Bukan Sekadar Bau, Urine Kucing Ternyata Menyimpan “Kartu Identitas”

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 20:47 WIB
Seekor kucing dan wadah penampung kotorannya (PINTEREST)
Seekor kucing dan wadah penampung kotorannya (PINTEREST)

Jawa Pos Radar Lawu - Seekor kucing mungkin hanya meninggalkan sedikit urine di suatu tempat, lalu pergi begitu saja. Namun, bagi kucing lain, jejak tersebut bisa membawa informasi penting tentang siapa yang meninggalkannya. Penelitian terbaru menemukan bahwa urine kucing menyimpan pola kimia yang berbeda pada setiap individu, layaknya sebuah “kartu identitas”.

Para ilmuwan menemukan 13 jenis asam lemak bercabang atau branched-chain fatty acids (BFAs) yang memiliki kombinasi dan kadar berbeda pada setiap kucing. Pola tersebut cenderung tetap stabil pada kucing yang sama, sehingga diduga membantu kucing mengenali identitas satu sama lain melalui penciuman.

Penelitian yang dilakukan tim dari Jepang, Jerman, dan Spanyol ini dipimpin oleh Iwate University, Jepang. Hasilnya akan diterbitkan dalam jurnal Current Biology.

Kucing Ternyata Bisa Mengingat Bau Urine

Sebelum mencari senyawa yang menjadi “identitas” tersebut, peneliti terlebih dahulu memastikan apakah kucing memang bisa membedakan urine dari individu yang berbeda.

Dalam percobaan, kucing diberikan sampel urine yang sama berulang kali. Seiring waktu, ketertarikan mereka terhadap sampel tersebut menurun. Namun, ketika peneliti mengganti sampel dengan urine dari kucing lain, perhatian mereka kembali meningkat dan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengendusnya.

Menariknya, kemampuan tersebut tidak hanya berlangsung dalam waktu singkat. Kucing masih menunjukkan respons yang lebih rendah terhadap bau urine yang pernah mereka temui meskipun terdapat jeda selama beberapa bulan.

Peneliti juga memperhatikan flehmen response, yaitu ekspresi ketika kucing membuka mulut saat mengendus aroma tertentu. Respons ini lebih sering muncul ketika kucing mencium urine yang belum dikenalnya dibandingkan urine miliknya sendiri.

"After confirming that cats can distinguish individual urine odors, we used the flehmen response as a clue to identify urinary molecules that may contribute to individual scent recognition,"

Pernyataan tersebut disampaikan Profesor Masao Miyazaki dari Iwate University, yang memimpin penelitian.

Baca Juga: Kucing Kecil Ini Ternyata Spesies Baru, Terungkap Setelah DNA-nya Diteliti

13 Asam Lemak Membentuk Profil Unik

Setelah mengetahui bahwa kucing mampu membedakan urine, peneliti mulai mencari molekul yang mungkin menjadi penyebabnya.

Mereka kemudian menemukan 13 BFA yang terdapat dalam urine. Yang menarik bukan hanya keberadaan senyawa tersebut, tetapi kombinasi dan jumlah relatifnya.

Setiap kucing memiliki profil BFA tersendiri. Profil tersebut berbeda cukup jelas antara satu kucing dengan kucing lainnya, tetapi relatif konsisten ketika sampel dari individu yang sama diperiksa pada waktu berbeda.

Hubungan keluarga juga tampaknya berpengaruh. Kucing yang masih memiliki hubungan kekerabatan cenderung mempunyai pola BFA yang lebih mirip. Meski demikian, masing-masing kucing tetap memiliki pola yang dapat dibedakan.

Dengan kata lain, urine tidak hanya memberikan informasi tentang keberadaan seekor kucing. Komposisi kimianya berpotensi membawa identitas individu.

Lebih Tahan Lama daripada Molekul Bau Biasa

Ada alasan mengapa BFA menarik perhatian peneliti.

Banyak molekul yang menghasilkan aroma mudah menguap atau berubah setelah urine keluar dari tubuh. BFA memiliki sifat semi-volatil, sehingga menghilang lebih lambat.

Dalam sampel urine yang disimpan pada suhu 25 derajat Celsius, pola BFA khas setiap kucing masih relatif stabil selama setidaknya 24 jam.

Karakteristik tersebut dapat menjelaskan bagaimana informasi mengenai identitas masih bisa terbaca meskipun jejak bau sudah berada di lingkungan selama beberapa waktu.

Kucing Bisa Mendeteksi Perubahan Profil BFA

Peneliti kemudian menguji apakah kucing benar-benar dapat membedakan pola BFA tersebut.

Mereka mengendalikan komponen lipid lain dalam sampel urine dan hanya mengubah bagian yang mengandung BFA dari kucing tertentu. Setelah sebelumnya terbiasa dengan sampel awal, kucing kembali meningkatkan aktivitas mengendus ketika bagian BFA tersebut diganti.

Hasil ini memberikan bukti bahwa kucing dapat merespons perbedaan komposisi BFA.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa asam lemak tersebut bukan sekadar produk sampingan metabolisme, tetapi mungkin membawa informasi yang berarti bagi komunikasi antarkucing.

Ada Hubungannya dengan Ginjal Kucing

Penelitian ini ternyata tidak hanya mengungkap misteri tentang urine. Ilmuwan juga menemukan petunjuk mengenai ginjal kucing.

BFA ditemukan di jaringan ginjal, tetapi tidak pada jaringan lain yang diperiksa. Senyawa yang mengandung BFA juga ditemukan di dalam tetesan lemak pada bagian korteks ginjal.

Tetesan lemak tersebut sebenarnya sudah diketahui pada ginjal kucing selama lebih dari satu abad. Namun, fungsinya selama ini masih menjadi pertanyaan.

Kini, peneliti menduga struktur tersebut mungkin berfungsi sebagai semacam tempat penyimpanan lipid yang mengandung BFA.

Jika benar, cadangan tersebut dapat membantu menjaga profil kimia urine tetap stabil meskipun makanan atau kondisi fisiologis kucing mengalami perubahan sementara.

"Lipid droplets in the cat kidney have been known for more than a century, but why cats have so many of them has remained a mystery," Miyazaki said. "Our findings suggest that one of their functions may be to support a stable chemical signature in urine. How BFAs stored in renal lipids are ultimately released into urine is an important question for future research."

Menurut Miyazaki, bagaimana BFA yang tersimpan dalam lipid ginjal akhirnya dilepaskan ke urine masih menjadi pertanyaan yang perlu diteliti lebih lanjut.

Baca Juga: Kucing Sering Menyembunyikan Sakit, Kenali Tandanya Sebelum Terlambat

Bukan Hanya Kucing Rumahan

Peneliti kemudian melihat apakah mekanisme serupa juga terdapat pada anggota keluarga kucing lainnya.

Senyawa yang berkaitan dengan BFA ditemukan dalam urine dan tetesan lipid ginjal sejumlah spesies, termasuk:

•Singa

•Harimau

•Macan tutul

•Jaguar

•Lynx

•Kucing Iriomote

Namun, pola BFA setiap spesies tidak sama. Jumlah dan persebaran tetesan lipid pada ginjal juga menunjukkan perbedaan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa sistem kimia yang berkaitan dengan BFA mungkin tersebar luas dalam keluarga Felidae, meski mekanismenya dapat mengalami perubahan selama evolusi.

Namun, peneliti belum membuktikan bahwa singa, harimau, atau kucing liar lainnya benar-benar menggunakan BFA untuk mengenali individu seperti yang ditemukan pada kucing domestik.

Bisa Berguna untuk Konservasi Satwa Liar

Penelitian ini masih merupakan penelitian dasar dan belum menghasilkan teknologi yang bisa langsung digunakan. Meski begitu, para ilmuwan melihat beberapa kemungkinan penerapan di masa depan.

Pemahaman yang lebih baik mengenai BFA dapat membantu penelitian tentang bau urine kucing, termasuk kemungkinan pendekatan baru dalam mengelola aroma urine.

Lebih jauh lagi, mekanisme ini berpotensi dimanfaatkan dalam konservasi satwa liar.

Jika profil BFA terbukti dapat digunakan untuk mengenali individu yang sama dari beberapa sampel urine, peneliti mungkin bisa memantau kucing liar langka hanya dari jejak urine yang ditemukan di lingkungan. Cara ini berpotensi menjadi metode pemantauan noninvasif karena peneliti tidak perlu menangkap atau melihat langsung satwa tersebut.

Dengan begitu, sesuatu yang selama ini dianggap sekadar bau ternyata dapat menyimpan informasi yang jauh lebih spesifik. Penelitian ini menunjukkan bahwa urine kucing mungkin berfungsi seperti pesan kimia yang membawa identitas pemiliknya—dan ginjal kemungkinan memainkan peran penting dalam menjaga pesan tersebut tetap konsisten.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
hewan satwa liar kucing sains fakta kucing