Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Viral! Kontroversi Panas Atlet Basket Konate, Perempuan Berhijab Asal Prancis Dilarang Tampil di Olimpiade Paris

Oktaviani Sindy • Senin, 29 Juli 2024 | 17:09 WIB

Potret seorang atlet basket perempuan berhijab asal Prancis dilarang bertanding dalam Olimpiade Paris Tahun 2024. (Ig @diaba.23)
Potret seorang atlet basket perempuan berhijab asal Prancis dilarang bertanding dalam Olimpiade Paris Tahun 2024. (Ig @diaba.23)

Jawa Pos Rada Lawu - Di tengah hiruk-pikuk kota Paris, Diaba Konate, seorang atlet basket perempuan berhijab, tampak tersenyum lebar saat menuju tempat pertemuan di sekitar Louvre.

Dimana olah raga bola basket merupakan kecintaan, dan kostum nomor punggung 23 menjadi identitasnya.

Konate, berusia 23 tahun, baru saja kembali ke kota asalnya setelah enam tahun berkarir di Amerika Serikat dengan beasiswa penuh dari Idaho State University.

Dia bermain sebagai point guard dan membantu UC Irvine masuk ke turnamen NCAA untuk pertama kalinya sejak Tahun 1995.

Bersama tim nasional muda Prancis, Konate memenangkan medali perak dalam basket 3x3 di Olimpiade Remaja Buenos Aires Tahun 2018, yang dia sebut sebagai "kenangan terbaik" dalam kariernya. 

Namun, harapannya untuk mengulangi kesuksesan itu dalam Olimpiade Paris Tahun 2024 kini pupus begitu saja. 

Pulang ke negara asalnya, Konate dilarang bertanding karena dirinya yang mengenakan hijab. Pada Tahun 2022, Federasi Bola Basket Prancis (FFBB) telah melarang atribut berkonotasi religius atau politis. 

"Saya tidak percaya," kata Konate. Awalnya dia mengira ini hanya lelucon, “Bagaimana bisa ini terjadi pada saya? Rasanya seperti, ini saya, teman-teman. Kita biasa bermain bersama. Saya masih orang yang sama, tidak ada yang berubah."

Hijab mulai menjadi bagian dirinya saat pandemi di AS, sehingga membantu Konate merefleksikan diri dan identitasnya. 

“Selama tiga tahun terakhir, hijab menjadi bagian dari diri saya,” ujarnya. 

“Saya mengalami masa-masa sulit dan membutuhkan harapan. Saya menemukan jawaban atas semua pertanyaan saya melalui agama saya." tambah Konate.

Konate, merasa sangat kecewa dengan larangan ini dengan mengatakan bahwa, "Sangat munafik bagi Prancis menyatakan diri sebagai negara kebebasan, tetapi pada saat yang sama, mereka tidak mengizinkan Muslim menunjukkan jati diri mereka."

Larangan ini bukan hanya dialami oleh Konate saja, di sebuah lapangan basket di Paris, Salimata Sylla menciptakan "ruang aman" bernama 'Ball.Her' bagi perempuan berhijab untuk bermain basket.

Dimana Sylla juga pernah mengalami diskriminasi saat wasit menolak memimpin pertandingan jika dia tidak melepas hijabnya. 

"Saya dipermalukan di depan semua orang. Ini adalah negara kelahiran saya, dan pada hari itu, mereka mencadangkan saya.” Imbuhnya.

Situasi ini sungguh memaksa banyak atlet berhijab seperti Sylla dan Konate untuk berhenti bermain di liga resmi.

Mereka merasa dicabut haknya oleh kebijakan tersebut untuk berolahraga dan mengekspresikan identitas mereka.

Undang-undang Prancis untuk melawan "separatisme Islam" telah memperketat larangan hijab dalam kompetisi olahraga.

Meski FIFA dan FIBA telah mencabut larangan hijab, aturan di Prancis tetap saja ketat tanpa toleran. 

"Ini adalah bencana bagi olahraga Prancis," kata Helene Ba, pendiri Basket Pour Toutes yang berfokus melawan diskriminasi dalam bola basket.

Helene Ba juga menekankan, bahwa laicite atau sekularisme di Prancis telah disalahgunakan untuk menghapus identitas Muslim. 

"Ketika aturan menargetkan kelompok minoritas dan menciptakan diskriminasi, itu harus menjadi perhatian semua orang," tambah Helene

Meski menghadapi larangan tersebut, Konate terus memperjuangkan hak-hak atlet perempuan berhijab. 

"Pertandingan-pertandingan ini semestinya menjadi puncak karir saya," katanya. 

Bergabung dengan Basket Pour Toutes, dia berharap dapat mengadvokasi perubahan meski merasa seharusnya hal ini tidak perlu terjadi.

Konate berharap kisahnya menjadi perhatian dan perubahan bisa terjadi agar perempuan Muslim di Prancis dapat bermain dan berprestasi tanpa diskriminasi. (okta)

Editor : Riana M.
#Dilarang Bertanding #atlet basket #2024 #konate #putri #Olimpiade paris #hijab #Undang-undang #prancis