Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Diego Yanuar Tuntaskan Maraton Ekstrem di Gurun Sahara dengan Beralaskan Sandal

Indi Wardani • Kamis, 17 April 2025 | 13:55 WIB
Diego Yanuar pelari asal Indonesia taklukan gurun Sahara beralaskan sandal
Diego Yanuar pelari asal Indonesia taklukan gurun Sahara beralaskan sandal

Jawa Pos Radar Lawu – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh atlet asal Indonesia, Diego Yanuar.

Pria yang kini berdomisili di Belanda itu sukses menaklukkan Marathon des Sables (MDS) Legendary, sebuah lomba lari ultramaraton ekstrem sejauh 250 kilometer yang digelar di salah satu tempat paling ganas di muka bumi: Gurun Sahara.

Diego menyelesaikan ajang legendaris ini pada Sabtu, 12 April 2025, setelah menempuh medan ekstrem selama tujuh hari penuh.

Catatan waktu yang berhasil ia torehkan adalah 40 jam 44 menit—sebuah pencapaian luar biasa mengingat kerasnya tantangan yang harus dihadapi di setiap etape lomba.

Gurun Sahara: Trek yang Mencabik Fisik dan Mental

MDS bukan sekadar lomba lari biasa. Digelar pertama kali pada tahun 1986, ajang ini dikenal sebagai salah satu ultramaraton tersulit di dunia.

Para pelari harus membawa sendiri perlengkapan pribadi, makanan, dan persediaan lainnya selama perlombaan.

Trek melintasi bentangan gurun yang luas, dengan suhu siang hari yang bisa mencapai 50°C dan malam hari yang bisa jatuh hingga di bawah 10°C.

Selama enam etape berbeda, para peserta melintasi medan berbatu tajam, bukit pasir (erg), dataran garam (chott), hingga jalan setapak yang memantulkan panas ekstrem.

Total jarak yang ditempuh sekitar 250 kilometer, dengan etape terpanjang bisa mencapai lebih dari 80 kilometer dalam sekali jalan.

Kondisi yang demikian membuat banyak pelari mengalami dehidrasi, kaki melepuh, hingga gangguan mental akibat tekanan fisik yang terus menerus.

Namun Diego mampu bertahan dan menyelesaikan seluruh etape dengan semangat juang yang luar biasa.

Yang membuat aksi Diego makin mencuri perhatian adalah keputusannya menggunakan sandal sebagai alas kaki.

Di tengah medan yang brutal dan penuh jebakan alam, Diego memilih meninggalkan sepatu lari profesional dan mengandalkan sandal minimalis yang ia gunakan selama tujuh tahun terakhir saat berlari.

“Saya merasa lebih terhubung dengan alam dan ritme tubuh saya sendiri saat berlari dengan sandal,” ungkap Diego dalam sebuah wawancara setelah menyelesaikan lomba.

“Di medan berpasir seperti Sahara, sandal justru terasa lebih fleksibel dan tidak menjebak panas seperti sepatu tertutup.”

Pilihan Diego ini tentu bukan tanpa risiko. Kaki tanpa perlindungan penuh lebih rentan terhadap luka, suhu panas gurun, dan goresan batu tajam.

Namun, dengan persiapan matang dan penyesuaian selama bertahun-tahun, Diego membuktikan bahwa kenyamanan dan pengalaman pribadi bisa mengalahkan norma konvensional dunia lari.

Keberhasilan Diego Yanuar bukan hanya soal menyelesaikan lomba, tapi juga menjadi simbol semangat dan daya juang pelari Indonesia di panggung dunia.

Meski jauh dari tanah air, semangat “pantang menyerah” yang dibawanya menjadi motivasi tersendiri, terutama bagi komunitas pelari dan pencinta olahraga ekstrem di Indonesia.

“Saya ingin menunjukkan bahwa asal kita tahu cara mendengar tubuh dan bersiap dengan benar, kita bisa menaklukkan apa pun, bahkan gurun Sahara,” kata Diego.

Dengan pencapaiannya ini, nama Diego Yanuar pun kian dikenal sebagai pelari tangguh yang tak hanya mengejar garis finis, tapi juga menyampaikan pesan keberanian, ketekunan, dan kesederhanaan dalam berlari. (*)

Editor : Riana M.
#marathon #sandal #gurun sahara #pelari indonesia #Diego Yanuar