1.923 Titik Panas Terdeteksi di Papua Tengah, Nabire Terbanyak dan Terancam Karhutla

Nur Wachid • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 08:36 WIB
Ilustrasi karhutla. PIXABAY
Ilustrasi karhutla. PIXABAY

NABIRE, Jawa Pos Radar Lawu – Ancaman kebakaran hutan dan lahan meningkat di Papua Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 1.923 titik panas selama periode 10–22 Agustus 2026.

Lebih dari separuh hotspot tersebut terkonsentrasi di Kabupaten Nabire. Wilayah itu mencatat 1.069 titik sekaligus menjadi daerah dengan temuan terbanyak di Papua Tengah.

Kondisi tersebut terjadi ketika curah hujan berada pada level sangat rendah. Minimnya sumber air dan mengeringnya vegetasi membuat lahan semakin mudah terbakar ketika terpicu api.

Baca Juga: Bukan Diet Instan, Ini 10 Langkah Menurunkan Berat Badan yang Terbukti Secara Ilmiah

"Kondisi saat ini, kita bisa lihat bahwa curah hujannya sangat rendah. Sumber air khususnya di wilayah Kabupaten Nabire sangat rendah sehingga potensi kebakaran sangat mudah terjadi manakala terpicu oleh api," kata Kepala BMKG Nabire Husain Kamadi dilansir Radar Lawu dari Antara. 

Mayoritas Hotspot Berada di Kategori Sedang

Dari total 1.923 titik panas, BMKG mengklasifikasikan 273 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.

Sebanyak 1.537 titik masuk kategori sedang. Sementara 113 titik lainnya memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Analisis curah hujan selama tiga dasarian terakhir juga menunjukkan kondisi sangat rendah. Situasi tersebut turut menekan ketersediaan sumber air di Kabupaten Nabire.

Baca Juga: Wakatobi, Surga Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia

Vegetasi dan lahan yang mengering akhirnya lebih rentan terbakar. Masyarakat diminta segera berkoordinasi dengan BPBD atau instansi terkait apabila menemukan titik api.

BMKG juga mengingatkan warga tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di semak-semak maupun lahan kering.

Asap Mulai Pengaruhi Kualitas Udara Nabire

Persoalan tidak berhenti pada potensi kebakaran hutan dan lahan. Banyaknya titik panas mulai dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas udara.

BMKG belum memiliki stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) di Papua Tengah sehingga pengukuran kualitas udara secara langsung belum dapat dilakukan.

Namun secara visual, kondisi udara di Nabire disebut telah mengalami penurunan.

"Kalau kita lihat secara visual, kondisi saat ini kualitas udaranya sudah sangat menurun. Dengan adanya titik panas, ini menjadi sumber asap di Nabire," ujar Husain.

Baca Juga: Hampir 600 Sekolah di Malaysia Tutup, Kabut Asap Karhutla Kalimantan Menyeberang Perbatasan

Asap Bisa Bertahan Selama Hujan Tak Turun

Partikel asap dan debu berpotensi bertahan di atmosfer apabila hujan tak kunjung turun. Kondisi ini sekaligus menambah risiko bagi kesehatan masyarakat.

"Selama tidak ada hujan di wilayah Kabupaten Nabire, asap akan selalu bertahan. Partikel-partikel udara ini akan terus bertahan di atmosfer," katanya.

Paparan partikel tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dengan curah hujan yang masih rendah, BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya api. Pelaporan sedini mungkin diperlukan agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.

Editor : Nur Wachid
Sumber : Antara
1.923 titik panas Kabupaten Nabire kebakaran hutan dan lahan Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) papua tengah