sumber gambar: youtub
Jawa Pos Radar Lawu - Panggung megah kejuaraan billiard dunia, 2026 Iwan Simonis WPA Men's 10-Ball World Championship yang berlangsung di Ho Chi Minh City, Vietnam, menyuguhkan rentetan pertarungan berkelas tinggi yang sangat menegangkan.
Di antara sekian banyak persaingan sengit yang tersaji sejak hari pertama pembukaan kompetisi, duel antara pebiliar berbakat kebanggaan Indonesia, Albert Januarta, saat menghadapi salah satu talenta terbaik asal Filipina, Sean Mark Malayan, sukses menyedot perhatian publik billiard Asia Tenggara.
Laga babak penyisihan ini menjadi panggung adu ketangkasan yang mempertemukan dua karakter permainan berbeda namun sama-sama mematikan.
Menggunakan meja standar internasional Predator Arc 9-Foot, pertarungan tersebut berubah menjadi ajang pembuktian kapasitas mental, ketelitian membaca arah ball-path, hingga kemampuan meloloskan diri dari posisi-posisi safety yang sulit.
Sistem kompetisi babak kualifikasi pada WPA Men's 10-Ball World Championship tahun ini mengusung format double elimination untuk menyaring para peserta menuju fase 32 besar.
Dalam skema best of 3 sets dengan format race to 4 di setiap setnya, setiap pemain praktis dituntut untuk tampil nyaris tanpa cela.
Ketatnya regulasi ini meminimalkan ruang bagi margin kesalahan sekecil apa pun, karena kehilangan satu posisi break saja bisa berakibat fatal pada hilangnya momentum dalam satu set penuh.
Sejak awal set pertama digulirkan, Sean Mark Malayan langsung mengambil inisiatif serangan dengan gaya khas pebiliar Filipina yang sangat agresif namun terukur.
Penempatan bola putih (cue ball) yang sangat presisi dari Sean memaksa Albert harus memutar otak sejak menit-menit awal.
Beberapa kali Sean berhasil mengamankan poin-poin krusial berkat eksekusi potted ball jarak jauh yang bersih serta permainan kombinasi yang mengunci pergerakan lawan.
Kendati berada di bawah tekanan tinggi, Albert Januarta menunjukkan ketenangan luar biasa yang melampaui usianya.
Pebiliar muda Indonesia ini merespons permainan agresif Sean lewat strategi bertahan (safety play) yang sangat solid.
Ketika celah terbuka, Albert dengan dingin meluncurkan break shot bertenaga yang konsisten memecahkan susunan bola 10, disusul dengan run-out rapi yang membuat penonton di venue memberikan tepuk tangan meriah.
Momen kejar-kejaran angka di bola-bola penentu seperti bola 8, 9, dan 10 menjadi bukti nyata tingginya kualitas eksekusi serta daya tahan mental yang dimiliki kedua atlet.
Turnamen skala global ini tidak hanya mempertaruhkan reputasi dan peringkat dunia, melainkan juga memperebutkan total hadiah uang (prize fund) yang sangat menggiurkan, yakni mencapai USD $300.000 (setara Rp 4,5 miliar lebih), dengan hadiah utama untuk sang juara sebesar USD $80.000.
Besarnya taruhan dalam kompetisi ini secara tidak langsung mendongkrak intensitas pertandingan di atas meja.
Persaingan ketat antara Albert Januarta dan Sean Mark Malayan ini menegaskan fakta bahwa peta kekuatan billiard nomor 10-Ball di tingkat internasional kini semakin merata dan didominasi oleh wajah-wajah muda potensial.
Pengalaman berharga yang diraih dalam kejuaraan dunia ini dipastikan menjadi pijakan penting bagi perjalanan karier Albert Januarta untuk terus mengharumkan nama Indonesia di pentas olahraga billiard internasional.
(Fauzan Fulvian Faustanto Magang Universitas Negeri Yogyakarta)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Predator Pro Billiard Series, Box Billiards Pool Vietnam