Maklum, jangankan barang seperti tas dan sepatu, di sini cinta saja bisa dipalsukan.
Oleh: Wawan Isdarwanto
KASUS menggelitik sekaligus fatal terjadi di jagat sepak bola tanah air. Seorang dokter gadungan bernama Elwizan Aminudin berhasil mengelabui sejumlah tim papan atas, bahkan timnas U-16 dan U-19.
Berbekal dokumen ijazah kedokteran palsu mencatut sebuah perguruan tinggi, Dokter Amin –begitu dia biasa disapa- berhasil masuk jadi staf medis beberapa tim sepak bola papan tanah air, bahkan timnas.
Dibilang menggelitik, begitu mudahnya Amin ‘’nge-prank’’ mereka. Kejadian itu juga bisa disebut fatal lantaran menyangkut keselamatan dan masa depan pemain.
Kabarnya, saat menjadi tim medis timnas Amin sempat menangani cedera Ernando Ari. Beruntung, hal itu tidak berakibat fatal bagi kiper yang tampil cukup cemerlang di Piala Asia 2023 tersebut.
Amin ditangkap polisi di Cibodas, Tangerang, 24 Januari lalu setelah hampir tiga tahun buron.
Bicara soal pemalsuan, apa sih di Indonesia yang tidak bisa dipalsukan? Mulai sepatu, tas, hingga onderdil kendaraan ada versi KW-nya (jika kata palsu dianggap kurang pas).
Modusnya pun beragam. Ada yang sengaja membuat produk semirip mungkin dengan aslinya. Termasuk logo merek dan hal-hal kecil lainnya.
Ada pula yang sekadar dimirip-miripkan. Misalnya sepatu Nike, logonya sama persis namun namanya diubah jadi Mike. Atau Adidas jadi Daiads.
Yang harus disadari, pemalsuan produk menimbulkan kerugian mencapai ratusan triliun rupiah.
Berdasarkan rilis Kemenperin pada 2014 silam, kerugian ekonomi nasional akibat peredaran barang palsu mencapai Rp 65 triliun.
Enam tahun berselang, studi Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan Institute for Economic Analysis of Law & Policy Universitas Pelita Harapan (IEALP UPH) menyebutkan bahwa kerugian ekonomi nasional akibat peredaran barang palsu membengkak menjadi Rp 291 triliun. Pun, potensi penerimaan pajak pemerintah senilai Rp 967 miliar menguap.
Ya, alih-alih turun, kerugian akibat peredaran produk palsu di tanah air justru semakin mengkhawatirkan.
Maklum, jangankan barang seperti tas dan sepatu, di sini cinta saja bisa dipalsukan. Xixi. (*)
*) Penulis adalah Redaktur Senior Jawa Pos Radar Madiun