Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Di Balik Kata Terserah, Patriarki dan Hambatan Ekspresi Perempuan, Belajar dari Okky Madasari

Redaksi • Selasa, 10 Desember 2024 | 02:31 WIB
Okky Madasari.
Okky Madasari.

Di Balik Kata Terserah, Patriarki dan Hambatan Ekspresi Perempuan, Belajar dari Okky Madasari 

Oleh Hannan Fauziah Al Ulya

Pada acara Writing is Healing, Writing is Protecting yang diselenggarakan oleh Yayasan Nalar Naluri Nurani di Sutejo Spectrum Center Ponorogo dalam peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Okky Madasari menyampaikan pandangan mendalam tentang hubungan patriarki dan matriarki dengan pola komunikasi perempuan.

Salah satu poin menarik yang beliau soroti adalah penggunaan kata “terserah” oleh perempuan saat dimintai pendapat. Menurutnya, hal ini mencerminkan dampak dari konstruksi sosial yang membatasi perempuan untuk mengemukakan pandangan mereka secara aktif.

Okky Madasari memberikan contoh konkret, seperti dalam rapat desa yang lazim terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam situasi ini, laki-laki biasanya mendominasi diskusi dan pengambilan keputusan, sementara perempuan sering kali diabaikan atau hanya menjadi pelengkap.

Fenomena ini, menurut Okky, tidak lepas dari bagaimana perempuan dididik sejak kecil untuk menghindari konflik dan menjaga harmoni, sebuah pola yang diperkuat oleh budaya patriarki.

Budaya Patriarki dan Pengaruhnya terhadap Pola Komunikasi Perempuan

Patriarki, sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan, membentuk norma-norma yang memengaruhi perilaku perempuan dalam berbagai konteks.

Laporan UN Women menunjukkan bahwa norma sosial yang bias gender ini menciptakan hambatan bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi publik. Bahkan, perempuan sering merasa kurang didengar atau dihargai dalam ruang-ruang ini​

Lebih jauh lagi, dalam kajian oleh Dedees (2016), budaya patriarki dalam ranah politik memperlihatkan bahwa perempuan menghadapi tantangan besar untuk menyuarakan pendapat mereka.

Mereka sering kali tidak hanya dipandang kurang kompeten, tetapi juga distereotipkan sebagai tidak cocok untuk mengambil keputusan besar​. Hal ini tidak hanya membatasi potensi perempuan tetapi juga mengurangi keragaman perspektif dalam proses pengambilan keputusan.
Makna di Balik “Terserah”

Penggunaan kata “terserah” oleh perempuan bukanlah sekadar respons pasif, tetapi merupakan strategi adaptasi terhadap tekanan sosial.

Dalam konteks patriarki, perempuan sering kali memilih untuk menggunakan ungkapan ini guna menghindari konflik atau untuk menjaga stabilitas dalam hubungan interpersonal.

Namun, pola komunikasi ini sebenarnya memperkuat norma yang membatasi perempuan untuk mengambil posisi aktif atau dominan.

Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), kesenjangan gender tidak hanya terjadi dalam pengambilan keputusan, tetapi juga dalam beban tanggung jawab di rumah tangga dan pekerjaan. Tekanan ini semakin mempersempit ruang perempuan untuk menyuarakan aspirasi mereka​

Upaya Mengatasi Ketimpangan

Penting untuk menyadari bahwa kebiasaan seperti penggunaan kata “terserah” hanyalah gejala dari masalah yang lebih besar, yaitu sistem patriarki yang mengakar. Oleh karena itu, solusi tidak hanya terletak pada mengubah pola komunikasi individu, tetapi juga pada perubahan struktur sosial yang lebih besar.

Program pemberdayaan perempuan, pendidikan kesetaraan gender, dan keterlibatan aktif perempuan dalam ruang publik dan politik menjadi langkah penting untuk mematahkan siklus ini.

Kegiatan seperti yang diselenggarakan Yayasan Nalar Naluri Nurani adalah contoh nyata bagaimana ruang dialog dapat menjadi alat untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan.

Fenomena di balik kata “terserah” menggambarkan dampak sistemik budaya patriarki terhadap pola komunikasi perempuan.

Seperti yang dikemukakan Okky Madasari, perempuan sering kali dididik untuk menyesuaikan diri dengan norma yang membatasi ruang mereka untuk menyuarakan pendapat.

Maka, langkah konkret untuk mengatasi fenomena ini adalah melalui pendidikan yang inklusif, pemberdayaan perempuan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung kesetaraan gender.

Dengan cara ini, perempuan tidak hanya diberi ruang untuk berbicara tetapi juga diakui nilai suara mereka dalam setiap aspek kehidupan.


BIODATA SINGKAT: Penulis adalah hahasiswa STKIP PGRI Ponorogo. 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#kampanye #Nurani #yayasan #stkip pgri #perempuan #Anti Kekerasan #OM Institute #okky madasari #ssc #nalar #Sutejo Spectrum Center #Naluri #ponorogo