Jawa Pos Radar Lawu - Kecepatan selama ini menjadi salah satu daya tarik utama supercar. Namun, ketika mobil listrik bahkan sedan dan SUV keluarga mampu melesat dengan akselerasi yang dulu identik dengan mobil eksotis, Lamborghini melihat definisi supercar mulai berubah. Bagi pabrikan asal Italia itu, angka akselerasi saja tidak cukup untuk menciptakan pengalaman berkendara yang khas.
Paolo Racchetti, direktur lini model Temerario, mengatakan performa tetap penting. Namun, karakter sebuah supercar juga harus dibangun melalui kemampuan dinamis, suara mesin, serta sensasi yang dirasakan pengemudi.
“Kecepatan masih menjadi bagian penting dari performa, tetapi jelas bahwa kecepatan itu diperlukan, namun tidak cukup bagi sebuah mobil untuk disebut sebagai supercar. Kemampuan dinamis mobil menjadi semakin penting, dan mungkin tingkat performanya akan semakin kurang relevan di masa depan. Sebuah supercar tidak hanya harus memberikan akselerasi dan kecepatan, tetapi juga emosi.”
Angka Akselerasi Mulai Kehilangan Efek Kejut
Perubahan tersebut tidak lepas dari perkembangan mobil listrik. Akselerasi 0-60 mph dalam kisaran tiga detik kini tidak lagi hanya bisa ditemukan pada supercar. Mobil listrik dari kelas yang lebih umum juga semakin mampu menghasilkan dorongan secepat itu.
Kondisi tersebut membuat selisih sepersekian detik pada catatan akselerasi menjadi kurang menentukan dari sisi pengalaman berkendara. Lamborghini justru ingin memastikan mobilnya tetap menawarkan karakter yang terasa berbeda ketika berada di balik kemudi.
Temerario menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Mobil ini menggunakan mesin V8 twin-turbo 4,0 liter yang dipadukan dengan tiga motor listrik. Sistem tersebut menghasilkan tenaga gabungan hingga 677 kW dan memungkinkan Temerario berakselerasi 0-100 km/jam dalam klaim 2,7 detik. Mesin V8-nya juga mampu berputar hingga lebih dari 10.000 rpm.
Lamborghini Pertahankan Unsur Emosional
Lamborghini tidak sekadar menggunakan sistem hybrid untuk mengejar angka tenaga. Motor listrik di bagian depan dapat mengatur distribusi torsi secara independen sehingga membantu memengaruhi karakter mobil ketika menikung.
Temerario juga menawarkan berbagai konfigurasi berkendara. Sistem elektroniknya dapat menyesuaikan karakter mobil untuk kebutuhan yang berbeda, termasuk mode yang memungkinkan pengemudi melakukan drift.
Menurut Racchetti, teknologi tersebut memungkinkan sebuah mobil memiliki karakter berkendara yang beragam, mulai dari mobil untuk perjalanan jarak jauh hingga mobil dengan karakter penggerak roda belakang atau penggerak semua roda.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa elektrifikasi bagi Lamborghini bukan sekadar cara untuk membuat mobil lebih cepat. Teknologi hybrid juga digunakan untuk memperluas kemampuan mobil sekaligus mempertahankan sensasi yang menjadi bagian dari identitas merek.
Lamborghini Belum Mengejar Supercar Listrik Murni
Pandangan tersebut juga membantu menjelaskan keputusan Lamborghini mengenai mobil listrik. CEO Lamborghini Stephan Winkelmann sebelumnya menyatakan bahwa peluncuran mobil listrik pertama merek tersebut ditunda tanpa batas waktu. Model keempat Lamborghini yang terinspirasi konsep Lanzador justru akan menggunakan sistem plug-in hybrid.
Meski demikian, Lamborghini tidak meninggalkan elektrifikasi. Revuelto, Temerario, dan Urus SE sudah menggunakan teknologi elektrifikasi dalam bentuk yang berbeda.
Bagi Lamborghini, tantangannya bukan sekadar bagaimana menghasilkan mobil dengan akselerasi paling cepat. Pabrikan tersebut juga harus menjaga agar teknologi baru tidak menghilangkan sensasi berkendara yang selama ini menjadi bagian penting dari sebuah supercar.
Transmisi Manual Belum Akan Kembali
Di tengah upaya mempertahankan unsur emosional, ada satu bagian dari masa lalu Lamborghini yang tampaknya belum akan kembali, yaitu transmisi manual.
Racchetti mengatakan masih ada pelanggan yang menginginkan transmisi manual dan elemen-elemen yang berkaitan dengan tradisi Lamborghini. Namun, perusahaan memilih terus mengembangkan teknologi dan arsitektur baru daripada kembali menggunakan konfigurasi tiga pedal.
“Saya rasa akan selalu ada pelanggan Lamborghini yang menginginkan transmisi manual dan segala sesuatu yang berakar pada tradisi kami. Namun di sisi lain, Lamborghini didefinisikan oleh kemauan untuk terus berkembang dan memikirkan masa depan. Kami adalah merek paling inovatif di segmen supercar, dan saat ini target kami adalah mengembangkan arsitektur baru ini lebih jauh lagi.”
Temerario Jadi Gambaran Arah Baru Lamborghini
Temerario memperlihatkan bagaimana Lamborghini mencoba menghadapi perubahan dunia otomotif tanpa hanya mengejar angka akselerasi. Mesin pembakaran internal tetap dipertahankan, tetapi dipadukan dengan motor listrik dan sistem kendali elektronik untuk menghasilkan karakter berkendara yang lebih luas.
Dengan semakin banyak mobil listrik yang mampu menghasilkan akselerasi ekstrem, Lamborghini kini menempatkan emosi, suara mesin, kemampuan menikung, dan sensasi di balik kemudi sebagai bagian penting dari pengalaman supercar.
Artinya, bagi Lamborghini, masa depan supercar bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat pengemudi tetap merasakan sesuatu yang istimewa setiap kali berada di balik kemudi.
(Silvi Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : https://www.motor1.com/news/809792/lamborghini-fast-supercar-not-enough/