Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Titiek Puspa yang Saya Kenal, Padat Prestasi dan Berkarya Nyata

Redaksi • Jumat, 11 April 2025 | 18:08 WIB
Perjalanan panjang Titiek Puspa, penyanyi legendaris Tanah Air.
Perjalanan panjang Titiek Puspa, penyanyi legendaris Tanah Air.

Titiek Puspa adalah sosok yang sangat pantas disebut sebagai "Diva Indonesia" yang sesungguhnya.

Oleh: Jokrib Wirokusumo

Keberadaannya mampu melewati dari dekade ke dekade dan diakui secara real sebagai vokalis, komposer, pemain film, maupun menulis naskah operette yang telah menjamah dunia musik dan juga hiburan sejak warsa 50-an hingga kini.

Titiek Puspa yang terlahir dengan nama Sudarwati pada hari Senin Kliwon, tanggal 1 November tahun 1937, merupakan anak ke-empat dari dua belas bersaudara, dari pasangan Tugeno Puspowidjojo dan Siti Mariam.

Dikarenakan sering sakit-sakitan, nama Sudarwati pun diganti menjadi "Siti Sumarti".

Dalam buku "Sebuah biografi Titiek Puspa" di tulis:
Ketika pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942, Titiek Puspa beserta dengan saudaranya harus berpindah pindah tempat tinggal juga ssekolah dan sempat tinggal di Temanggung.

Titiek Puspa mengenyam pendidikan SD sampai Kelas 3, di Temanggung.

Memasuki kelas 4 SD di Magelang dan harus ditempuh dengan Kereta Api dari Temanggung-Magelang setiap hari.

Setelah kelas 5 SD, indekos di Magelang sampai Kelas 1 SMP dan kelas dua pindah di SMP "Ganesha" di kota Semarang.

Tanpa sepengatahuan orangtuanya, di tahun 1953, Siti Sumarti mengikuti lomba menyanyi "Bintang Pelajar" mewakili sekolahnya.

Agar tidak ketahuan ayah bundanya, temannya bernama "Yayuk" menyarankan untuk menggunakan nama samaran "Titiek Puspo" yang diambil dari 'Titiek' nama panggilannya sehari-hari dan 'Puspo' nama bapaknya.

Siti Sumarti setuju dan Puspo menjadi Puspa. Sejak saat itulah dikenal sebagai TITIEK PUSPA.

Akhirnya Orangtuanya pun mengijinkan dengan catatan sepanjang itu untuk mewakili sekolahnya.

Setelah lulus SMP melanjutkan sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK) di Semarang. Selama di SGTK sempat ikut PORKSLA (Pekan Olahraga dan Kesenian Sekolah Lanjutan Atas) dan menjadi juara.

Sejak saat itulah karirnya semakin berkembang. Kemudian melanjutkan Sekolah Guru di Yogyakarta namun tidak tamat lebih berat sebagai penyanyi.

Memasuki tahun 1954,Titiek Puspa mulai mengikuti Bintang Radio di RRI Semarang mendapat predikat Juara II.

Namun pihak panitia Bintang Radio saat itu meminta Titiek Puspa untuk tampil menyanyi sebagai hiburan pada acara malam pemberian hadiah "Malam Gembira" di Lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta).

Titiek Puspa membawakan karya Ismail Marzuki berjudul "Chandra Buana".

Pada HUT RI Ke-79, 17 Agustus 2024. Lagu tersebut dibawakan oleh "Gita Bahana Nusantara" (GBN) dan telah berhasil menghibur para hadirin yang hadir dalam Istana Merdeka, Jakarta.

Kemudian lagu tersebut sempat di rilis ulang Titiek Pusa bareng Delon, Mike, Judika.

Pelantun tembang Puspa Dewi karya Iskandar juga aktif di pentas bersama Gumarang, Zaenal Combo, White Satin.

Popularitasnya sebagai penyanyi mulai menanjak. Mas Yos pendiri Irama Record mengajaknya untuk membuat rekaman.

Kemudian lahirlah Single berjudul “Buka Pintu” dan "O Ina Ni Keke" yang diproduksi tahun 1956 oleh Irama Records dalam format Vinyl, 7" kode IMC-1823, IMC-1824.

Ketika Titiek Puspa menjadi penyanyi tetap Orkes Studio Djakarta (OSD) banyak bergaul dengan para musisi kondang.

Ditahun 1960, sempat pentas di Malaysia bersama Bing Slamet, Mochtar Embut, Sam Saimun dan Sayekti.

Rekaman pertamanya berjudul "Dian Nan Tak Kunjung Padam", dalam rekaman kedua lagu Melayu berjudul "You're Free to Go" 1956.

Pada saat ikut Bintang Radio tahun 1959 di Jakarta sempat juga rekaman di RRI Jakarta dan juga Lokananta lewat lagu Kasih di Antara Remaja karya Hardo.

Titiek Puspa bareng Tutie Daulay digaet "Gembira Record" (1961) mencetak single yang berisikan dua buah lagu dalam format Shellac, 10", 78 RPM - RN. 017.

Pada side A : "Esok Malam Kau Kujelang" karya Surni Warkiman. Side B: "Indada Siririton" (nn) dibawakan duet bersama Tuty Daulay dengan iringan musik "Orkes Empat Sekawan" pimpinan Sariman.

Popularitasnya terus menanjak, di tahun 1963 Titiek Puspa mencetak album "Si Hitam" Produksi Irama dalam format 1 x Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM dengan kode - LPI. 175116.

Album yang berisi 12 lagu buah karya Titiek Puspa, mencuat hits single "Si Hitam" dengan adonan musik Orkes "Mus Mustafa" Pemimpin Mus Mualim.

Lewat lagu Si Hitam, nama Titiek Puspa semakin dikenal luas. Kemudian "Titiek Puspa" merilis album bertitel DOA IBU dirilis tahun 1964, pertama dirilis dalam format Piringan Hitam, oleh Irama record dengan nomor kode LPI 17580.

Pada tahun 1966 album ini dicetak dalam format kaset pita tahun 1966.

Adapun versi kaset album DOA IBU digabungkan dengan album SI HITAM bareng 23 lagu yang semuanya digubah oleh Titiek Puspa.

Semua lagu dalam Album Doa IBU yang diiringi Puspa Sari adalah karyanya kecuali lagu Eli Eli karya Mus Mualim.

Album Doa Ibu ditempatkan pada peringkat ke-52 dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik" versi majalah Rolling Stone Indonesia yang diterbitkan pada edisi #32 bulan Desember 2007.

Ditahun 1964-1965, Titiek Puspa gabung bersama tHe Linsoist bareng Bing Slamet, Nien Lesmana, Munif A. Bahasuan serta sederet musikus; Idris Sardi (biola), Jack Lesmana (gitar), Maskan (bass), Bubi Chen (piano), Darmono (vibraphone), Benny Mustafa (drums) dan Loddy Item (gitar). Mereka diboyong oleh Bung Karno dalam lawatannya ke Eropa dan Amerika Serikat

Karirnya bukan hanya sebagai penyanyi tapi juga penulis lagu yang di antaranya menjadi tembang ikonik.

Dalam dunia peran Titiek Puspa pun bermain film dan juga sebagai penulis naskah ”Operet Lebaran Papiko", yang rutin ditayangkan
TVRI Pada tahun 1970-an hingga 1992.

Operet lebaran digarap Titiek Puspa lewat Papiko (Persatuan Artis Penyanyi Ibukota) dengan hiasan musik oleh Mus Mualim.

Pada pertengahan tahun 2024 Eyang Titiek Puspa hadir kembali meramaikan kancah musik Indonesia meluncurkan album “Legacy: Greatest Hits Vol. 2”.

Album ini merupakan seri kedua dari Greatest Hits volume pertama yang rilis pada Oktober tahun 2023.

Karya Hits Titiek Puspa 

Dalam perjalanan karirnya Pelantun lagu Kupu-Kupu Malam ini telah menggubah lebih dari 400 lagu yang karyanya juga banyak dibawakan oleh para penyanyi dan grup.

Di antaranya Dara Puspita lewat Mari-Mari (yang dikenal 'marilah kemari), Lilies Suryani dengan Gang Kelinci, tHe Rollies Dansa dengan lagu Yok Dansa, Bimbi.

Edi Silitonga dengan lagu Jatuh Cinta, Romo Ono Maling, Bimbo dengan lagu Adinda.

Pada ajang Pop Singer Internasional ke V yang diselenggarakan di gedung Nippon Budokan, Tokyo yang diikuti oleh 45 biduan perorangan dan grup dari 35 negara.

Karya besarnya berjudul CINTA dibawakan "Broery Marantika" mewakili peserta dari Indonesia.

Untuk menghormati seniman legendaris Bing Slamet yang meninggal pada 17 Desember 1974.

Titiek Puspa menulis lagu berjudul BING yang dibawakan Grace Simon Lagu "Bing" ditempatkan pada peringkat ke-41 dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik" versi majalah Rolling Stone Indonesia yang diterbitkan pada edisi #56 bulan Desember 2009.

Menginjak tahun 1982 karya besar Titiek Puspa bertitel "Apanya Dong" yang di produseri oleh "Dodo Wirawan".

Produksi DD Recod dengan arahan musik Director oleh "Willie Teuguh" lagu “Apanya Dong” booming di pasar musik dan sekaligus mengangkat nama "Euis Darliah" yang membawakannya melambung tinggi ke puncak dan dikenal luas di khasanah musik Indonesia.

Popularitas lagu Apanya Dong hingga ke negeri Jepang, dan direkam dalam bahasa Jepang.

Film Titiek Puspa 

Selain sukses menjadi penyanyi dan penulis lagu, Titiek Puspa merambah di dunia layar lebar.

Karier aktingnya dimulai pada 1966 dengan membintangi film berjudul Di Balik Tjahaja Gemerlapan, Bing Slamet Djalanan (1972), Ateng Minta Kawin (1974), Bawang Putih (1974), Apanya Dong (1983) dan Film Drama Musikal berjudul "Ini Kisah Tiga Dara" (2016) besutan Sutradara Nia Dinata.

Titiek Puspa berperan sebagai 'Oma' membuatnya masuk dalam nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di Piala Citra, Piala Maya dan Usmar Ismail Awards.

Titiek Puspa dan Sederet Penghargaan 

Penerima anugerah AMI Award untuk Lagu Anak-Anak 1997 lewat lagu Menabung ini telah tercatat menerima beberapa penghargaan, diantaranya: Juara Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jawa Tengah (1954) Bronze Price World Song Festival (1983).

Ketika usianya 35 tahun, satu dari lima tokoh Perempuan Asia Tenggara yang paling dicintai dan dihormati versi Asia Week, serta satu dari 12 Perempuan Berbusana Terbaik Yayasan Pembina Mode Indonesia (1990 - 1991).

Pada BASF Award (1994), menerima anugerah Pengabdian Terpanjang di Dunia Musik, di tahun 1997 menerima Anugerah Tanda Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Suharto.

Titiek Puspa pun menerima Hadiah Seni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1999), Lifetime Achievement Award - Selebrita Awards (2016), Lifetime Achievement Awards - Indosat Awards (2016).

Lifetime Achievement-Indonesian Choice Awards (2018), Pengabdian Seumur Hidup- Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia (2018), Dedikasi Musik- Anugerah Musik Indonesia (2001), Live Time Achievement Award SCTV (2001).

Titiek Puspa telah memberikan banyak sekali sumbangsihnya di bidang seni dan hiburan tanah air.

Pada Ulang Tahunnya ke 70 Titiek Puspa menggelar konser bertajuk "KARYA ABADI SANG LEGENDA" di JHCC Expo Center, Jakarta, Rabu 13 November 2007 Malam.

Pada tahun 2023 Titiek Puspa mendapat Penganugerahan Ikon Prestasi Pancasila kategori Seni Budaya dari BPIP ( Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).

Pada Mei 2023 Titiek Puspa wajahnya terpampang di salah satu Billboard Led di Times Square, New York.

Titiek Puspa terpilih menjadi salah satu perwakilan seniman perempuan Indonesia dalam program Spotify.

Di usianya yang sudah 87 tahun Titiek Puspa masih sering didaulat untuk tampil dalam berbagai kegiatan.

Pada acara Synchronize Fest 2024 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, tanggal 4, dan berakhir di tanggal 6 Oktober.

Titiek Puspa didaulat untuk tampil dihari kedua, Sabtu (5/10/2024). Titiek Puspa tampil menyanyikan lagu 'Menabung' di sesi 'Lagu Anak Masa ke Masa' bersama penyanyi cilik yang sudah tumbuh dewasa.

Di antaranya adalah Tasya Kamila, Joshua Suherman, Geofanny, Tina Toon, dan banyak lagi.

Titiek Puspa pun mengajak semua orang agar melestarikan lagu-lagu anak-anak jaman dulu.

"Ayo kita semua save lagu anak, karena biar gimanapun anak itu perlu jembatan," katanya.

"Kita yang siapin mereka yang menikmati. Jangan takut anak sekarang itu hebat-hebat saya kagum, terima kasih saya dikasih umur sudah mau 87, jadi aku bisa menikmati karya anak muda luar biasa."

Mempunyai sebuah karya adalah suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dan saya menaruh hormat kepada karya Siapapun kapanpun dan dimanapun. 'wKg'

Dipetik dari berbagai sumber dan wawancara.


BIODATA SINGKAT: Jokrib Wirokusumo, Pemerhati Musik dari Solo

Editor : Nur Wachid
#prestasi #titiek puspa #penghargaan #biografi #profil