Akankah ada yang bakal membuat kejutan seperti Leicester City dan Girona? Bisa jadi harapan ini terlalu muluk. Tapi, selama bola masih bundar, selalu ada kejutan dalam sepak bola.
Oleh: Wawan Isdarwanto
PERTEMPURAN Thermopylae merupakan salah satu perang terbuka paling legendaris sepanjang sejarah manusia.
Dalam pertempuran di masa Yunani kuno, tepatnya pada tahun 480 sebelum masehi itu, pasukan Sparta yang hanya berjumlah 300 orang mampu mengalahkan tentara Persia yang jumlahnya mencapai 200 ribu.
Sparta adalah kerajaan kota di masa Yunani kuno. Kala itu, wilayah tersebut dikenal paling sulit ditaklukkan meski memiliki populasi penduduk sedikit.
Itu tidak terlepas dari pasukan militernya yang dikenal jago berperang dan memiliki mentalitas sekuat baja.
Perekrutan tentara Sparta dilakukan dengan cara terbilang ekstrem. Semua anak lelaki yang sehat wajib mengikuti pendidikan militer sejak usia tujuh tahun.
Selama bertahun-tahun mereka ditempa dengan latihan fisik dan perang yang keras. Termasuk kemampuan survival di alam liar. Juga kedisiplinan dan semangat kolektif.
Cerita hebat pasukan Sparta dalam pertempuran Thermopylae itu terulang pada beberapa aspek kehidupan masa kini. Tidak terkecuali dalam olahraga sepak bola.
Di Inggris, misalnya, pada musim 2015/2016 lalu Leicester City sempat membuat dunia terbelalak dengan memenangi trofi Liga Primer.
Padahal, kala itu mereka hanya memiliki skuad ‘’alakadarnya’’. Jauh di bawah gemerlap klub besar seperti Liverpool, Manchester United, Manchester City, dan Arsenal.
Hebatnya lagi, tim yang kala itu diarsiteki Claudio Ranieri tersebut berhasil menyabet trofi juara Liga Primer Inggris dengan raihan poin meyakinkan.
Mereka unggul 10 angka dari Arsenal yang menempati peringkat kedua dan 11 poin dari Tottenham Hotspur di posisi ketiga.
“Rahasianya adalah semangat tim. Kami bekerja sangat keras untuk satu sama lain. Kami seperti saudara, ada di mana-mana di lapangan. Itulah kekuatan kami,’’ kata Riyad Mahrez, salah seorang pemain kunci Leicester City kala itu.
Cerita bak dongeng Cinderella itu juga terjadi di kompetisi La Liga musim ini. Girona secara mengejutkan mampu mematahkan dominasi raksasa Spanyol seperti Real Madrid dan Barcelona dengan menyodok ke papan atas klasemen.
Saat ini Girona menempati peringkat dua klasemen sementara Liga Spanyol di bawah Real Madrid. Itupun hanya karena kalah selisih gol dengan El Real.
Babak 28 besar Liga 3 Jatim saat ini tengah bergulir. Madiun Raya berhasil meloloskan lima tim. Yakni, Madiun Putra, Persemag Magetan, Perspa Pacitan, PSM Madiun, dan Persekama Kabupaten Madiun.
Akankah ada yang bakal membuat kejutan seperti Leicester City dan Girona? Bisa jadi harapan ini terlalu muluk. Tapi, selama bola masih bundar, selalu ada kejutan dalam sepak bola. (*)
Penulis adalah redaktur senior Jawa Pos Radar Madiun
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.
Editor : Nur Wachid