Jawa Pos Radar Lawu - Persebaya Surabaya kembali menelan kerugian besar setelah Komite Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan denda Rp 200 juta akibat insiden penyalaan flare secara masif dalam laga melawan Bali United pada 23 Mei 2025 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Penyalaan flare ini tidak hanya membuat pertandingan sempat dihentikan, tapi juga merugikan klub secara finansial dan reputasi.
Ram Surahman, Ketua Panitia Pelaksana Persebaya, menyatakan sikap tegas terkait sanksi tersebut.
Menurutnya, perilaku nyalakan flare sudah sangat merugikan klub dan harus segera dihentikan.
“Kami pastikan tidak ada tempat bagi mereka yang menyalakan flare,” tegas Ram kepada awak media.
Tak senggan, ia menambahkan bahwa saat ini sedang disusun langkah-langkah tegas untuk menindak pelaku agar insiden serupa tak terulang.
Ram mengkritik keras pola pikir sebagian suporter yang masih menganggap flare sebagai bentuk dukungan, padahal kenyataannya menyebabkan kerugian besar, termasuk denda fantastis yang harus dibayar klub.
"Denda Rp 200 juta bukan angka kecil. Ini bukan hanya masalah pelanggaran, tapi juga ancaman nyata terhadap kelangsungan Persebaya," ungkapnya.
Dalam surat resmi bernomor keputusan yang dikeluarkan (28/5) dan ditandatangani Ketua Komdis Eko Hendro Prasetyo, disebutkan bahwa Persebaya Surabaya melanggar Pasal 70 ayat 1 dan 2 serta Lampiran 1 nomor 5 Kode Disiplin PSSI Tahun 2023.
Sanksi denda Rp 200 juta pun dijatuhkan sebagai tindakan tegas. Bila pelanggaran serupa terulang, ancaman hukuman akan lebih berat.
Sebagai respons, Panpel Persebaya tengah mengintensifkan evaluasi keamanan di GBT.
Kerja sama dengan keamanan dan steward diperkuat untuk memastikan tidak ada barang berbahaya seperti flare masuk ke tribun.
"Kami juga berkoordinasi dengan elemen suporter untuk meningkatkan kedisiplinan. Solidaritas yang sudah terbangun tidak boleh rusak oleh ulah segelintir orang," jelas Ram.
Dengan kompetisi yang makin ketat, Persebaya harus menjaga kestabilan keuangan. Denda ini jadi pengingat keras bahwa penyalaan flare bukan bentuk cinta, melainkan bumerang bagi klub.
Ram menegaskan, GBT harus jadi tempat yang nyaman dan aman, bukan ladang pelanggaran yang merugikan Persebaya dari dalam.
"Kalau masih ada yang nekat menyalakan flare, bukan tidak mungkin pintu stadion akan tertutup untuk mereka selamanya," pungkas Ram.
Insiden flare yang berujung denda Rp 200 juta menegaskan bahwa dukungan kepada Persebaya harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.
Solidaritas suporter wajib dijaga tanpa merugikan klub kesayangan Arek-Arek Suroboyo. (okta)
Editor : Riana M.Sumber : berbagai sumber