Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ngabuburit Literasi, Tjak S Parlan Berbagi Tips Menulis ala Gen Z

Redaksi • Kamis, 20 Maret 2025 | 21:58 WIB
Tjak S Parlan berbagi cerita dalam acara ngabuburit literasi di Sutejo Spektrum Center (SSC).
Tjak S Parlan berbagi cerita dalam acara ngabuburit literasi di Sutejo Spektrum Center (SSC).

TRADISI ngabuburit literasi di Ponorogo lestari hingga kini. Ramadan tahun ini, Himpunan Mahasiswa Ponorogo (HMP) STKIP PGRI Ponorogo kembali menggelar agenda rutin tahunan tersebut. 

Oleh: Sapta Arif Nur Wahyudin, M.Pd.

Tjak S Parlan, sastrawan kenamaan, didapuk sebagai pembicara dalam ngabuburit literasi di Sutejo Spektrum Center (SSC) kemarin (19/3/2025). 

 

Tjak S Parlan dikenal melalui cerita pendek bernuansa satire yang terpublikasi di berbagai media nasional.

Cerpen berjudul Doa Menyembelih Ayam misalnya, tayang di Jawa Pos edisi 3 Mei 2020.

Dengan apik, Tjak S. Parlan menceritakan hidup seorang Fahmi Idris yang serba kekurangan.

Fahmi Idris berniat meminjam uang pada sahabatnya, Faisal Basri, yang memiliki usaha potong ayam di sudut pasar.

Alih-alih berfokus pada konflik penderitaan Fahmi Idris, Tjak S. Parlan justru menghadirkan konflik pergolakan seorang perempuan pembeli yang mempertanyakan cara berdoa Sulaiman (seorang penyembelih ayam, pegawai Faisal Basri).

Cerpen Doa Menyembelih Ayam menjadi pemantik acara Ngopi Literasi sore itu. Tjak S. Parlan membeberkan tiga tips dalam menulis cerita.

Pertama, tulis yang kita tahu. Sebagai contoh, tentang cerpen Doa Menyembelih Ayam, lelaki asal Blitar ini menceritakan bahwa tempat tinggalnya di Lombok (NTB) dulu dekat dengan los pasar tempat potong ayam.

Setiap hari, Parlan bisa melihat aktivitas memotong ayam. Mulai dari adegan pemotongannya, aromanya, suaranya, hingga suasana yang terjadi tatkala pembeli menunggu.

Dari sinilah, ia berpikir: kenapa tidak saya tulis saja ya?

Lalu bagaimana jika kita ingin menulis hal yang belum kita tahu?

Menurut Tjak S. Parlan kita harus mempelajarinya dulu secara mendalam, barulah ditulis.

Tetapi, Tjak S. Parlan mengaku kesulitan jika harus menulis hal-hal yang tidak ia alami sendiri.

Pengakuannya, ia termasuk penulis yang membutuhkan pengalaman empirik dalam menulis.

Itulah yang membuat tulisan-tulisan Tjak S. Parlan berjiwa dan bernuansa satire yang kuat.

Kedua, harus terbiasa dengan membaca. Dalam hal ini, Tjak S. Parlan menekankan: kalau mau belajar, anda harus kalahkan selera bacaan.

Misalnya, kita suka dengan novel pop remaja, tetapi kita ingin menulis cerita tentang sejarah.

Maka, mau tidak mau, kita harus membaca novel bernuansa sejarah yang kuat. 

Ketiga, pentingnya memperhatikan detail dalam cerita.

Detail yang dimaksud adalah bagaimana seorang penulis bisa mengembangkan unsur cerita.

Tjak S. Parlan memberikan referensi bacaan karya Jhumpa Lahiri (penulis India), lainnya karya Leila S. Chudori.

Selain itu, Tjak S. Parlan juga membagikan pengalamannya berkomunitas di Lombok bersama Komunitas Akar Pohon.

Komunitas ini dikenal telah mengorbitkan penulis-penulis kenamaan, seperti Irma Argyanti, Arianto Adipurwanto, Aliurridha, Iin Farliani, dan lainnya.

Tjak S. Parlan menceritakan para teman komunitasnya di Mataram tersebut memiliki daya juang yang hebat dalam belajar.

Terlebih ada sosok Kiki Sulistyo yang membimbing anggota komunitas dalam berkarya.

Acara ngopi literasi kali ini tergolong spesial, karena Tjak S. Parlan datang bersama istrinya yang dikenal sebagai penyair nasional: Lailatul Kiptiyah.

Suasana hangat melingkupi acara Ngopi Literasi sore itu. Setelah asik berdiskusi, dilanjutkan buka bersama.

Sutejo, selaku pembina HMP STKIP PGRI Ponorogo, berharap kedatangan Tjak S. Parlan dan Lailatul Kiptiyah bisa menjadi inspirasi bagi peserta Ngopi Literasi.

Ia selalu percaya bahwa menjadi penulis dibutuhkan kepekaan terhadap realitas sosial.

Hal ini pula yang dilakukan Tjak S. Parlan dalam menulis cerita, menghirup hawa di sekitar kita, bahkan merasakan kita sebagai pelakunya. []


BIODATA SINGKAT: Sapta Arif Nur Wahyudin, M.Pd. dosen STKIP PGRI Ponorogo. 

Editor : Nur Wachid
#Sutejo Spektrum Center #cerpen #Ngabuburit literasi #HMP #sastrawan #puisi #STKIP PGRI Ponorogo #ssc #Tjak S Parlan