Oscar Piastri Geram, Hasil Kualifikasi F1 2026 Dinilai Terlalu Ditentukan oleh “Komputer”

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:32 WIB
Potret Oscar Piastri Team McLaren Formula 1
Potret Oscar Piastri Team McLaren Formula 1

Jawa Pos Radar Lawu - Oscar Piastri datang ke sesi kualifikasi Formula 1 GP Belgia 2026 dengan harapan bisa bertarung maksimal bersama McLaren. Namun, hasil akhirnya justru membuat pembalap Australia itu frustrasi. Ia merasa performa di lintasan tidak sepenuhnya berada di tangan pembalap karena sistem manajemen energi pada power unit generasi baru F1 ikut memainkan peran besar.

Kondisi tersebut semakin terasa di Spa-Francorchamps. Karakter sirkuit yang memiliki lintasan lurus panjang dan peluang energy harvesting terbatas membuat pengelolaan tenaga menjadi faktor yang sangat penting sepanjang lap.

Sistem Power Unit Jadi Sumber Frustrasi

Regulasi mesin F1 2026 memperkenalkan elemen self-learning pada power unit. Sistem tersebut dapat mempelajari kondisi dari satu lap ke lap berikutnya untuk mengantisipasi kebutuhan energi mobil.

Menurut penjelasan prinsipal McLaren Andrea Stella, sistem ini sangat sensitif. Perubahan kecil pada input pembalap, kondisi grip, hingga arah angin dapat memengaruhi cara mesin mengatur energi dan akhirnya berdampak pada kecepatan mobil.

Piastri merasakan langsung dampaknya ketika menghadapi rekan setimnya, Lando Norris. Kedua mobil menggunakan pengaturan power unit yang sama, tetapi Piastri kehilangan waktu cukup besar di lintasan lurus.

Selisih Dua Persepuluh Detik yang Bikin Kesal

Situasi tersebut menjadi semakin menjengkelkan karena Piastri merasa performanya di tikungan sebenarnya tidak jauh berbeda dari Norris.

Ia menggambarkan frustrasinya dengan kalimat, "It sucks. I can't really say it any other way than that..."

Baca Juga: Kimi Antonelli di Puncak, George Russell Tertekan: Fittipaldi Sebut Perburuan Gelar Belum Usai

Piastri kemudian menilai persoalan tersebut bukan hanya dialaminya. George Russell juga disebut menghadapi masalah serupa, sementara sejumlah pembalap lain turut merasakan pengaruh sistem mesin terhadap hasil kualifikasi mereka.

“So, you know, when you've got qualifying grids decided by computers behaving or misbehaving, it's a pretty crap way of going racing.”

Bagi Piastri, situasi paling mengecewakan terjadi ketika seorang pembalap merasa sudah menjalani seluruh tikungan dengan baik, tetapi tetap tertinggal sekitar dua persepuluh detik akibat perbedaan performa sistem tenaga.

Lando Norris Ikut Merasakan Masalah Serupa

Keluhan Piastri ternyata mendapat dukungan dari Norris. Juara dunia tersebut juga menilai terlalu banyak faktor di luar kendali pembalap yang dapat menentukan kecepatan saat kualifikasi.

Norris bahkan mengaku masalah tersebut sudah memengaruhinya sepanjang musim. GP Belgia menjadi salah satu kesempatan pertama ketika ia merasa performa mobilnya di lintasan lurus benar-benar kompetitif.

Menurut Norris, pembalap pada akhirnya harus berharap sistem power unit bekerja sesuai harapan. Jika tidak, kecepatan mobil bisa berubah meski kemampuan pembalap tetap sama.

Belum Ada Solusi Cepat

Persoalan tersebut tampaknya tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah distribusi tenaga mesin. Piastri menjelaskan bahwa masalahnya lebih berkaitan dengan cara sistem dikalibrasi dan bagaimana mesin mempelajari serta mengelola energi.

Ia memperkirakan kondisi tersebut akan membaik seiring para produsen semakin memahami karakter mesin generasi baru. Namun, Piastri menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan hanya terjadi pada McLaren atau Mercedes, melainkan juga dirasakan sejumlah tim lain.

Bagi pembalap, persoalan ini menghadirkan tantangan baru di era F1 2026. Ketika teknologi semakin pintar dalam mengatur mobil, muncul pertanyaan menarik: seberapa besar hasil kualifikasi masih benar-benar ditentukan oleh kemampuan manusia di balik kemudi? (*)

(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Motorspot
Formula 1 F1 2026 McLaren Oscar Piastri