JAKARTA, Jawa Pos Radar Lawu – Dampak gempa NTT terus bertambah. Selain menelan 71 korban meninggal dan membuat puluhan ribu warga mengungsi, bencana tersebut juga mengakibatkan 173 rumah ibadah rusak di berbagai daerah Nusa Tenggara Timur.
Data BNPB hingga Selasa (18/8/2026) mencatat 173 rumah ibadah mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Salah satunya Gereja Stasi St. Paulus Satar Teu di Kabupaten Manggarai Timur yang dindingnya mengalami retakan.
Kerusakan fasilitas keagamaan tersebut menambah panjang dampak gempa yang sejak 15 Agustus 2026 melanda NTT.
Baca Juga: Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 71 Orang, Hampir 60 Ribu Warga Mengungsi
Di saat bersamaan, korban gempa NTT bertambah satu orang. Dengan tambahan korban dari Kabupaten Nagekeo tersebut, jumlah warga yang meninggal dunia hingga Rabu (19/8/2026) menjadi 71 orang.
"Jumlah korban bertambah satu orang menjadi 71 yaitu di Kabupaten Nagekeo. Kami dari pemerintah mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya keluarga kita, juga memastikan bantuan terus terdistribusi bagi masyarakat yang saat ini ada di tempat-tempat pengungsian maupun daerah terdampak," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
59.647 Warga Masih Bertahan di Pengungsian
Situasi di lapangan belum sepenuhnya pulih. BNPB mencatat 59.647 warga mengungsi di seluruh wilayah terdampak, dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Manggarai.
Sebagian masyarakat belum berani kembali karena rumah mereka rusak. Kekhawatiran terhadap gempa susulan juga membuat warga memilih bertahan di tempat yang dinilai lebih aman.
Penanganannya tidak sederhana. Pengungsi tersebar di banyak lokasi dan sebagian memilih mendirikan tempat pengungsian secara mandiri.
"Karena kami memang butuh waktu untuk mendata, juga akses ke desa-desa tidak mudah karena kondisi jalan yang labil. Namun penanganan pengungsi saat ini menjadi fokus utama kami karena sebagian masyarakat memilih tidak kembali ke rumah karena rusak dan khawatir akan adanya gempa susulan," ujar Berton.
Pemerintah memastikan makanan, air bersih, tenda, matras, selimut, kebutuhan sanitasi dan kebersihan serta kebutuhan kelompok rentan terus didistribusikan.
Baca Juga: KPK Kantongi Informasi Dugaan Korupsi BPJS TKA, Terungkap saat Usut Pemerasan Izin WNA
398 Ton Bantuan Dikirim ke Daerah Terdampak
Kondisi geografis Flores menjadi salah satu tantangan distribusi bantuan. Sejumlah titik terdampak sulit dijangkau, sementara akses menuju desa-desa juga terkendala kondisi jalan yang labil.
Hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB, distribusi melalui udara telah mencapai 165 ton. Secara keseluruhan, 398 ton bantuan dikirim sepanjang 15–18 Agustus 2026.
Jalur darat tetap menjadi moda utama. Pemerintah juga mengoptimalkan transportasi laut untuk menjangkau daerah yang membutuhkan pasokan logistik dalam jumlah besar.
Baca Juga: Tak Mengandung Kalori, Benarkah Sakarin Lebih Baik dari Gula
"Kami juga mengalami kendala yakni karakter geografis di Flores yang saat ini sulit dijangkau. Oleh karena itu bantuan disalurkan secara bertahap dan menyesuaikan kondisi akses dari kecamatan sampai ke titik pengungsian. Optimasi transportasi laut juga digunakan untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan dukungan logistik dalam jumlah yang cukup besar," katanya.
Dengan tambahan data kerusakan 173 rumah ibadah, penanganan gempa NTT tidak hanya berfokus pada korban dan pengungsi. Pemulihan fasilitas publik dan sosial juga menjadi bagian dari pekerjaan pascabencana yang harus ditangani.
Editor : Nur WachidSumber : Antara