani (43), warga Desa Jatisari, Kecamatan Geger.
“Penyisiran sungai mulai dari titik dilaporkan hingga jembatan besar di Nglandung itu sejauh 1 kilometer. Perkiraan korban jatuh di Desa Jatisari yang jaraknya dengan titik dilaporkan mengapung juga 1 kilometer,” bebernya.
Segala upaya pencarian dilakukan namun hingga petang menjelang malam belum juga ditemukan tanda-tanda sosok balita tersebut.
Baca Juga: Anggota PPK Balong, Ponorogo Tewas, Terlibat Kecelakaan Adu Banteng Beat vs CB 150
Petugas BPBD pun menghentikan sementara proses pencarian dan rencana akan melanjutkan kembali pada Minggu (11/2) pagi, dengan melibatkan Basarnas.
''Malam ini kami lakukan pemantuan dan juga menjaga pintu dam sungai Sambirejo. Harapannya jangan sampai korban melewati sungai. Kalau masuk ke aliran Bengawan Solo, pencarian lebih lama dan lebih sulit,'' pungkasnya. (ryu/kid)
Editor : Nur Wachid