Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

SEHAT MENTAL MELALUI KATA

Nur Wachid • Minggu, 14 Januari 2024 | 18:39 WIB

 

(ILUSTRASI: JAWA POS)
(ILUSTRASI: JAWA POS)

Terapi menulis ini pertama kali diterapkan oleh Pennebeker tahun 1989, Pennebeker merupakan seorang professor bidang psikologi sosial yang banyak meneliti terkait manfaat dari menulis.

Penulis: Nur Imaniyah Purnama

Maxine Hong Kingston Seorang novelis, esais dan peneliti Amerika Serikat, mengatakan "Dalam waktu mengalami kehancuran, kita bisa menciptakan sesuatu yang indah melalui tulisan". Kalimat itulah yang seketika terlintas di pikiran manakala saya ingin mengawali tulisan ini.

Melalui kalimat tersebut, secara tidak langsung Maxine ingin mengatakan bahwa dalam kondisi terpuruk seseorang bisa menciptakan keajaiban lewat tulisan. Menulis bisa menjadi pelarian atau tepatnya obat ketika seseorang tidak baik-baik saja.

Dalam kehidupan saat ini tidak semua orang menyadari akan pentingnya menulis bagi kehidupan. Menulis seakan sangat asing di masyarakat, jangankan menulis, membaca saja masih sangat memberatkan bagi mereka. Karenanya kegiatan menulis dan membaca sangat berjarak dengan masyarakat dan pelajar dikalangan generasi muda.

Banyak para cerpenis ataupun penyair yang berpendapat bahwa menulis bisa dijadikan sebagai alat terapi kesehatan khususnya kesehatan mental. Salah satu penulis asal Ponorogo sering berkata “Menulislah, maka kegalauanmu akan hilang. Berceritalah agar beban pikiranmu berkurang” (Sutejo Pemilik Rumah Buku SSC Ponorogo).

Selama saya bermukim di pondok, sahabat yang selalu menemani saya hanyalah buku dairy. Dalam buku tersebut saya tuliskan semua kejadian baik itu menyenangkan ataupun menyedihkan. Selesai menulis saya merasa lega dan seketika beban yang ada dipikiran langsung sirna. Menulis sebagai terapi ini baru saya sadari sejak berada di Ponorogo. terlebih setelah bapak asuh saya mengatakan bahwa menulis adalah alat terapi yang paling sederhana dan semua orang bisa melakukannya.

Manfaat menulis ini juga sudah dirasakan oleh SW, dosen saya. Baginya, menulis adalah dunia asing yang membahagiakan, ia merupakan orang yang awalnya tidak percaya diri dan tidak berani berbicara di depan umum. Namun, semua itu pupus semenjak ia mengenal dunia menulis. Karena dengan menulis ia bisa membuang semua kegelisahan yang dirasakan. Dengan jargonnya “menulis adalah obat dari segala obat, karena menulis itu mengobati".

Akhir-akhir ini begitu banyak masalah yang berawal dari rasa tidak percaya diri hingga merusak mental seseorang yang dapat menimbulkan keinginan bunuh diri. Ironisnya pelakunya rata-rata adalah remaja. flashback pada beberapa kejadian yang sedang trend dikalangan remaja Indonesia. 

Banyak remaja yang mengalami gangguan mental salah satu contoh kasus yang baru-baru ini menjadi perbincangan warganet, yaitu mahasiswi Universitas Brawijaya Malang yang mengakhiri hidupnya dengan lopat dari lantai 12 ke lantai 4 gedung. Korban tercatat sebagai mahasiswi angkatan 2018 dan sudah mengundurkan diri pada 2019. Dari banyaknya kabar yang beredar korban dinyatakan bunuh diri karena adanya riwayat depresi yang dialaminya selama ini.

Depresi merupakan efek dari beban pikiran atau masalah dan tidak ada satupun keluarga atau teman yang bersedia mendengarkan luapan emosi serta perasaan yang di simpannya. Oleh karena itu, pentingnya penyadaran bagi kalangan remaja dalam menumbuhkan mental sehat dan kuat.

Salah satu terapi yang bisa dijadikan alat agar remaja bisa terbebas dari keinginan untuk bunuh diri yaitu dengan pembiasaan menulis dan bercerita. Dalam hal ini banyak para penulis yang sudah mempraktikkannya, salah satu contoh yaitu ibu Naning Pranoto dalam bukunya yang berjudul Writing For Therapy.

Terapi menulis ini pertama kali diterapkan oleh Pennebeker tahun 1989, Pennebeker merupakan seorang professor bidang psikologi sosial yang banyak meneliti terkait manfaat dari menulis. Dan untuk hasil riset tentang terapi menulis ini telah dibuktikan oleh Prof. Dr. Ing. Bacharudin Jusuf Habibie. Setelah istrinya meninggal, Presiden ketiga Indonesi tersebut sangat diselimuti oleh rasa kehilangan dan kepedihan yang teramat dalam.

Menurut penuturan B.J Habibie, tim dokter mengatakan, jika beliau tidak melakukan kegiatan sehari-hari maka akan berpengaruh pada kondisi jiwa dan raganya juga akan terganggu. Hingga tim dokter menyarankan beberapa pilihan diantaranya: dirawat di ruamh sakit jiwa, tetap di rumah dengan pengawasan tim Dokter Indonesia dan Jerman, dan “curhat” kepada orang terdekat atau menulis.

 Beliau memilih untuk menulis sebagai alat terapinya, hingga dalam kurun waktu 2,5 bulan terbitlah buku yang berjudul Habibie dan Ainun yang ditulisnya dalam keadaan depresi. Setelah menyelesaikan bukunya, secara perlahan fisik dan mental mantan Menristek RI tersebut membaik dan semakin sehat. Cerita ini saya kutip dari Jurnal Ilmiah karya Muhammad Isman Jusuf yang mengulik tentang Menulis sebagai media terapi bagi sehatan.

 Baca Juga: Katanya, Pemilu Memanggil Kita, Rakyat Menyambut Gembira

Di era digitalisasi ini banyak kalangan remaja yang masih buta akan manfaat menulis. Dan mungkin sebagian dari mereka masih sering menyepelekannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka mengetahui manfaat menulis bagi kesehatan mental, diantaranya:

Pertama, Membantu mengelola kecemasan. Kegiatan menulis dapat membantu seseorang melepaskan emosi negatif yang sering menyebabkan kecemasan. Ketika seseorang menuliskan sesuatu yang dirasakan dapat membuat mereka lega dan tenang, hal ini akan membantu mereka mengobati kecemaasan yang dialaminya.

Baca Juga: Nama Anak Paling Unik Sedunia: Otot Kawat Balung Wesi Ati Quran, Ternyata Pemberian Bupati Sugiri Sancoko

Kedua, Meningkatkan kesadaran diri. Menulis dapat membantu kita untuk lebih mengenali diri sendiri. Seperti emosi, perasaan, pikiran, serta perilaku kita. Dengan menulis dapat meningkatkan kemampuan dalam mengatasi berbagai masalah dan bisa mengambil keputusan secara bijak.

Ketiga, Meningkatkan kreativitas. Dengan menulis dapat membantu kita untuk mengekpresikan perasaan yang sedang kita alami secara kreatif. Hal ini tentunya dapat meningkatkan rasa percaya diri kita.

Keempat, Mencegah stress. Menulis bisa menjadi salah satu cara mengatur dan mengurangi stress. Seperti saat kita menuliskan pengalaman yang menjengkelkan, hal ini dapat membantu kita dalam pengelolaan stres. Dengan kebiasaan menulis, secara perlahan dapat membantu mengurangi gejala-gejala depresi hingga trauma yang dialami. Aktivitas menulis ini dapat mengeluarkan emosi melalui kata-kata yang tercipta.

Dengan pengenalan manfaat menulis ini, dapat membuka kesadaran bagi kalangan remaja untuk tidak lagi menyepelekannya. Menulis memang kelihatan mudah, tetapi tak sedikit dari kita yang merasakan gamam dalam proses merangkai kata. Oleh sebab itu, perlunya pembiasaan menulis!

Menguraikan kesehatan mental dengan menulis harus kita kenalkan pada masyarakat, khususnya remaja Indonesia, agar mereka tidak mudah memiliki keinginan bunuh diri.

Ingat! Kata penulis Amerika Serikat Natalie Goldberg dalam buku Writing For Therapy oleh Naning Pranoto “Menulis adalah komunikasi dengan diri sendiri, diolah dengan rasa, dan dikendalikan oleh pikiran. Ini merupakan terapi jitu untuk membebaskan jiwa dari kungkungan kegelapan dan tekanan trauma”. Maka dari itu, ayo nulis!

 

BIODATA SINGKAT: Nur Imaniyah Purnama lahir di Madura, aktif di komunitas Sutejo Spectrum Center Ponorogo dan Himpunan Mahasiswa Penulis STKIP PGRI Ponorogo. Saat ini masih menjadi mahasiswa semester 3 di STKIP PGRI Ponorogo.


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam

Editor : Nur Wachid
#Nur Imaniyah Purnama #madura #Melalui #kata #sehat mental #ponorogo